| Semangat Berbagi untuk Membangun Desa |
|
|
|
| Ditulis oleh Elanto Wijoyono |
| Selasa, 13 Januari 2009 02:31 |
|
Menggali Potensi Borobudur melalui Peta Hijau "Monggo, silakan, tiga kamar sudah siap," sambut Mas Panji ramah kepada kami, teman-temannya yang datang ke rumahnya untuk bersiap survei desa kembali pada hari Minggu (11/01) lalu. Kami tidak heran karena mengetahui bahwa seloroh itu memang untuk mempromosikan rumah tersebut yang akan segera dibuka sebagai homestay, bagi wisatawan yang ingin menginap dan berwisata di Desa Borobudur. Hatta, Koordinator Peta Hijau Desa Borobudur, yang sehari-hari bergiat sebagai pemandu wisata di kawasan Borobudur cukup sigap. Salah satu temannya yang akan berkunjung dan tinggal beberapa hari di Borobudur ditawarinya dengan akomodasi homestay tersebut. Dan, gayung pun bersambutlah. Survei pekan lalu itu kemudian diawali dengan mengunjungi beberapa tokoh senior di Dusun Bumisegoro, sebuah dusun di sebelah selatan Candi Borobudur, untuk mengetahui sejarah dan perkembangan desa langsung dari pelakunya. Kisah-kisah, mulai dari pengalaman pribadi, pendapat atas perubahan, hingga seputar mitos dan legenda didapatkan oleh tim Peta Hijau Desa Borobudur. Hal itu juga terjadi ketika pada minggu pertama Januari lalu melakukan survei di wilayah Dusun Gopalan dan Ngaran. Usai istirahat dan makan siang, tim mengunjungi rumah seorang perajin, tak jauh dari rumah Kepala Dusun Bumisegoro. Purwanto, perajin kayu, yang pernah bekerja sebagai pekerja teknis selama 11 tahun pada masa pemugaran Candi Borobudur pada dekade 1970-an itu membuat kerajinan kayu di waktu luangnya. Sehari-hari dia bekerja pula di sebuah artshop perak di dekat Candi Mendut. Hatta sekali lagi tanggap dengan potensi itu dan sempat menginformasikan keberadaan perajin kayu satu-satunya di dusun itu kepada rekan-rekannya. Tampaknya dapat tanggapan positif; saat itu juga. Jelajah pemetaan kemudian melalui wilayah pinggir dusun untuk melihat beberapa sumber mata air yang masih tersisa dan berfungsi baik. Satu mata air akan dikembangkan sebagai sumber air bagi warga yang disalurkan dengan mesin pompa oleh pemerintah desa. Lalu, pada satu ruas jalan di selatan dusun, terdapat titik pandangan saujana yang indah berupa bentang alam persawahan dengan latar belakang perbukitan Menoreh. Puluhan burung Kuntul tampak damai datang dan pergi di tengah sawah, tampak di kejauhan. Namun, sayang, banyak pemuda desa yang sering memburunya, ditembak, tanpa alasan yang jelas. Tim sempat masuk ke dua kompleks pemakaman dusun setempat untuk melacak jejak sejarah yang terekam di batu-batu nisan makam. Ada beberapa makam pejuang kemerdekaan, makam pendiri dusun yang dikenal dengan nama Mbah Wonosegoro, dan sebuah makam tua tanpa tak dikenal yang konon makam seorang prajurit dari masa perang Diponegoro. Rombongan surveyor, yang di dalamnya termasuk pula Pjs Sekretaris Desa Borobudur Saefuddin dan Kepala Urusan Umum Desa Borobudur Riyanto, itu meneruskan jelajah hingga sore menjelang dan dilanjutkan dengan tinjauan data hasil survei di rumah Panji. Survei berikutnya, minggu depan, akan dilakukan di kawasan Dusun Tamanan, Maitan, dan Tanjungan di sebelah barat Candi Borobudur. Kali ini Pak Saefuddin dan teman-teman pemuda desa yang tinggal di dusun setempat akan kebagian peran menjadi tuan rumah. Mengembangkan itu dimulai dengan mengetahui Warga dan Pemerintah Desa Borobudur sadar benar mengapa mereka merasa perlu dan penting untuk memetakan potensi desanya. Saujana kawasan pusaka Borobudur yang telah melampaui banyak masa dan generasi dengan dinamika budayanya jelas memiliki nilai manfaat yang sangat besar. Amiluhur Soeroso (2007) dalam disertasinya menyebutkan angkanya yang berkisar antara Rp 3,2 - Rp 4,2 triliun. Itu lebih jauh lebih tinggi dibandingkan dengan nilai pemanfaatan Candi Borobudur dan taman wisata di seputarannya, yakni antara Rp 124,72 miliar - Rp 2,4 triliun. Masyarakat setempat sudah mulai menyadari, terutama dalam dekade ini bahwa tidak optimalnya pembangunan pedesaan di Borobudur terutama disebabkan oleh pemposisian Candi Borobudur sebagai pusaka dunia yang berdampak dijadikannya sebagai sebuah objek wisata yang paradigma pengelolaanya berorientasi pada kuantitas pengunjung dan pertumbuhannya dalam jangka pendek. Ketika potensi desa-desa di sekitar Candi Borobudur terabaikan praktik wisata massal (mencapai 2,127 juta wisatawan per tahun) di Candi Borobudur, penduduknya pun memilih untuk bekerja di daerah lain atau mengasong