Jaringan Pegiat Peta Hijau Indonesia

Selamat Datang di Universitas Peta Hijau! PDF Cetak E-mail
Ragam
Ditulis oleh Hani Raihana   
Dari Refleksi Menuju Strategi

 

Tiga hari saja, Jumat-Minggu (17-19 Juli 2009), kami, para pegiat peta hijau daerah bertemu untuk membahas, merumuskan, dan menikmati proses bersama tentang Green Map. Anda yang belum pernah dengar, Green Map atau Peta Hijau adalah kelompok yang berupaya mengembangkan pendidikan pengenalan lingkungan melalui langkah pemetaan. Beberapa kali diangkat di media massa, Green Map seolah menjadi komunitas yang  hangat muncul saat demam global warming melanda dunia. Padahal tidak. Peta Hijau Indonesia muncul di awal dekade ini dengan penggagas Marco Kusumawijaya, yang kemudian menjalar ke Yogyakarta dan dikembangkan oleh Rohman Yuliawan dan kawan-kawan. Memang setelah histeria global warming, setidaknya Peta Hijau Yogyakarta kerap kali diundang berpartisipasi, mulai dari kampus, pemerintah, masyarakat, sekolah, hingga on air di radio. Hingga saat ini puluhan Peta Hijau telah dihasilkan, dan puluhan kawasan telah terpetakan oleh pemeta hijau di seluruh Indonesia. Konsep ini mirip yang dikatakan Rinto Andriyono (IDEA), fasilitator salah satu sesi pertemuan, bahwa Peta Hijau berkembang dengan pola bintang laut. Saat satu kakinya lepas (pergi meninggalkan tempat ia ikut dalam komunitas Peta Hijau), kemudian orang tersebut mampu menginisiasi dan mengembangkan Peta Hijau di daerah barunya. Mengapa mau? Padahal, tidak ada kewajiban dan job description khusus yang tersemat pada yang bersangkutan?


Simpul Berbagai Kelompok Kepentingan

Peta Hijau (sesungguhnya) merupakan gerakan sosial yang merupakan simpul dari  tarikan swasta, pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Peta Hijau bisa menjadi simpul berbagai kelompok yang ‘bermain’ dalam suatu masyarakat. Kelompok-kelompok tersebut bisa jadi berpotensi merusak, hidup dalam stagnansi, atau berubah sesuai tarikan zaman dan politik kepentingan. Mengapa demikian? Karena Peta Hijau dengan 9 rangkaian proses pemetaannya, sesungguhnya melakukan ajakan pada masyarakat untuk melakukan aksi/aktivitas yang hasil dari aktivitas tersebut bisa jadi konkret dan abstrak yang bisa dinikmati dan dimanfaatkan dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Jika biasanya tools pemberdayaan dan penguatan masyarakat dilakukan dengan program anak asuh, kredit lunak, pengobatan gratis, pembuatan film indie dan radio komunitas, sistem bagi hasil dalam gaduhan sapi/kambing, kerajinan, dan pemberdayaan ibu-ibu. Peta Hijau melakukannya dengan pemetaan. Dalam memeta, Peta Hijau tentu menggandeng pemerintah lokal atau lembaga yang hidup di lingkungan terpeta atau lembaga yang memang perhatian pada isu yang diangkat. Sebagai gambaran, Peta Hijau memeta kawasan dengan tema tertentu atau memeta seluruh potensi dan ancaman di kawasan tersebut. Kesemua temuan dipaparkan dengan terlebih dahulu berpatokan pada prinsip-prinsip Peta Hijau; keberpihakan pada kelestarian unsur alam, sosial dan budaya, serta keberlanjutannya.

Temuan lapangan dibahas dengan panduan kriteria ikon Peta Hijau dan akan dipertimbangkan bersama; layakkah tempat sumber polusi, tempat pembuangan sampah, atau ruang kegiatan komunitas ditampilkan dalam Green Map? Apakah perlu? Apakah penting? Jika memang perlu ditampilkan dalam peta Green Map, lalu ikon apa yang lebih tepat mewakili tempat tersebut? (Ini tentu akan mempengaruhi pembaca dan pengguna peta dalam memahami kewilayahan) Wow! Sekali lagi, titik/site yang berikon dirasa perlu ditampilkan dalam peta Green Map bukan lantaran like and dislike. Namun,  keunikannya, apakah memang memiliki kecenderungan, baik dalam posisi positif atau justru negatif? Ikon ini nantinya menjadi pengingat dan peringatan akan kondisi suatu tempat. Jika memang sebuah tempat memiliki potensi buruk maka dipasanglah ikon bahaya (lihat ikonisasi dan kriteria ikon Peta Hijau). Bisa jadi penduduk/masyarakat yang bertempat di tempat tersebut akan tergugah rasa malunya karena seluruh dunia mengetahui betapa bahaya atau buruknya tempat itu. Dan ini memang yang diharapkan Peta Hijau, sehingga muncul kesadaran untuk memperbaiki kondisinya menjadi lebih baik. Tak berlebihan kiranya jika saya mengatakan bahwa Peta Hijau adalah tools of community empowerment yang langsung menyerang nurani manusia.

