Jaringan Pegiat Peta Hijau Indonesia

Jakarta dari Mata Warga Muda PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Riyani Pakpahan dan Gracie Emerentiana   
Selasa, 01 Desember 2009 20:05

Kesan dari Jelajah Hijau di Minggu Pagi

Perjalanan dari Senayan hingga Lapangan Monas tentu saja bukan lagi pengalaman yang asing bagi sebagian besar warga Jakarta. Ruas Sudirman - Thamrin - Medan Merdeka yang menjadi poros utama kota Jakarta menghubungkan dua tempat itu. Jutaan manusia dengan beragam moda transportasi setiap hari berlalu melewatinya. Pemandangan yang megah terbingkai dari kokohnya bangunan gedung pencakar langit yang memenuhi cakrawala amatan. Ketika melaluinya, pernahkah terpikir oleh kita untuk coba tahu lebih dalam kisah apa sajakah yang bisa didapatkan di antara poros utama ibukota ini. Riyani Pakpahan dan Gracie Emerentiana, dua relawan muda Peta Hijau Jakarta yang turut dalam jelajah Peta Hijau Jakarta dari Taman Kridaloka Senayan hingga Taman Prasasti di Tanah Abang pada hari Minggu (22/11/2009) lalu menuliskan kesan pengamatan dan pengalaman mereka dalam dua catatan terpisah. Pengalaman yang terbuka bagi siapa saja untuk mendapatkannya pula. Inilah catatan mereka yang dimuat secara berturutan.



Menengok Sisi Hijau Jakartaku....

Oleh Gracie Emerentiana


Pada hari Minggu, 22 November  2009, Komunitas Green Map Jakarta mengadakan tur hijau dengan rute Parkir Timur Senayan-Hutan Kota Kridaloka Senayan-Museum Taman Prasati-Senayan. Tur ini merupakan rangkaian kegiatan ICE 2009 (Indonesian Community Expo), 21-22 Nopember 2009 di parkir timur Senayan. Tur berlangsung dari pk 07.00 hingga sekitar pk 13.00.

Sebelum tur dimulai, seluruh peserta dan panitia berkumpul di Parkir Timur Senayan, yang kemudian dibagi kelompok-kelompok kecil. Ketika itu saya masuk dalam kelompok terakhir, yang mempunyai nama Kelompok Senayan, dengan pemandunya Pak Yudi (Nirwono Joga). Setiap tim terdiri dari sekitar 9 peserta dan 2 orang panitia. Kelompok saya cukup unik, karena 5 di antara anggotanya adalah orang asing, dimana salah satunya jika tidak salah adalah seorang reporter Jakarta Post.

Setelah seluruh peserta terkumpul dan saling memperkenalkan diri satu sama lain, secara bergiliran masing-masing kelompok berjalan kaki menuju Taman Kridaloka yang terletak di bagian belakang kolam renang Senayan. Sambil berjalan, oleh pemandu dijelaskan mengenai sejarah Gelora Bung Karno dan Hutan Kota Kridaloka.

Gelora Bung Karno didirikan pada tahun 1962. Bermula dari keinginan Presiden Soekarno untuk membuat suatu daerah yang diperuntukkan khusus untuk olahraga, maka didirikan suatu kompleks olahraga serbaguna di daerah Senayan, Jakarta, dinamakan Istora Senayan (Istora = Istana Olahraga). Kompleks olahraga ini kemudian dinamai Gelora Bung Karno untuk menghormati Soekarno, Presiden pertama Indonesia, yang juga merupakan tokoh yang mencetuskan gagasan pembangunan kompleks olahraga ini.

Namun, dalam rangka de-Soekarnoisasi, pada masa Orde Baru, nama kompleks olahraga ini diubah menjadi Istora Senayan. Setelah bergulirnya gelombang reformasi pada 1998, nama kompleks olahraga ini dikembalikan kepada namanya semula melalui Surat Keputusan Presiden No. 7/2001.

Dengan kapasitas sekitar 100.000 orang, stadion yang mulai dibangun pada pertengahan tahun 1958 dan penyelesaian fase pertama-nya pada kuartal ketiga 1962 ini merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Menjelang Piala Asia 2007, dilakukan renovasi pada stadion yang mengurangi kapasitas stadion menjadi 88.083 penonton. Pembangunan awalnya didanai dengan kredit lunak dari Uni Soviet sebesar 12,5 juta dollar AS yang kepastiannya diperoleh pada 23 Desember 1958.