di taman wisata. Tercatat terdapat 3.156 pedagang di Zona 2 Kawasan Borobudur saat ini, yang dapat mencapai sekitar 7.500 pedagang pada puncak musim liburan, tanpa ada tingkat perbaikan di diri mereka dari tahun ke tahun. Para pemandu wisata setempat, yang merupakan penduduk Borobudur, sudah sejak belasan tahun yang lalu mengembangkan tour de kampong, jelajah wisata pedesaan untuk mengenalkan potensi desa kepada khalayak luas. Ini adalah strategi praktis untuk menyebarkan wisatawan agar manfaat ekonominya tak hanya menumpuk tersedot oleh pengelola Taman Wisata Candi Borobudur. Pengalaman bertahun-tahun itu menyadarkan tokoh-tokoh utama desa setempat untuk mulai secara lebih sistematis mengelola dan mengembangkan potensi desa mereka atas dasar kemandirian. Pegiat Jaringan Kerja Kepariwisataan Borobudur (Jaker) "Jack" Priyana dan rekan sejawatnya pun menggagas pembuatan Peta Hijau Mandala Borobudur sebagai langkah awal. Gayung pun bersambut pula, kali ini oleh Maladi, rekan "seperjuangan" Jack Priyana yang menjabat Kepala Desa Borobudur sejak tahun 2007 lalu. Inisiatif dimulai dengan mengumpulkan para pemuda desa sebagai pelaku pendataan potensi desa dengan dibantu oleh para pegiat Peta Hijau dari Yogyakarta. Pemetaan tahap pertama pun dimulai sejak Desember tahun lalu secara bertahap, dari dusun ke dusun. Februari depan diharapkan sebuah Peta Hijau Desa Borobudur sudah dapat terselesaikan dan bisa menginformasikan potensi desa itu kepada khalayak yang lebih luas. Lebih utama juga adalah dengan mengetahui potensi desa mereka dari pemetaan itu, masyarakat setempat akan dapat mengetahui apa yang terbaik untuk dibangun dan dikembangkan di desa tempat tinggalnya itu. Jadi, mereka akan punya bekal pengetahuan dan posisi tawar yang lebih kuat dalam pengembangan kawasan yang akan dicanangkan sebagai Kawasan Strategis Nasional ini. Selanjutnya, praktik itu bisa mereka perdalam dan juga tularkan kepada saudara-saudara mereka di desa-desa tetangga di kawasan pusaka saujana Borobudur. Itulah wujud pemaknaan dan pembangunan sebuah Mandala Borobudur di tangan warga. Berbagi dengan Daya Mandiri Semua turun bahu-membahu dalam proses pemetahijauan Desa Borobudur ini. Sponsor datang dari warga desa setempat dan dari para pegiatnya sendiri, yakni pemuda Desa Borobudur. Mereka tak segan untuk secara sukarela menyediakan diri sebagai tuan rumah pertemuan warga atau rumahnya digunakan sebagai tempat berkumpul pada saat survei. Semangat berbagi ini jelas dilandasi oleh keinginan kuat bahwa tindakan yang dilakukan bersama ini jelas ditujukan untuk kepentingan bersama. Prinsip berbagi yang mungkin tak pernah terbayang di benak para pihak yang berkepentingan lainnya di Borobudur itu mungkin sangat jauh dari prinsip-prinsip pasar yang umum diyakini. Namun, warna itu sengaja dibangun dan diterapkan di sini. Modal sosial mulai terbangun ketika komunikasi antar pemuda yang berbeda dusun itu terjadi. Kawasan Desa Borobudur yang beranjak urban dalam dasawarsa terakhir ternyata telah menyebabkan relasi sosial antar dusun cenderung menurun, dan separuh di antara para pemuda yang tergabung dalam tim Peta Hijau ini sebelumnya tidak saling kenal walaupun hidup dalam satu desa. Ketika jalinan komunikasi intesif terbangun, dengan sigap mereka pun juga memanfaatkannya untuk membangun jaringan kerja untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di dusun masing-masing. Pada survei Desember lalu, ketika menjumpai sebuah usaha pembuatan batako di Dusun Jayan, salah seorang pun sekaligus menawarkan kerjasama dengan usaha pemecah batu kali yang ada di dusunnya, Bumisegoro. Ketika survei dilakukan di Dusun Bumisegoro seperti minggu lalu pun diwarnai pula dengan terbangunnya jaringan kerja antar warga, antara homestay yang dikelola Panji dengan paket wisata desa yang dikelola Hatta. Sangat indah dan menarik, yang semoga bisa terus berlangsung dan semakin baik ke depan. Fasilitator Peta Hijau: 1. Elanto Wijoyono (HP: 0815 7865 8586) 2. Thomas Widiyanto Tim Peta Hijau Desa Borobudur: 1. Hatta (Koordinator - HP: 0813 2813 6396) 2. Panji 3. Triyono 4. Ryan 5. Herdin 6. Saefuddin 7. Giyanti 8. Brian 9. Riyanto Donasi kegiatan: Bank Niaga Kantor Cik Di Tiro Yogyakarta a.n. Maria Carmelia S. No Rekening 019-01-57864-12-6 (daftar donatur akan dilampirkan dalam laporan kegiatan tahap I - Maret 2009) --------------------------------------------------------- Album foto kegiatan survei Peta Hijau Desa Borobudur bisa dilihat di sini. |
| LAST_UPDATED2 |