Jaringan Pegiat Peta Hijau Indonesia

Bermain Peran di Ranah Tata Niaga Pertanian PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Kristanti Wisnu Aji Wardani   
Senin, 31 Agustus 2009 05:57

Metode Alternatif Pengenalan Peta Hijau

 

RI Terjebak Impor Pangan, begitu tajuk utama pada harian KOMPAS edisi Senin, 24 Agustus 2009. Disebutkan di dalamnya beberapa komoditas yang harus diimpor oleh Indonesia antara lain gula, daging sapi, garam, susu, kedelai, dan gandum. Ironis untuk sebuah negara kepulauan yang bahkan harus mengimpor garam untuk memenuhi kebutuhan nasionalnya. Fenomena ini juga digambarkan dalam kartun Sukribo dengan judul “..Korban Swasembada...” (KOMPAS edisi Minggu, 30 Agustus 2009). Hmmm, kira-kira komoditas apa lagi yang harus diimpor oleh negara yang sering disebut mempunyai kekayaan alam yang melimpah ini?


Informasi mengenai kondisi ketahanan pangan Indonesia seperti itu menjadi gagasan bagi para mahasiswa di Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang untuk mengangkat isu ketahanan pangan, yang erat kaitannya dengan dunia pertanian itu, dalam kaitannya dengan sosok mahasiswa di dalamnya. Bagaimanakah posisi atau peran mahasiswa sebagai agen perubahan dalam sistem pertanian berkelanjutan?


Mengusung Isu ke Benak Mahasiswa

Bidang pertanian ternyata tak sesederhana yang dibayangkan. Tak semudah menyuapkan nasi bersama lauk pauk ke dalam mulut. Di dalamnya tersimpan kompleksitas yang tinggi. Apalagi jika sudah berbicara tentang sistem pertanian. Mau tidak mau kita harus menyusun daftar faktor-faktor yang bermain di dalamnya. Ketika semua faktor sudah didaftar, maka akan muncul beragam persoalan. Hal itu pun menjadi tantangan yang cukup menarik bagi Tim Peta Hijau Yogyakarta yang pada hari Jumat, 21 Agustus 2009 lalu didaulat untuk memandu sebuah sesi presentasi terkait isu di atas di acara pekan orientasi mahasiswa baru di Fakultas Pertanian Unibraw. Tujuannya jelas, membantu mahasiswa baru untuk bisa lebih mengenal isu pertanian di Indonesia dan selanjutnya menampilkan peta hijau sebagai salah satu metode alternatif untuk mengungkap isu tersebut secara lebih mendalam di lapangan.

Mengemas suatu sistem yang rumit ke dalam suatu struktur informasi yang sederhana bukanlah hal yang mudah dilakukan. Ketika kerumitan semakin menganyam benang-benangnya hingga terkesan kusut, di situlah kami putuskan untuk mengangkat tema sederhana, tetapi mengena, dalam sebuah konsep presentasi interaktif. Tema tata niaga pertanian dipilih dan disiapkan untuk disimulasikan oleh para peserta; mahasiswa baru Fakultas Pertanian Unibraw Angkatan 2009. Tujuannya tak muluk-muluk, hanya ingin mengajak para mahasiswa baru itu dapat merasakan berada dan berperan dalam sistem pertanian di Indonesia.

Simulasi dilakukan melalui cara bermain peran (role play). Sebagian dari peserta akan memerankan pihak-pihak yang bergiat di dalam sistem tata niaga pertanian. Sementara, sebagian lainnya akan menjadi pemantau dari proses tata niaga itu. Muara dari semua proses yang telah dilakukan oleh seluruh peserta adalah satu kesimpulan mengenai sistem tata niaga pertanian yang terjadi di Indonesia saat ini. Pada akhirnya peserta digiring kepada pertanyaan, apakah sistem pertanian di Indonesia sudah merupakan sistem pertanian yang adil? Apakah sistem pertanian di Indonesia adalah sistem pertanian yang berkelanjutan?


