Jaringan Pegiat Peta Hijau Indonesia

Memetakan Kawasan Bebas Rokok PDF Cetak E-mail
Ragam
Ditulis oleh Elanto Wijoyono   

 

Pernah baca atau dengar puisi karya Taufiq Ismail yang bertajuk Tuhan Sembilan Senti? Menarik, tetapi juga cukup memprihatinkan. Wacana tersebut sudah banyak digulirkan dan pada beberapa kasus menghasilkan kebijakan publik. Namun, kenyataan bahwa kondisi alam perokokan di Indonesia tidak banyak berubah sangatlah tampak.

Ide liar saja jika bagaimana dalam peta hijau bisa dimasukkan titik-titik tempat yang bebas rokok juga. Kita bisa petakan, kawasan atau ruang mana saja di sekitar kita yang bisa benar-benar bebas dari asap perokok. Kita tahu hampir setiap kita menoleh pasti akan melihat orang merokok atau minimal membaui asap rokok. Justru dengan sedikitnya titik yang benar-benar bebas rokok maka akan cukup menarik jika bisa dipetakan dalam sebuah peta hijau.

Aktivitas merokok pada beberapa sisi bisa dilihat dari hak asasi kesehatan, baik kesehatan si perokok maupun yang tidak merokok. Namun, seperti yang disampaikan oleh WHO, semangat yang ingin ditekankan di sini bukannya untuk mempermalukan atau melarang aktivitas merokok. Semangat untuk menyadarkan hak publik untuk mengambil sikap dan menentukan di mana tempat yang boleh untuk merokok dan yang tidak boleh untuk merokok adalah tujuannya. Bagaimana, apakah sudah terpikirkan pula ikon Green Map yang cocok untuk isu ini?

Terlampir di sini artikel WHO mengenai kebijakan larangan merokok di ruang publik dan naskah puisi Taufiq Ismail.

-

WHO urges smoking ban in public places

May 29, 2007 02:19:28 PM PST

The U.N. health agency on Tuesday issued its strongest policy recommendations yet for controlling tobacco use, urging all countries to ban smoking at indoor workplaces and in public buildings.

The evidence is clear. There is no safe level of exposure to secondhand tobacco smoke, said Dr. Margaret Chan, director-general of the World Health Organization.

Tobacco use is the world s leading cause of preventable death, accounting for 10 percent of adult fatalities, according to WHO. It is responsible for 5.4 million deaths each year, a figure that is expected to rise to 8.3 million by 2030, the agency says.

Increasing numbers of nonsmokers will also die unless governments take action, WHO said in its 50-page report. It said governments of both rich and poor countries should declare all public indoor places smoke-free, by passing laws and actively enforcing measures to ensure that everyone has a right to breathe clean air, free from tobacco smoke.

At least 200,000 workers die each year because of exposure to smoke at their offices and factories, according to the U.N. labor agency. The U.S. Environmental Protection Agency estimates that about 3,000 deaths from lung cancer each year occur among nonsmoking Americans.

This is not about shaming the smoker. This is not even about banning smoking, said Dr. Armando Peruga, who heads WHO s anti-tobacco campaign. This is about society taking decisions about whe re to smoke and where not to smoke.

He cited Ireland and Uruguay as governments that have successfully tackled smoki ng by creating and enforcing smoke-free environments. Legislation of the kind has proved popular among both smokers and nonsmokers, according to WHO, whose policy recommendations set broad goals for its 193 member states but are not legally binding.

Almost half the world s children ? some 700 million ? are exposed to air polluted by tobacco smoke, particularly at home, WHO says. The agency made its recommendations on the basis of new reports by the International Agency for Research on Cancer, the U.S. surgeon general and the California Environmental Protection Agency.

WHO said in 2005 that it had stopped hiring smokers, as part of what it termed its public lead in the fight against tobacco.

Tuhan Sembilan Senti

Oleh Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-
perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pin ggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ek- ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii atun bi mukayyafi al hawwa i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

***


blog comments powered by Disqus
 

15 Tahun Green Map


Galeri Foto

Open Green Map

Green Map Atlas 2004

Green Map Atlas 2004

Green Map Impacts


GreenMap.Org


Pemeta Hijau

You are here  : Home Ragam Memetakan Kawasan Bebas Rokok