Jaringan Pegiat Peta Hijau Indonesia

Wajah Cerah Pecinan Makasar PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Elanto Wijoyono   
Jumat, 19 September 2008 12:48

 

pecinan

 

Riuh rendah suara pedagang bersahutan tertimpali suara pembeli, saling menawar harga. Penuh sesak, jalan becek, dan sedikit panas jelang siang tak mampu surutkan geliat jual beli di sepanjang Jalan Bacan. Di belakang meja-meja penjual sayur mayur, ikan, daging, dan bahan pangan lain berderet kaku rumah-rumah toko dalam diamnya, bertiraikan terali besi. Fasadnya yang tak lagi mencirikan bangunan khas Tionghoa itu tak mampu memberikan kesan. Justru kesan datang dari derai obrolan dan tawa yang lepas dari orang-orang di sana. Tak hanya warga Tionghoa, ada banyak wajah kecoklatan sukubangsa Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja pula. Entah wajah-wajah apa lagi yang ada dan terlewat dari pandangan. Sungguh warna-warna yang mencerahkan.

Merekam Jejak Keberagaman dalam Peta Hijau

Satu sudut kawasan Pecinan di Kota Makassar telah menampilkan begitu banyak warna. Sedikit menjelajah, tak jauh dari Jalan Bacan, di Jalan Lombok berdiri megah Masjid As Sa’id yang bertarikh 1907 di tengah kesesakan bangunan-bangunan ruko warga Tionghoa yang menganut Taoisme, Konfusianisme, atau Buddhisme. Berlalu lebih ke dalam, kampung-kampung di dalam Pecinan menyimpan kantung-kantung permukiman warga yang beragam kesukubangsaannya, sudah puluhan tahun berdiam bertetangga bersama.

 

pecinan

 

Sejarah pecinan di kawasan barat Kota Makassar ini tak berbeda dengan pecinan lain di Nusantara. Adalah politik wijkenstelsel yang diberlakukan oleh kongsi dagang Belanda di Hindia Belanda (VOC), menciptakan permukiman etnis Tionghoa atau pecinan di sejumlah kota besar di Nusantara. Aturan itu berlaku sejak peristiwa kerusuhan di Batavia pada tahun 1740, sehingga warga Tionghoa tidak boleh bermukim di sembarang tempat. Konsentrasi kegiatan ekonomi pun muncul dari kalangan tersebut, di pecinan yang berada di perkotaaan. Sejak awal, peran mereka di sektor ekonomi sudah tampak dan berlanjut hingga sekarang, juga dalam interaksinya dengan penduduk kota lainnya.

 

masjid

 

Merekam Sejarah Kota, Pembelajaran untuk Masa Depan

Pecinan di Makassar tentu saja telah menjadi bagian dari sejarah panjang Kota Makassar. Di balik sisi unik budaya dan tradisi Tionghoa yang masih lestari, sempat pula terekam jejak-jejak pahit di sana. Namun, wajah-wajah cerah di Pasar Bacan tadi menunjukkan bahwa ada lebih banyak hal positif yang bisa dikerjakan bersama. Harapan untuk mampu belajar dari sejarah lokal agar dapat merencanakan masa depan secara lebih bijak itu pun menjadi tujuan dari para pegiat Peta Hijau Makassar. Dimulai tepat dari kawasan pecinan Makassar pada hari Sabtu - Minggu (13/09-14/09) lalu, harapan itu coba diwujudkan melalui sebuah kegiatan pemetahijauan Pecinan Makassar, sebagai langkah awal pembuatan Peta Hijau Kota Makassar selama beberapa bulan ke depan.

 

workshop

 

Sebuah workshop singkat tentang dunia Peta Hijau menjadi proses pembekalan bagi seluruh pegiat Peta Hijau. Kebetulan, para pegiat utama Peta Hijau Makassar adalah veteran dari kegiatan pembuatan Peta Hijau Buton pada tahun 2004-2005 silam. Pengalaman berpetahijau di sudut tenggara Sulawesi itu kemudian ingin ditularkan di kota Makassar. Pada tahap awal ini, sebanyak 20 relawan muda usia dari beragam latar belakang dengan semangat dan antusias menjelajah pecinan di tengah terik siang di bulan Ramadhan. Bagi mereka, semua pengalaman menjelajah, bertemu, dan membaca lingkungan yang mungkin selama ini mereka hiraukan menjadi lebih berharga daripada sekedar mengeluh akibat kelelahan dan kepanasan. Wew, luar biasa, bukan?!

 

workshop

 

Survei lapangan yang dirangkai dengan sesi kompilasi data dan presentasi kelompok di D’Green Cafe ini akan dilanjutkan dengan proses yang sama secara bertahap hingga terwujudnya Peta Hijau Kota Makassar yang utuh. Peta hijau yang dihasilkan nanti akan mereka gunakan untuk mendorong warga Makassar agar mengenal lebih dalam kota tempat tinggal mereka sendiri, sehingga mampu mengerti apa saja yang menjadi masalah dan kebutuhan bagi kota mereka. Ke luar, peta hijau tersebut tentu saja akan digunakan sebagai salah satu sarana memperkenalkan potensi Kota Makassar ke dunia melalui jaringan Green Map Internasional. Tentu saja, para pegiat Peta Hijau Makassar ini tak ingin warga Makassar hanya menunggu hasil jadinya. Partisipasi aktif warga Makassar untuk membantu mewujudkan Peta Hijau Makassar jelas akan lebih bernilai bagi kegiatan ini. Bagaimana caranya? Sila hubungi kontak di bawah ini!

 

kompilasi

 

 

green cafe

 

Meta Sekar Puji Astuti ( Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya , Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya )
Nadrah / Onggo ( Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya )
Endah Ciptaning P. ( Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya )

Album foto kegiatan bisa dilihat di sini

 

 


blog comments powered by Disqus
LAST_UPDATED2
 

15 Tahun Green Map


Galeri Foto

Open Green Map

OpenGreenMap

Green Map Atlas 2004

Green Map Atlas 2004

Green Map Impacts


GreenMap.Org


Pemeta Hijau

You are here  : Home Peta Hijau di Indonesia Makassar Wajah Cerah Pecinan Makasar