Simulasi bersama 500 Mahasiswa

Simulasi berbentuk role play ini menjadi langkah apik dalam sebuah sesi presentasi Peta Hijau. Biasanya, lokakarya atau pelatihan peta hijau diisi dengan presentasi lalu simulasi pemetaan. Oleh karena terbatasnya waktu presentasi maka kali ini sengaja dibuat sedikit berbeda dengan mengadopsi praktik simulasi yang jamak digunakan dalam bidang politik. Sebanyak 500 mahasiswa dibagi ke dalam empat kelas sama rata. Setiap kelas dipandu oleh dua fasilitator dari Tim Peta Hijau Yogyakarta selama 1,5 jam. Dari hasil simulasi ini kemudian dapat dilihat peran Peta Hijau dalam membangun sebuah sistem pertanian yang berkelanjutan.

Dalam prakteknya, role play mendapat sambutan beragam dari tiap peserta. Ada yang asyik menjalankan permainan, tapi tak sedikit pula –yang mungkin karena kelelahan- yang kurang berkonsentrasi. Para peserta diminta untuk memerankan pihak-pihak dalam sebuah sistem tata niaga pertanian, dengan panduan yang telah diberikan. Namun, kebanyakan melakukan improvisasi dari panduan yang telah kami berikan. Tukar-menukar, pinjam meminjam, tawar menawar, dan jual beli mewarnai setiap transaksi dalam permainan ini. Hasil akhir menunjukkan ada beberapa aktor yang mengalami penambahan aset. Adapula yang asetnya tetap atau bahkan berkurang. Hasilnya pun tampak, para pemilik modal adalah golongan yang diuntungkan karena mempunyai “kekuasaan” untuk mengendalikan, sedangkan yang tidak mempunyai modal dan akses kuasa terhadap sumberdaya mau tak mau akan mengikuti aturan main yang sudah berlaku.


Menegaskan Peran Mahasiswa untuk Masyarakat

Para peserta sebagai mahasiswa dalam kehidupan nyata kemudian dituntut untuk peka mengidentifikasi kondisi yang terjadi dan dapat membuat perubahan positif terhadap sistem yang sudah ada. Membawa perubahan tentunya tak dapat dilakukan sendiri. Diperlukan jalinan relasi antar pihak yang bermain dalam sebuah sistem pertanian. Disinilah Peta Hijau muncul untuk menawarkan metode dalam upaya menuju sistem pertanian yang lebih baik. Mahasiswa dapat menjadi agen yang menggunakan metode Peta Hijau untuk memetakan jalinan relasi para pihak dan posisi serta lalu lintas aset/sumberdaya.

Dengan metode Peta Hijau, mahasiswa akan mengajak masyarakat untuk mengenali dan mendaftar aset-aset sumberdaya yang ada. Semua persoalan yang terjadi dalam hal produksi dan distribusi pun tak luput dari kegiatan pemetaan Peta Hijau. Pada dasarnya Peta Hijau tak hanya memetakan yang tangible (teraga) saja, tetapi lebih dalam juga memetakan yang intangible (tak teraga). Tak hanya memetakan di mana letak sawah, persediaan air, persediaan pupuk, dan persediaan bibit, tetapi juga merekam dan memetakan bagaimana mekanisme dan kualitas hubungan antar pihak dalam sistem itu. Dengan keunggulan pendekatan partisipatif atau partisipatorisnya, diharapkan mahasiswa dapat dengan mudah menggunakan metode Peta Hijau untuk membantu para petani memutuskan tindakan secara lebih terencana.

Sebuah proses pemetaan berbasis Peta Hijau -di bidang pertanian- bukan tidak mungkin akan mampu melahirkan suatu langkah awal menuju sistem pertanian yang lebih adil dan berkelanjutan. Sebagai langkah tindak lanjut atas gagasan itu, sebuah sesi lokalatih Peta Hijau akan digelar usai bulan Ramadhan tahun ini di Malang. Sebuah langkah taktis membawa kembali peran mahasiswa sebagai agen perubahan sosial akan kembali dilakukan.(*)


Fasilitator Peta Hijau:

  • Ayu Dipta Kirana
  • Elanto Wijoyono
  • Ferry Agusta
  • Kristanti Wisnu Aji Wardani
  • Lucia Nini Purwajati
  • Sita Sari Trikusumawardhani
  • Thomas Widiyanto



blog comments powered by Disqus
LAST_UPDATED2
 

15 Tahun Green Map


Galeri Foto

Open Green Map

OpenGreenMap

Green Map Atlas 2004

Green Map Atlas 2004

Green Map Impacts


Pemeta Hijau

You are here  : Home Peta Hijau di Indonesia Malang Bermain Peran di Ranah Tata Niaga Pertanian