Selain sebagai tempat berolahraga, kawasan Gelora Bung Karno oleh berbagai kelompok masyarakat sering dimanfaatkan sebagai ajang bertemu. Pada awalnya, tujuan dibangunnya stadion ini, Presiden Soekarno juga menginginkan kompleks olahraga yang dibangun untuk Asian GamesIV 1962 ini juga hendaknya dijadikan sebagai paru-paru kota dan ruang terbuka tempat warga berkumpul. Untuk memperoleh biaya pemeliharaan dan perbaikan fasilitas-fasilitas olah raga di dalamnya yang berkelanjutan, dibuatlah suatu persewaan tempat untuk komersial. Namun, maksud tersebut akhirnya menjadi menyimpang, banyak bagian dari kompleks ini yang dialihfungsikan menjadi bangunan komersial, sebagai contoh: Hotel Mulia, Mall, JCC, dan sebagainya, sehingga mengakibatkan luas wilayah yang murni dipergunakan untuk olah raga hanya tinggal sedikit.

Hutan kota Kridaloka tersembunyi di kawasan olahraga Senayan. Di hutan ini, dapat ditemui berbagai pohon langka maupun burung-burung merdu yang terbang di pucuk- pucuk pohon. Hutan kota ini juga dimanfaatkan oleh manusia dengan beraneka ragam aktivitasnya, seperti olah raga pagi (lari dan senam pagi), berjalan-jalan menikmati udara segar, berkumpul bersama keluarga, dsb.

Sesampainya di Hutan kota Kridaloka, pada masing-masing kelompok dijelaskan jenis-jenis tanaman yang ada di taman tersebut oleh sang pemandu. Di sana, kami menemui banyak sekali jenis tanaman unik, seperti Sirih gading (bentuk simbiosis komensalisme dan dibudidayakan, dijadikan ikon kota Depok, terdiri dari sekitar 10 jenis), Bungur (tanaman berbunga indah dengan biji dan bunganya yang merupakan makanan burung), Lobi-lobi (untuk masak orang-orang Betawi, tanaman yang banyak terdapat di rumah-rumah penduduk), Pohon sukun (tingginya bisa sampai 10 m), Kluwih, Pandan Bali (tanaman tepi pantai Bali), Mahkota dewa (digunakan untuk mengobati kanker, baru boleh digunakan jika sudah merah), Kepel (lambang pemimpin, langka dan sakral, biasanya dimakan oleh putri-putri keraton, sehingga membuat badan dan keringat mereka menjadi wangi), Pohon biola cantik (dari jauh bentuknya bulat), Angsana (besar seperti beringin.

Pada tahun 1970-an, angsana dan akasia, melalui program gubernur ditanam di sepanjang jalan di DKI Jakarta. Namun, ternyata serbuk bunga akasia membuat sesak napas. Akhirnya pada tahun ’85-’90an, seluruh pohon akasia yang ada di DKI Jakarta ditebang. Akasia pada umur 40-50 harus diganti dengan pohon akasia yang baru, karena mudah lapuk dan kena rayap sehingga mudah tumbang). Tanaman lain yang ada di Kridaloka:  Flamboyan, Jamblang (keluarga jambu-jambuan), Khaya, Mundu, Belimbing, Sawo duren (buahnya besar dan rasanya seperti duren), Cempaka, Matoa serta Sawo kecik.

Selama perjalanan berkeliling hutan kota Kridaloka tersebut, kami mengamati bentuk daun dan batang, juga mengamati buah serta bunga, kemudian anggota kelompok saya ada yang mencoba memakan buah kepel yang berwarna merah, dan ternyata rasanya enak dan manis. Selain itu, anggota-anggota kelompok saya mencoba bergandengan tangan melingkari angsana dan diketahui satu pohon angsana sama dengan sepuluh orang melingkar. Di hutan tersebut banyak ditemui semut dan nyamuk, namun sayang, tak satupun dari kami yang menyadari keberadaan burung-burung di hutan tersebut.

Seusai berjalan-jalan, sambil makan snack, setiap kelompok diberi tugas untuk membuat semacam sketsa Hutan Kridaloka, di mana dalam sketsa tersebut diminta untuk menggambarkan objek-objek menarik yang ditemui selama berjalan-jalan di Hutan kota Kridaloka tersebut.