Peta Hijau vs NGO

Peta Hijau bukan sekedar peta (map). Beberapa orang bertanya, apa beda Peta Hijau dengan peta buatan Gunther W. Holtorf, atau apa bedanya Peta Hijau dengan peta kuliner dan peta kawasan wisata yang beredar di pasaran? Beda, jelas beda. Anda yang percaya pada kekuatan proses, Peta Hijau dibuat dengan misi partisipasi, artinya sang peta dibuat oleh kelompok yang memang tinggal dan berdiam di lokasi yang terpetakan bersama relawan Peta Hijau. Karena apa? Karena orang yang tinggal adalah pihak yang mengetahui dengan baik bagaimana kondisi wilayahnya. Oleh karena terbiasa dalam ritme hidup, terbiasa melihat hal yang sama, maka lingkungan bisa jadi tampak biasa, wajar, dan sama saja kondisinya, sehingga tidak perlu lagi diperhatikan atau diperbaiki,  kecuali sudah terjadi kerusakan lingkungan, kecelakaan, atau peristiwa yang merugikan lainnya. Dari sudut pandang ini, maka Peta Hijau bisa menjadi alat bantu untuk analisis SWOT suatu wilayah.

Partisipasi.. What is participation? Soal partisipasi selalu hangat dibahas. Dari mana partisipasi, mengapa perlu ada pertisipasi, siapa pelakunya, apa yang dilakukan, dan apa keluarannya? Bagi para pegiat masyarakat, lapangan/masyarakat adalah daerah yang mesti ‘ditaklukkan’ demi berjalannya suatu program - projek. Target pemenuhan sasaran menjadi demikian penting, karena jika target tidak tercapai, maka projek/program gagal, pelaporan negatif, akibatnya aliran dana tidak berjalan, dan tidak dipercaya oleh pemberi dana. Sementara itu, partisipasi dalam Peta Hijau dilakukan melalui partisipasi dari pegiatnya, yakni masyarakat yang tinggal di lokasi, dan sekelompok orang/individu yang melakukan ‘provokasi’ agar dilakukan pemetaan kawasan. Dengan demikian, partisipasi dilakukan dengan menjadi pemeta, menjadi sumber data, menjadi pendukung peta. Dalam proses ini, Peta Hijau menjadi nothing to loose. Paling penting adalah tujuan mengenal lingkungan terus diupayakan supaya masyarakat sadar dengan potensi yang dimilikinya, untuk kemudian mengembangkan yang positif dan meminimalisasi yang negatif. Oleh karenanya, ada peta yang terpublikasikan umum dan ada pula peta yang sengaja tidak dipublikasikan karena menggambarkan kondisi dan kekuatan wilayah. Tidak ada yang salah dengan itu, dan program tetap berhasil karena proses yang dilakukan dengan masyarakat menjadi titik tolak masyarakat untuk mengambil tindakan atas proses pemetaan dan hasil peta.

Peta Hijau memiliki unit usaha sendiri, yang ini sesungguhnya sangat potensial jika dikelola dengan baik, yakni merchandise peta, kaos, pin, topi, tas, atau lainnya, dan juga jelajah daerah terpeta bersama pegiat Peta Hijau, masyarakat sekitar, maupun pakar. Ini menjadikan Peta Hijau sebagai kelompok yang tidak tergantung pada penyandang dana/donor, meskipun dukungan tersebut juga perlu. Namun, ada atau tidak ada funding, pemetaan terus berjalan. Tak salah kiranya jika M. Hatta (28), pegiat Peta Hijau Borobudur berkata bahwa Peta Hijau seperti “agama”, ada militansi para pegiatnya untuk tetap berada dan berpartisipasi di dalamnya. Militansi ini bisa muncul karena tertarik dengan isu, kepentingan studi, kebutuhan eksistensi, merasa sebagai bagian dari tindakan positif untuk lingkungan, hingga refreshing yang menyenangkan untuk mengisi waktu luang. Saya rasa pun para pegiat Peta Hijau muncul bukan karena alasan finansial, tapi lebih pada nilai yang dipercaya untuk keberlanjutan bumi. Satu hal lagi yang membedakan Peta Hijau dengan NGO (non-government organization) kebanyakan: simaklah gaya bicara para pegiat Peta Hijau, dan bandingkan dengan gaya bicara aktivis NGO yang sedang bicara tentang isu yang diperjuangkannya. Akan berbeda ! Trust me...

