| Kembali ke Ibukota |
|
|
|
| Ditulis oleh Elanto Wijoyono |
| Kamis, 24 Juli 2008 19:48 |
|
Peta Hijau Kolaborasi untuk Jakarta Akhir tahun 2001 silam, Marco Kusumawijaya membawa oleh-oleh Green Map, sebuah metode pemetaan lingkungan partisipatoris, sekembalinya dari Amerika Serikat. Kisah Direktur Green Map System Wendy Brawer kala itu mengenai pengalamannya ditimpuk orang utan di Yogyakarta, sehingga memunculkan ide kesadaran lingkungan sekitar melalui media peta, menginspirasi ahli tata kota ini untuk menerapkannya di Indonesia. Atas inisiasinya, lahirlah Green Map Kemang pada awal tahun 2002 sebagai embrio gerakan Green Map (Peta Hijau) di Indonesia. Pascatahun 2002, gerakan peta hijau ini kemudian menyebar ke beberapa kota di Indonesia melalui jaringan pertemanan dan media. Berturut-turut mulai dari Yogyakarta, Bandung, Buton, Malang, hingga Surabaya dan Medan, peta hijau berkembang dan digiatkan oleh berbagai komunitas lokal setempat. Namun, Jakarta sebagai kota pertama di Indonesia yang berpeta hijau, meredup kegiatannya sejak peta hijau terakhir yang mereka terbitkan, yakni Peta Hijau Jakarta Kota (2005). Memang ada beberapa inisiatif yang sempat terlontar pada dua tahun terakhir untuk kembali menggiatkan peta hijau, seperti yang muncul di lingkungan Utan Kayu dan sekitarnya. Namun, belum ada tindak lanjutnya.
Mengumpulkan yang Terserak Lepas beberapa proyek Peta Hijau di Jakarta usai, para pegiatnya kembali ke kesibukan masing-masing. Komunikasi via milis pun tidak seintensif ketika proyek sedang berjalan. Hanya beberapa gelintir orang saja yang masih bisa cukup meluangkan waktu dan pikirannya untuk bergiat. Justru, semangat itu ada yang dibawa keluar dari Jakarta, seperti yang dilakukan oleh Marco Kusumawijaya yang turut memfasilitasi berbagai kegiatan Peta Hijau di Borobudur, Surabaya, dan Medan. Pertengahan Juli 2008 ini, ada momen penting yang kemudian dianggap tepat untuk dijadikan pijakan menginisiasi kembali peta hijau untuk ibukota, yaitu sebuah residensi penelitian perkotaan di Los Angeles, Amerika Serikat selama dua bulan silam dan Orasi Budaya Tata Kota Jakarta sebagai Megalopolitan pada tanggal 11 Juli 2008, keduanya oleh Marco Kusumawijaya. Dalam pada itu, secara resmi, pertemuan kecil dengan mengundang beberapa pegiat potensial pun direncanakan bersama, sebagai bagian dari agenda kegiatan Green Map Indonesia (Peta Hijau).
Sabtu siang, 12 Juli 2008 sedikitnya 18 orang bersua tak berapa lama, sekitar 3 jam saja, di kediaman Marco Kusumawijaya di bilangan Menteng, Jakarta Pusat. Beberapa kawan lama yang pernah terlibat dalam kegiatan peta hijau sebelumnya hadir bersama beberapa kawan baru yang potensial dan menaruh minat tinggi untuk bergiat bersama peta hijau. Cukup menarik dengan perkenalan berkali-kali karena kedatangan yang tidak bersamaan. Pertemuan pun dibuka dengan sedikit kisah mengenai sejarah gerakan peta hijau dan perkembangannya yang paling mutakhir, terutama sistem ikon Peta Hijau versi 3 yang baru saja terbit pada tahun 2008 ini. Curah pendapat dan gagasan kemudian dibuka secara bebas selama hampir dua jam. Nirwono Joga, arsitek lanskap yang lebih dikenal dengan nama Yudi, menguraikan gagasan untuk membuat peta hijau yang secara jelas memang dibutuhkan oleh komunitas. Dicontohkan adalah pembuatan Peta Hijau Jalur Sepeda , yang d i pandang akan berguna bagi komunitas pesepeda di Jakarta. Gagasan ini antara lain sebagai tanggapan atas kabar bahwa pemerintah daerah berniat untuk membangun beberapa jalur sepeda, sehingga hasil pemetaan ini nanti bisa jadi salah satu rekomendasi warga terhadap rencana tersebut. Arsitek Puji Siregar dan pegiat Greenlifestyle Shanty Syahril memperkaya diskusi dengan mencoba melihat kepentingan pengguna peta (user). Mereka mencurahkan pengalamannya sebagai pengguna peta untuk mengevaluasi tampilan peta-peta hijau yang ada dan yang akan dibuat agar lebih ramah (baca: mudah) bagi penggunannya. Juga, dipandang penting juga untuk merumuskan secara lebih tegas kelompok sasaran yang dituju agar peta hijau yang dihasilkan bisa tepat guna.
Berjejaring Memetahijaukan Megalopolis Jakarta Melihat beragamnya minat dan kompetensi kawan-kawan yang hadir, kemudian muncul gagasan untuk mengelola proses pemetaan di Jakarta yang maha-luas ini dengan strategi berjejaring. Selama ini, peta hijau di Jakarta belum pernah dibuat untuk skala seluruh kota. Peta Hijau yang lalu hanya dibuat untuk skala cluster terpilih (kawasan kecil), seperti Menteng, Kemang, Kebayoran Baru, dan Jakarta Kota. Padahal, sudah dipandang perlu untuk dibuat pula Peta Hijau Jakarta secara utuh. Namun, jika pekerjaan itu dikerjakan oleh hanya sebuah tim maka dirasa akan sangat berat. Gagasan membuat Peta Hijau Jakarta sebagai proyek kolaborasi pun muncul sebagai salah satu jawabnya. Dengan mengacu pada tiga kategori besar sistem ikon Peta Hijau, disepakatilah sebuah strategi kolaborasi untuk mulai menggarap Peta Hijau Jakarta. Elemen alam akan dipetakan dengan koordinasi dari rekan-rekan Jakarta Green Monster yang pada pertemuan ini diwakili oleh Ady Kristanto. Elemen sosial dan budaya akan dipetakan dengan koordinasi dari Indah Sulistiana, arsitek muda yang saat ini bergiat di Kota Tua Jakarta, dan David Sagita, arsitek muda yang banyak bergelut dengan dunia heritage. Elemen ketiga, yakni aspek-aspek kehidupan berkelanjutan, seperti mobilitas, ekonomi, teknologi, hingga potensi ancaman dan bencana, akan dipetakan dengan koordinasi Shanty Syahril. Yudi akan mengelola ketiga kelompok pemeta ini dalam sebuah kerangka kegiatan besar pembuatan Peta Hijau Jakarta. Diupayakan, jaringan pegiat Peta Hijau Jakarta ini akan mengajak kelompok-kelompok dan organisasi-organisasi yang terkait dan kompeten di tiga bidang di atas untuk membantu proses pemetaan ini. Tidak hanya sebagai lembaga pendukung, tetapi juga sebagai pemetanya sendiri. Proses ini akan langsung berjalan usai pertemuan akhir pekan silam. Keterlibatan lebih banyak pihak dalam kegiatan Peta Hijau Jakarta ini tentu saja sangat dinantikan. Pertemuan rutin pemeta hijau Jakarta akan kembali digiatkan dan terbuka bagi siapa saja yang tertarik untuk bergabung. Kontak Peta Hijau Jakarta: |
| LAST_UPDATED2 |