Selanjutnya, kami meneruskan perjalanan ke halte busway Polda Metro. Sambil berjalan kaki, kami juga mengamati kondisi di sekitar kami, sambil dijelaskan oleh pemandu kami. Kami melewati stadion renang Senayan. Diceritakan bahwa stadion tersebut dibangun pada awal tahun 80, dan merupakan satu-satunya kolam renang di Indonesia yang berstandar internasional (untuk kolam renang yang bukan untuk komersial). Sepanjang perjalanan menuju halte busway, kami juga menemui berbagai macam jenis tanaman, seperti Bisbul (pohon buah), Gandaria (buahnya untuk sambal, rasanya asam. Nama gandaria dipergunakan sebagai nama jalan di daerah radio dalam), Ketapang, Maja (Buahnya pahit, yang kemudian disebut menjadi nama kerajaan Majapahit), Sikat botol, Trembesi serta Pohon sapu tangan.

Sesampainya di halte busway, rombongan tur hijau diajak naik busway yang telah dipesan khusus menuju halte Monumen Nasional (Monas). Selama perjalanan menggunakan busway, pemandu menjelaskan etika-etika menumpang busway. Selain itu, juga dijelaskan mengenai lokasi-lokasi yang dilalui oleh busway. Sebagai contoh Taman galunggung dukuh atas, Hotel Le Meridien yang ternyata dulunya adalah kuburan Belanda, air laut dari Ancol sudah masuk kawasan Sarinah sehingga menyebabkan airnya menjadi payau, muka air tanah di daerah Sudirman sudah turun 1 m sebagai akibat eksplorasi air tanah sehingga juga terjadi intrusi air laut, Mal EX merupakan salah satu mal di jakarta yang menyediakan parkir khusus sepeda, dsb. Selain hal-hal tersebut juga dijelaskan bahwa jauh lebih baik apabila pemerintah menyediakan jalur khusus untuk sepeda dibandingkan memperbesar jalur untuk busway. Sembari naik busway, kami juga memperoleh pengetahuan-pengetahuan baru mengenai kota Jakarta.

Rombongan kemudian tiba di halte Monumen Nasional. Setelah turun dari busway, rombongan berjalan kaki menuju Taman Prasasti. Di perempatan, kami menemukan Pohon beringin pencekik. Dinamakan dengan istilah ”pencekik” dikarenakan beringin tersebut mengikat inang sampai mati (simbiosis Parasitisme). Penyedotan dari tubuh inang tersebut menyebabkan terbentuknya ruang kosong di tubuh inang, hingga pada akhirnya inang tersebut mati.

Melanjutkan perjalanan kami, akhirnya kami tiba di Museum Taman Prasasti. Museum Taman Prasasti, yang terletak di Jl. Tanah Abang 1 No. 1, Jakarta Pusat, merupakan pemakaman Belanda, berusia 214 tahun. Taman Prasasti ini termasuk pemakaman paling tua di dunia (1795), lebih tua daripada pemakaman-pemakaman yang ada di Amerika Serikat. Pemakaman ini merupakan pemakaman publik yang terkenal di jamannya, karena tokoh-tokoh masyarakat dimakamkan di pemakaman ini. Luasnya mula-mula adalah 5,5 Ha, namun karena arus sejarah maka arealnya pun menciut dan tersisa hanya sekitar 1,3 Ha. Bekas-bekas lokasi makam ini, contohnya yaitu kantor walikota. Di pemakaman ini sudah banyak prasasti yang hilang, hanya tersisa 32 makam yang masih di sini, dan yang lainnya hanya merupakan nisan-nisan bekas dari makam. Pemakaman ini sering dipergunakan sebagai lokasi shooting hingga pemotretan pernikahan.
 
Memasuki areal Taman Prasasti, saya melihat semacam tugu bertuliskan ”Museum Taman Prasasti” dengan patung-patung malaikat di bagian atasnya. Di sisi kanan gerbang, juga terdapat pelat batu tertempel di dinding bertuliskan ”Monumen Taman Prasasti”, di depannya terdapat sebuah replika meriam. Taman Prasasti ini posisinya dekat Kali Krukut. Pada masa itu, jenazah diangkut dengan menggunakan perahu, melalui Kali Krukut.

