Jaringan Pegiat Peta Hijau Indonesia

Anak Sungai PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Bali Gadang Community   
Minggu, 02 Mei 2010 22:30

Pegiat Peta Hijau SMA di Indonesia

  Anak Sungai Sedang BeraksiAnak Sungai Sedang Beraksi  Tim Green Map Mempresentasikan Hasil Kegiatan

“Anak Sungai”, begitu anggota Tim Green Map senang disebut.  Tak perlu menjadi sosok anak sungai sebenarnya (tinggal di pinggir sungai-red), anggota Green Map Team ini telah mengenali seluk-beluk suatu sungai dalam sehari saja.

Kegiatan “anak sungai” tak hanya dilakukan dalam ruangan, tapi juga di lapangan. Seperti pagi itu, 14 Februari 2010 anggota Tim Green Map akan praktik langsung membuat Green Map Sungai Ayung. Green Map (Peta Hijau) merupakan peta yang dibuat dan dilengkapi tanda (ikon) untuk membantu pemakainya mengenali lebih lengkap kenyataan lingkungan ekologis dan budaya di suatu kawasan, terutama perkotaan.  Proses penandaan memanfaatkan 170 ikon Sistem Peta Hijau (Green Map System Icons) yang dikembangkan jaringan global Green Map System (www.greenmap.org).




Berbekal beberapa lembar kertas dan alat tulis, “anak sungai” menuju Sungai Ayung di sekitar Jl. By Pass Ngurah Rai, tepatnya di Desa Kuwum, Banjar Kertapura, Denpasar. Pemukiman kumuh terpampang jelas di hadapan para pembuat peta hijau saat tiba di lokasi. Sungai Ayung sendiri yang melintasi daerah itu nampak keruh dan banyak sampah ikut terbawa di dalamnya. Pemukiamn yang nampak seperti rumah-rumah kolong jembatan di tengah kota metropolitan, Jakarta.  Ternyata Bali yang terkenal sebagai tempat pariwisata mempunyai versi kecilnya.

Tak mau terbuai terlalu lama dengan kondisi di lapangan, “anak sungai” segera mencari berbagai informasi untuk melengkapi peta hijau yang akan mereka buat. Anggota tim dibagi menjadi beberapa kelompok, termasuk kelompok yang mewawancarai warga. Sebagian besar warga di sana yang berpenghasilan dari kerja serabutan, mulanya tidak terlalu menanggapi pertanyaan yang dilontarkan “anak sungai”.  “Banyak yang hanya menjawab dengan satu kalimat: saya tidak tahu apa-apa atau saya bukan penduduk asli disini”, ungkap Yogi Atmajaya, koordinator Tim Green Map.  Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi “anak sungai”.  Mereka harus dapat mengumpulkan data yang akurat dan lengkap sementara yang mereka hadapi adalah orang-orang yang seolah menutup-nutupi masalah sosial di sana.

Setelah beberapa jam wawancara, akhirnya diperoleh informasi penyebab tercemarnya Sungai Ayung oleh sampah. “Tercemarnya Sungai Ayung juga disebabkan oleh kesalahan penduduk di lingkungan ini. Warga cenderung membuang sampah ke sungai karena tidak tahu cara mengolah sampah rumah tangga”, ungkap Maharani salah seorang anggota Green Map.

“Namun, air sungai tetap dimanfaatkan warga untuk MCK (Mandi Cuci Kakus)”, tambah Rani.

Ada yang mewancarai warga, ada juga yang getol menggambar sketsa sungai.  Mulai dari keadaan alamnya hingga aktivitas-aktivitas warga seperti kegiatan mencuci dan buang air di sungai.  Menambahkan plot pada peta juga dilakukan beberapa orang.  Plot adalah titik yang dibuat untuk menandai lokasi suatu objek yang akan ditentukan ikonnya saat rapat ikon.

Istilah rapat ikon digunakan untuk rapat dimana anggota Tim Green Map berdiskusi mengenai ikon yang tepat pada suatu lokasi dengan didampingi Ferry dan Inu, dua orang Pembina yang diundang langsung dari Yogyakarta.  “Ikon yang kami gunakan adalah ikon version 3 (www.greenmap.org/icons)”, ungkap Inu.  Dalam menentukan ikon yang tepat, ada beberapa kualifikasi untuk objek di masing-masing ikon.  Sesuai atau tidak, hal itu dibicarakan bersama-sama dalam rapat.  Kadang suatu objek dapat memiliki lebih dari satu ikon yang cocok.  Apabila terdapat objek yang tidak lolos untuk kualifikasi pada ikon manapun, pembuat peta dapat menciptakan ikon sendiri yang disebut ikon lokal (local icon).

Sungai Ayung dipilih karena merupakan salah satu sungai besar di Bali. “Sebelum pelatihan Green Map sudah ada pelatihan Identifikasi Flora & Fauna di sungai Ayung. Jadi kami mengambil lokasi yang sama seperti tim lain agar hasilnya bisa kita diskusikan dengan tim lain”, ungkap Ferry pembina Green Map. Hal ini juga diamini oleh Catur Yudha, “Setiap kegiatan dari program Sungaiku Bersahabat Kembali saling berhubungan, sehingga hasil akhir yang diperoleh bisa semakin lengkap dengan menggabungkan data dari beberapa tim”, ungkap koordinator PPLH Bali ini.

Peta Hijau di Indonesia yang dilakoni kalangan putih abu-abu (siswa SMA-red) baru pertama kali dilakukan.  “Sebelumnya keberhasilan anak-anak Sekolah Dasar di Kuba dalam menciptakan sebuah Peta Hijau berbahan dasar kapur dan ikon yang tersusun atas campuran tanah liat, memotivasi anggota tim peta hijau PPLH Bali untuk lebih kreatif dalam menggagas suatu ide baru dalam hal iconing”, ungkap Ferry.

Proyek Peta Hijau Sungai pada Program “Sungaiku Bersahabat Kembali” di PPLH Bali ini melibatkan pelajar SMA-SMK di Denpasar. “Melalui proses keterlibatan itu diharapkan dapat membuka cakrawala dan orientasi baru ke arah perkembangan kota atau kawasan sungai khususnya yang lebih arif, tertata dan berkelanjutan”, ujar Catur Yudha. Semoga!! (im,sa)

*tulisan ini telah dimuat di blog Bali Gadang Community pada tanggal 28 Maret 2010 dengan judul Anak Sungai; Pelopor Peta Hijau Sungai di Indonesia.


blog comments powered by Disqus
LAST_UPDATED2
 

15 Tahun Green Map


Galeri Foto

Open Green Map

OpenGreenMap

Green Map Atlas 2004

Green Map Atlas 2004

Green Map Impacts


GreenMap.Org


Pemeta Hijau

You are here  : Home Peta Hijau di Indonesia Sanur Anak Sungai