| Satu Tapak ke Tahap Kedua |
|
|
|
| Ditulis oleh Elanto Wijoyono |
| Minggu, 14 Juni 2009 00:30 |
|
Borobudur dalam Peta Hijau Dua anak muda mengawali acara dengan presentasi dan diskusi mengenai Borobudur yang sudah banyak diulas beragam pakar sedunia. Borobudur sebagai monumen Buddhis tunggal terbesar jelas memukau banyak pihak. Namun, ada sudut pandang berbeda yang dibawa keduanya, ketika mengajak hadirin untuk lebih dalam menjenguk saujana yang hidup disekelilingnya. Bukan untuk melupakan Candi Borobudur, tetapi justru untuk mengajak mengingat kembali bahwa ada desa bernama Desa Borobudur, yang sangat mungkin setua usianya dengan kawasan itu yang saat ini justru makin terlupakan. ![]() Kristanti Wisnu Aji Wardhani, akrab disapa Inu, mengulas latar belakang kegiatan yang telah digagas sejak tahun 2005 silam ini. Rencana memulai lagi pemetaan potensi kawasan Borobudur bersama anak-anak sekolah di Borobudur pada tahun 2008 justru "dibelokkan" oleh sejumlah aktivis desa atas dukungan Kepala Desa Borobudur. Hasilnya, proses pemetahijauan Desa Borobudur bersama para pemuda desa setempat yang hasilnya diluncurkan pada hari Senin, 8 Juni 2009 di Dusun Ngaran I, Desa Borobudur. Hatta, pemuda desa setempat yang mengoordinasikan sejumlah pemuda desa untuk turut dalam kegiatan ini, menempatkan langkah pemetaan ini sebagai bekal penting bagi mereka untuk merencanakan apa yang bisa dilakukan untuk desa. Menurut pemandu wisata di Candi Borobudur ini, ketika pemerintah pusat melalui beberapa departemennya mulai datang lagi dengan beragam konsep masterplan dan rencana pengembangan Kawasan Strategis Nasional di Borobudur, masyarakat Desa Borobudur pun berhak membuat masterplan ala rakyat melalui peta hijau ini. Langkah bersama untuk desa Dikerjakan secara bersama oleh sejumlah pemuda Desa Borobudur dibantu oleh relawan dari komunitas Peta Hijau Yogyakarta, Peta Hijau Desa Borobudur dapat terbit sejak dimulai pada Desember 2008. Dalam waktu yang sama, tim dari Yogyakarta memetahijaukan pula kawasan Taman Wisata Candi Borobudur. Kedua peta itu ditinjau dan disunting bersama di rumah Bapak Maladi, Kepala Desa Borobudur, sebelum akhirnya didesain sebagai satu paket peta hijau. Peta Hijau Desa Borobudur dibentuk sebagai sebuah booklet kecil setebal 104 halaman yang memuat profil dua puluh dusun di Desa Borobudur. Sementara, Peta Hijau Taman Wisata Candi Borobudur dibentuk sebagai sebuah lembar peta terpisah yang disisipkan ke dalam booklet; menyimbolkan bahwa kawasan taman wisata itu dulunya adalah bagian dari Desa Borobudur dan saat ini pun tetap berada di tengah wilayah Desa Borobudur yang tak terpisahkan. ![]() Bob Zuber, penasihat senior Green Map System asal New York yang hadir dalam acara peluncuran itu, menyebutkan adalah gagasan tepat untuk menampilkan sampul Peta Hijau ini dengan sebuah wimba arca Buddha yang menghadap ke latar belakang. Dengan demikian, mata khalayah akan disadarkan bahwa para Dhyanni Buddha Borobudur selama ini memandang ke saujana yang melingkupi monumen simbol tiga alam tersebut. Sementara, pengunjung Borobudur lebih banyak yang bernafsu mendaki tubuh candi langsung ke puncak, memotong jalan menuju nirwana tanpa upaya melingkari jalan ritual sebagai upaya persiapan yang seharusnya ditempuh. Pun di puncak, pengunjung hanya disibukkan dengan gairah menyentuh "kuntobimo" yang mitosnya dibuat oleh pemandu wisata tak bertanggung jawab dan dipercaya, bahkan oleh para guru yang mengantarkan siswanya berwisata di Borobudur. Bersiap mencapai tujuan utama Peluncuran di awal Juni lalu di kompleks Play Group Bhumi Indria Borobudur itu adalah satu langkah awal. Bukan menjadi tujuan utama terbit dan tercetaknya paket peta hijau tersebut. Namun, terbangunnya dialog dan meluasnya jaringan intelektual di lingkungan desa itulah yang lebih dimaknai sebagai tujuan. Ketika masyarakat mampu mengorganisasikan dirinya untuk menentukan masa depannya sendiri secara baik maka, menurut Marco Kusumawijaya, pemerintah pusat pun harus menghargainya. Kawasan yang sangat bernilai ini harus kembali dihargai. Namun, bukannya dengan memaksanya bekerja sebagai mesin pencetak uang, melainkan dengan menjadikan potensi-potensi kebaikan yang ada di seluruh pelosok kawasan itu dapat terus hidup. Borobudur tidak hanya candi itu semata, tetapi juga kehidupan yang melingkupinya, yang menjadikan Borobudur tidak mati. ![]() Mengingat masih banyak pekerjaan rumah yang harus dijalankan, tim Peta Hijau Mandala Borobudur dalam bulan ini sedang berjuang untuk melakukan penggalangan dana. Dana yang coba didapatkan dari sponsor iklan dan donatur itu akan digunakan untuk menjalankan kegiatan yang akan dilangsungkan di setiap dusun selama satu tahun ke depan. Sosialisasi data peta hijau dan langkah-langkah pemanfaatan data adalah satu paket kegiatan yang akan digelar bersama Pemerintah Desa Borobudur dan pemuda desa setempat. Pengayaan data akan jadi langkah yang juga dilakukan, sehingga pada tahun depan diharapkan Desa Borobudur akan memiliki basis data kualitatif dan kuantitatif yang cukup baik. Ragam data yang dikumpulkan, ditinjau, dan dibicarakan bersama itulah yang nanti akan terus digunakan sebagai bekal pijakan dalam penentuan keputusan pembangunan kawasan perdesaan. Jadi, mohon jangan heran, ketika nanti tim pemerintah pusat kembali berdatangan untuk mendiskusikan masterplan dan sebagainya, masyarakat Desa Borobudur mampu tampil makin matang dan makin canggih.(*) Album foto kegiatan sila lihat di sini. ![]() |
| LAST_UPDATED2 |