Rombongan berkumpul di depan pintu masuk pemakaman, yang merupakan pendopo utama yang dulu digunakan untuk upacara. Di dalam bangunan ini terdapat ruangan di sayap kanan-kiri yang berfungsi untuk menyemayamkan jenazah. Selain itu, juga terlihat banyak pilar serta pelat-pelat besi bertulis tertempel pada dinding. Di salah satu ruang bekas ruang penyemayaman jenazah inilah kita bisa membeli tiket untuk masuk ke museum ini. Dengan tiket seharga 2 ribu rupiah, kita bisa menjelajah setiap sudut area museum. Museum ini beroperasi setiap Selasa hingga Minggu, mulai pukul 9 pagi hingga 3 sore, dan tutup pada hari Senin serta hari libur nasional.

Pintu masuk pemakaman merupakan sebuah gerbang kayu besar berpintu dua, dengan pelat kayu bertulis di atasnya. Ketika menginjakkan kaki ke dalam pemakaman, yang tersirat dalam pikiran adalah perasaan takjub, karena kesan eksotik dari pemakaman tersebut. Di pemakaman ini saya tak merasakan suasana angker, kumuh, kotor  walaupun rasa takut masih sedikit terasa. Berbeda dengan pemakaman umum, pemakaman ini cukup bersih dan tidak sumpek. Pemakaman ini memberikan nuansa sepi, sejuk, dan tenang, terutama di tengah hiruk-pikuknya Jakarta.

Nisan-nisan yang terdapat di pemakaman ini beraneka rupa bentuk dan bahannya. Bentuk-bentuknya bergaya Eropa klasik, sehingga memberi kesan mewah dan indah. Dari angka tahun yang tertulis di nisan, rata-rata berangka tahun wafat 1800-1900-an. Yang dimakamkan di sini pun beragam, awalnya hanya diperuntukkan oleh kaum bangsawan dan pejabat VOC/Batavia, namun seiring waktu masyarakat umum pun diterima, tentunya dengan membayar sejumlah tertentu.

Begitu memasuki kawasan ini, saya langsung berkeliling-keliling sambil memotret nisan-nisan dan prasasti yang terlihat unik serta menarik. Di sisi kanan dari gerbang masuk, terdapat sebuah kereta, mirip seperti kereta dalam film-film Eropa, yang ternyata adalah kereta untuk mengangkut jenazah. Kereta jenazah tersebut pernah dipakai untuk mengangkut jenazah dari pelabuhan Kali Krukut ke pemakaman Kebon Jahe Kober. Kereta ini terbuat dari besi dan kaca, terlihat anggun dengan ukiran-ukiran.

Seperti telah diceritakan di awal, jenazah dibawa dari kota Batavia ke pemakaman dengan menggunakan perahu yang melalui Kali Krukut, kemudian jenazah dibawa ke pemakaman dengan menggunakan kereta kuda ini. Jumlah kuda yang menarik kereta menunjukkan status sosial si jenazah. Dulu terdapat lonceng perunggu yang terpasang pada tiang besi setinggi 4 meter yang berada di pelabuhan, yang jaraknya kurang lebih 500 meter dari makam. Ketika jenazah tiba di pelabuhan, lonceng ini akan dibunyikan sebagai tanda jenazah telah tiba.

Tak jauh dari kereta jenazah, terdapat sebuah bangunan berbentuk seperti rumah, yang kini berfungsi sebagai gudang. Di bangunan itu dulunya ditemukan mumi dari keluarga keluarga A.J.W. Van Delben. Mumi itu sekarang entah berada di mana.