Peta Hijau dan Kuliah

Jika Anda merancang silabus pembelajaran, maka Anda akan tahu kompetensi, indikator, aktivitas, alat yang dibutuhkan agar suatu materi pembelajaran dapat dicerna dan dicandra mahasiswa, sehingga berguna kelak di masa depannya (termasuk untuk ijazah dan mencari kerja). Di Peta Hijau -yang tidak mengeluarkan ijazah dan memberlakukan sistem kredit semester (SKS)- sesungguhnya para pemeta menjalani mata kuliah (pula yang ini tidak selalu disadari pemeta). Bahkan lebih kompleks dan utuh daripada yang didapatkan di bangku ruang kuliah. Obrolan ini tercetus saat saya, Joyo (Elanto Wijoyono.pen), dan Inu (Kristanti Wisnu) berkelakar tentang Peta Hijau.

Ya, untuk berPeta Hijau, untuk terjun ke lapangan, kita perlu tahu struktur sosial masyarakat. Karena apa? Proses memeta akan tergantung locus tempatan yang secara integral memiliki struktur sosial, pola pemikiran, budaya, dan cara berpikir masyarakat. Jadi, saat memeta, kita belajar antropologi, sosiologi, arkeologi, sejarah, hingga komunikasi, setidaknya untuk pendekatan humaniora. Sementara, dalam hal eksak, pemeta perlu tahu tentang geografi, geologi, biologi, arsitektur, dan planologi (kebutuhan ilmu akan bergerak mengikuti jenis tema/kawasan yang terpetakan). Satu yang tak kalah penting dan selalu dibutuhkan: desain. Alat untuk mengkampanyekan Peta Hijau adalah dalam kemasan desain yang menarik. Selain itu, kegiatan kuliah Peta Hijau akan banyak dilakukan di lapangan yang berhadapan dan berinteraksi dengan masyarakat dan media. Memang saat itu kami bertiga bercanda, tetapi tak salah kiranya beberapa ilmu dari jurusan tersebut di atas patut menjadi dasar pengetahuan dan pemahaman bagi pegiat Peta Hijau.

Sistem penilaian (kalau memang perlu dinilai) bisa divariasikan dengan pola KKN (Kuliah Kerja Nyata), tapi tidak dibebani program-program. Ya, jika Anda melakukan proses Peta Hijau secara keseluruhan (9 langkah taktis peta hijau) maka pekerjaan memeta bisa jadi lebih berat daripada kuliah di kampus atau kerja di NGO. Dan satu lagi yang lebih penting, bahwa kuliah tersebut berbasis pada ketertarikan (bukan karena paksaan), yang mengarah pada pembentukan penyadaran (conscience), yang dilakukan dengan fun (menyenangkan). Jika Anda tidak merasa senang di Green Map, tidak ada yang memaksa Anda. Jika Anda belajar tentang pendidikan, ini merupakan sebuah rangkaian proses pendidikan yang sesungguhnya, melibatkan kognisi, afeksi, dan psikomotor, ketika peserta didik merasa menikmati proses penyadaran. Ehm, apakah saya terlalu berlebihan?

Well, itulah kiranya sedikit refleksi saya dari Pertemuan Nasional Peta Hijau 2009 yang baru lalu di Desa Borobudur. Hal yang pasti, proud to be a Green Mapmaker. Keluaran jelas, proses berjalan, dan hasil  imateri-materi dinikmati. Salam!

Hani Raihana, relawan Peta Hijau Yogyakarta


Yes, we are Green Map Indonesia!


blog comments powered by Disqus
 

15 Tahun Green Map


Galeri Foto

Open Green Map

OpenGreenMap

Green Map Atlas 2004

Green Map Atlas 2004

Green Map Impacts


GreenMap.Org


Pemeta Hijau

You are here  : Home Ragam Selamat Datang di Universitas Peta Hijau!