Berjalan agak ke belakang, saya melihat sebuah dinding dengan prasasti di tengah dan ada hiasan tengkorak yang tertancap pedang, dinamakan monumen pecah kulit. Inilah prasasti Pieter Erbelrveld, seorang campuran Jerman dan Thailand yang membenci orang-orang Belanda. Pieter Erberveld begitu membenci pemerintah Batavia yang sewenang-wenang. Beberapa kali Pieter Erbelverd melakukan perlawanan terhadap pemerintah dengan dibantu oleh Raden Kartadriya. Belanda menuduh Erbelverd hendak melakukan pemberontakan dan melakukan pembantaian terhadap etnis Belanda. Ketika tertangkap, Erberveld diganjar hukuman yang sangat kejam. Tangan dan kakinya diikatkan ke 4 ekor kuda kemudian ditarik ke 4 arah yang berbeda. Tentu saja badannya robek dan berhamburan di jalan. Lokasi tempat eksekusi Erberveld yang terletak di tepi Jacatra-weg ini kini dikenal dengan Jalan (Kampung) Pecah Kulit, yang sekarang menjadi Jalan Pangeran Jayakarta. Kepala Erberveld ini kemudian ditusuk dengan pedang dan dijadikan monumen sebagai peringatan kepada warga agar tidak melawan Belanda. Sebuah prasasti sepanjang sekitar 8 meter pun dibuat yang berisi peringatan dalam bahasa Belanda dan Jawa untuk tidak mendirikan bangunan atau menanam tumbuhan di sekitar monumen. Prasasti yang terletak di Kampung Pecah Kulit ini kemudian dipindahkan ke Museum Taman Prasasti. Namun tengkorak dan pedang di prasasti ini tentu hanya replika.

Di pemakaman ini saya menemukan banyak nama penting , antara lain H.F. Roll (pendiri STOVIA - School tot Opleiding van Indische Artsen, sekolah tinggi kedokteran untuk kaum pribumi), Olivia Mariamne Raffles (istri pertama Thomas Stamford Raffless saat masih menjabat jadi Gubernur Letnan Jawa ketika pemerintahan Inggris. Olivia adalah pencetus ide pembangunan Kebun Raya Bogor), Soe Hok Gie (tokoh pergerakan mahasiswa era tahun 1967-1969, yang meninggal menghirup gas beracun di Gunung Semeru), Miss Riboet (penyanyi dan penari terkenal dari kelompok seni Orion Junior yang didirikan oleh suaminya, Tio Tek Djien, pada tahun 1925. Selain menari, Miss Riboet piawai memainkan pedang). Dr. J.L. Andries Brandes (seorang arkeolog yang menguasai sastra Jawa kuno dan banyak sekali mengungkap Sejarah Indonesia, mulai dari Kitab Pararaton, naskah raja-raja Tumapel hingga Majapahit), Adami Caroli Claessens (seorang pastur Katolik yang datang ke Hindia Belanda pada tahun 1847. Salah satu jasa Claessens adalah membangun kembali Gereja Katedral yang roboh pada tahun 1890), J.H.R. Kohler (seorang panglima tinggi militer Batavia yang gugur ketika melakukan ekspedisi ke Aceh).

Pemakaman ini rupanya sangat menarik bagi rombongan tur, terutama untuk berfoto-foto. Di beberapa tempat terdapat patung-patung menarik seperti malaikat, dan juga terdapat replika katedral. Ada juga bentuk-bentuk bangunan dengan arsitektur yang indah.

Seusai berkeliling-keliling dan berfoto-foto, rombongan berkumpul sembari duduk-duduk menikmati keteduhan suasana. Acara dilanjutkan dengan presentasi masing-masing kelompok untuk menjelaskan sketsa  Kridaloka dan Taman Prasasti yang telah mereka buat. Kemudian, dilanjutkan dengan makan siang sambil mengisi kuesioner, masih di dalam areal pemakaman Taman Prasasti.

Selesai makan siang, rombongan berfoto bersama, kemudian kembali berjalan kaki menuju halte busway monumen nasional, kemudian kembali ke Senayan  menggunakan busway. Dalam perjalanan menuju Senayan, panitia Green Map menjelaskan mengenai apa itu Green Map, dsb.

Sesampainya di Senayan, rombongan berjalan kaki ke area ICE 2009, lokasi dimana bisa bertemu, berinteraksi dengan komunitas-komunitas lain. Ada sekitar 150 komunitas berekspresi di sini, termasuk juga stand Green Map Jakarta.

Mengikuti Tur Hijau Green Map sangat menarik dan bermanfaat, karena memberikan banyak pengetahuan baru, terutama mengenai kawasan hijau di Jakarta dan juga mengenai sejarah masa lampau. Berkunjung ke Hutan kota Kridaloka dan Museum Taman Prasasti dapat dijadikan tempat alternatif untuk wisata. Setelah mengikuti tur Green Map ini, diharapkan masyarakat semakin peduli terhadap kondisi Jakarta, termasuk pentingnya pelestarian kawasan hijau dan lokasi bersejarah, serta menyadari perlunya menjaga etika dalam menggunakan kendaraan umum seperti busway.

--------

Dari Hutan Kota ke Kuburan

Oleh Riyani Pakpahan



Dalam rangka meramaikan kegiatan nongkrong bareng 150 komunitas pada acara ICE (Indonesian Consumunity Expo) 2009 yang berlangsung pada 21-22 Nopember 2009 di parkir Timur Senayan, komunitas Peta Hijau Jakarta (PHJ) mengadakan tur pada hari kedua (22 Nopember). Tur kali ini ditujukan untuk pengenalan ruang terbuka hijau yaitu Kridaloka yang berada di kompleks olahraga Senayan dan Museum Taman Prasasti, di Jl. Tanah Abang No. 1, Jakarta Pusat.

Ruang Terbuka Hijau (RTH) secara ekologis ditujukan untuk meningkatkan kualitas air tanah, mencegah banjir, mengurangi polusi udara, pengatur iklim mikro dan habitat satwa liar. Sedangkan fungsi sosialnya sebagai ruang interaksi sosial, sarana rekreasi dan landmark kota. Juga dimaksudkan untuk mengurangi kadar polutan seperti timah hitam dan timbal yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

Peserta tur bersifat umum, sehingga siapapun yang ingin mengikuti tur dapat ikut serta. Tur ini juga bekerja sama dengan komunitas Suara Trans Jakarta, yang hadir perwakilan dari Trans Jakarta Bpk. David.

Agar pelaksanaan tur tidak terlalu panas, maka registrasi dimulai tepat pukul 07.00, dengan peserta lebih kurang 60 yang dibagi dalam 6 kelompok. Masing-masing kelompok menamai kelompoknya dengan sesuatu yang ada di Jakarta. Ada kelompok yang menamakan diri nama-nama tanaman : kelompok Mundu dan Kepodang. Kelompok lain memilih nama tempat di Jakarta, seperti kelompok Senayan, Kampung Besar dan Stasiun Kota. Dan satu kelompok menanmakan dirinya dengan masalah yang timbul di Jakarta, yaitu kelompok Plastik.

Kridaloka

Tur dimulai pada pukul 07.30 langsung menuju hutan kota Kridaloka. Kawasan yang merupakan ruang terbuka hijau ini mempunyai 23 jenis burung yang hidup di sela-sela pepohonan kompleks olahraga dan kebugaran itu. Pohon-pohon yang ditemukan disana adalah pohon Mundu, Sawo Duren, Kepel, Sawo Kecik, Bungur, Asem, Jamblang dan Biola Cantik. Selain itu terdapat pula pohon beringin pencekik, tanaman parasit yang mengambil sari makanan dari inangnya. Sedangkan untuk jenis burung terdapat burung Betet biasa, kutilang dan Merbah cerukruk. Juga ada satwa reptil seperti bunglon taman, cicak terbang dan kadal kebun.

Kridaloka adalah ruang terbuka hijau yang menjadi paru-paru kota bagi Jakarta. Karena berada di sini terasa nyaman dan segar. Peserta pun banyak yang baru mengetahui, bahwa di kawasan Senayan ini terdapat hutan kota yang sejuk, penuh dengan pohon-pohon langka dan satwa.

Setelah berkeliling di hutan kota Kridaloka, setiap kelompok diminta membuat sketsa hal-hal yang menarik di hutan kota tersebut. Masing-masing kelompok dengan antusias membuat sketsa, ada yang menekankan burung-burung yang ada, kelompok lain menggambarkan tanaman-tanaman.

Selesai membuat sketsa, rombongan mendapat penjelasan dari Pak David dari komunitas Suara TransJakarta tentang  tata tertib menumpang busway. Selanjutnya tepat pukul 09.00 kami menuju stasiun busway Polda. Kemudian busway kami pun datang.

Selama perjalanan dari Senayan menuju Museum taman Prasasti, koordinator PHJ, Mas Yudi menjelaskan kepada peserta bahwa jalan Sudirman – Thamrin dibangun guna menghubungkan kawasan Senayan dengan hotel Indonesia-Thamrin. Saat itu (1960-an) tengah terjadi pembangunan besar-besaran dalam rangka menyambut Asia Games ke IV (1962), seperti Monas, Patung Selamat Datang karya Heng Ngatung, Hotel Indonesia, Mesjid Istiqlal dan gedung perkantoran Wisma Nusantara yang berlantai 29, dan terkenal dengan restoran kahyangan di lt.28, dimana para tamu dapat menikmati makanan sekaligus pemandangn kota Jakarta dari atas. Selain itu, kami juga baru tahu bahwa Hotel Le Meridien yang terkenal dengan restoran Perancisnya ‘Le Brasserie’ yang enak tersebut ternyata tanahnya bekas kuburan Belanda.

Kami tiba di stasiun Monas pukul 09.35 langsung menuju Museum Taman Prasasti kira-kira perjalanan selama 30 menit, karena jalan santai sambil memperhatikan apa-apa yang ada di sekeliling.

Museum Taman Prasasti

Museum yang merupakan salah satu ruang terbuka hijau ini dibuka untuk umum pada tahun 1977 oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Terdapat 16 jenis burung di antaranya seperti Kutilang, burung gereja, dan betet.
Museum Prasasti menempati lahan bekas pemakaman orang Belanda yang pada jaman Belanda bernama Kebon Jahe Kober. Luas lahan seluruhnya 5,5 hektar. Dibangun pada tahun 1795.sebagai pengganti pemakaman yang sudah penuh, yang lokasinya di samping Gereja Neuwe Hollandse kerk.

Makam ini dikhususkan bagi orang-orang Belanda terutama pejabat dan tokoh-tokoh penting lainnya. Pada tahun 1975 pemakaman Kebon Jahe Kober ditutup, selanjutnya dilakukan pemugaran dan penataan kembali prasasti-prasasti nisan terpilih, kemudian pada tanggal 7 Juli 1977 diresmikan sebagai Museum Prasasti, dengan luas lebih kecil karena sebagian tanah dipakai untuk kantor walikota Jakarta Pusat.

Koleksi Museum Prasasti berjumlah 1.409 koleksi, yang meliputi nisan para tokoh pendidikan, seniman, ilmuwan, rohaniawan dan pejuang. Nama-nama tokoh Belanda yang terpahat di nisan sebagai koleksi Museum prasasti adalah Mayjen J.H.R. Kohler, Dr. W.F. Stutterheim, Dr.H.F.Roll, dan Pieter Erberveld, nama lain yang juga ada seperti Olivia Maramne Raffles, Miss Riboet, dan Soe Hok Gie.

Secara keseluruhan koleksi Museum prasasti mengoleksi nisan tokoh-tokoh yang dimakamkan di sini maupun yang dipindahkan dari tempat lain yang berasal dari abad 17-19. Selain itu koleksi lain pada museum ini adalah bentuk tugu monumen, piala, patung, karangan bunga, kijing, lempeng batu persegi, replika dan miniatur.

Setelah berkeliling pengenalan taman prasasti, setiap kelompok membuat sketsa tentang Museum Taman Prasasti ini. Lalu masing-masing kelompok mempresentasikan gambar yang telah dibuat ketika di Kridaloka dan Museum Taman Prasasti. Setiap kelompok mempunyai minat yang berbeda-beda. Ada yang menekankan unsur sejarah , sementara kelompok lain menekankan soal ruang terbuka hijau.

Sempat penulis  mewawancarai salah satu peserta  bernama Susely, yang warga negara asing. Dia menilai tur ini sangat berguna, Kridaloka begitu sejuk karena banyak pohon besar namun banyak nyamuk dan semut rang-rang di akar-akar pohon. Museum Taman Prasasti menurutnya merupakan kuburan yang bagus, sama sekali tidak seram bahkan akan sangat indah bila malam hari. Hanya saja lagi-lagi banyak nyamuk. Namun demikian Susely sangat senang karena bisa mengenal sejarah kota Jakarta.

Acara terakhir pun dilakukan dengan makan siang bersama. Lalu tepat pukul 13.00 kami kembali ke Senayan menggunakan busway, moda transportasi yang bebas macet dan hemat dalam pelepasan emisi karbon ini.


blog comments powered by Disqus
LAST_UPDATED2
 

15 Tahun Green Map


Galeri Foto

Open Green Map

OpenGreenMap

Green Map Atlas 2004

Green Map Atlas 2004

Green Map Impacts


GreenMap.Org


Pemeta Hijau

You are here  : Home Peta Hijau di Indonesia Jakarta Jakarta dari Mata Warga Muda