Jaringan Pegiat Peta Hijau Indonesia

Cinta Jakarta dengan Peta Hijau PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Riyanti Pakpahan   
Kamis, 15 Oktober 2009 18:11

Pembukaan Pameran Cinta Jakarta dengan Peta Hijau


Dalam rangka jelang peringatan 10 tahun Peta Hijau Jakarta (PHJ) tahun depan, komunitas PHJ menyelenggarakan rangkaian kegiatan yang meliputi pembuatan peta hijau, tur peta hijau dan pameran peta hijau. Salah satu kegiatan yang tengah berlangsung adalah Pameran Peta Hijau, mulai tanggal 10 hingga 25 Oktober 2009, yang digelar di Sekretariat Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) Jl. Veteran I No. 27 Jakarta Pusat.


Ikon Pameran Peta Hijau berbentuk bangunan dengan gambar hati di tengahnya, karena hati tempat kita menemukan rasa, termasuk rasa cinta untuk lebih mengenal budaya dan alam lingkungan Jakarta. Untuk itulah Peta Hijau menjadi alat untuk memberikan perbaikan dan perubahan, memetakan tempat yang bersifat positif maupun negatif. Dengan tujuan membantu masyarakat melihat, menilai, menghubungkan serta peduli bagi keberlanjutan kehidupan (sustainable living), alam (nature), serta sosial dan budaya (culture and society) kota kita.

Rangkaian Pameran Peta Hijau Jakarta dimulai dengan acara press conference dan talk show pada hari Sabtu, 10 Oktober 2009, pukul 09.00 – 12.00 WIB bertempat di Newseum Café, Jl. Veteran I, Jakarta-Pusat (dekat es krim Ragusa). Talk show membahas inisiatif warga mengatasi permasalahan di Jakarta.

Setelah dilakukan registrasi bagi para wartawan, pembagian press release, sticker, dan pin dari Peta Hijau Jakarta dan BPPI, maka pada pukul 09.30 diajak berkeliling mesjid Istiqlal dan jalan Veteran yang dipimpin oleh Koordinator Peta Hijau Jakarta, Mas Yudi (Nirwono Yoga). Selama perjalanan Mas Yudi menerangkan manfaat maupun masalah dari tempat-tempat yang ditemui.

Kembali dari tur, para peserta masuk ke ruang konferensi pers, di Newseum Café.  Hadir juga para narasumber, mereka adalah beberapa warga Jakarta yang telah berinisiatif membuat Jakarta menjadi kota yang lebih nyaman untuk ditinggali. Mereka adalah Pak Salam yang berupaya mengatasi masalah sampah kertas, Pak Santo yang konsisten mengatasi pencemaran dan melakukan penghijauan di bantaran kali Ciliwung, dan Pak Supardi yang berhasil menjadikan RW 03 Rawajati – Pancoran menjadi kampung hijau dan sering dijadikan percontohan atau studi banding oleh desa lain. Juga ada Chrisandhini yang ingin membantu mencerdaskan anak dengan menyediakan perpustakaan anak.

Acara ini dimeriahkan dengan performance dari Sanggar Anak Roda, berupa gabungan alat musik elektronik dengan angklung dan rebana. Juga dihadiri oleh Ibu Pia Alisjahbana selaku tamu kehormatan Peta Hijau Jakarta, Ibu Catrini dari BPPI dan beberapa sukarelawan baru PHJ.

Suasana café yang begitu gelap sedikit cahaya membuat sebagian wartawan ragu untuk masuk, sedikit spooky. Namun, setelah mengikuti acara pembukaan yang dilakukan oleh Shanty Syahril dari Peta Hijau Jakarta, dan penampilan Sanggar Anak Roda dengan beberapa lagu di antaranya berjudul Benderaku maka semua yang hadir menyimak acara yang begitu menarik.

Bincang awal dibuka oleh cerita dari Pak Salam yang dulu aktif di Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI). Beliau peduli pada masalah sampah kertas di kota Jakarta tercinta ini. Menurut beliau sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi juga tanggung jawab bersama, dimana produksi sampah kini mencapai 6.000 ton per hari. Untuk itu perlu adanya kampanye penanganan budaya sampah bagi masyarakat kota.

Kampanye peduli sampah kertas ini dimulainya sejak tahun 1996 ditujukan agar masyarakat mengerti mengelola sampah kertas dengan menjadikannya kertas daur ulang. Dengan niat yang tulus, Pak Salam ingin membuka mata hati masyarakat bahwa sampah, khususnya sampah kertas bukanlah menjadi masalah tapi dapat dijadikan bahan baku untuk memproduksi kertas daur ulang. Hasilnya, kertas tersebut dapat dijadikan tempat tissue, buku ataupun souvenir, dapat dijual kembali dan menambah penghasilan. Beliau juga membuka diri bagi siapa saja dari semua kalangan untuk belajar mengelola sampah agar masyarakat semakin yakin bahwa sampah sebagai bahan baku produksi, dan sesuai dengan kehidupan berkelanjutan (suistanable living).

Bincang-bincang diselingi oleh penampilan dari Sanggar Anak Roda, dengan membawakan lagu-lagu. Cerita dilanjutkan oleh Bapak Supardi, yang telah berjasa menggerakan warga RW 03 Rawa Jati – Pancoran menjadi kampung Hijau dari kawasan seluas 12,5 Ha yang gersang dan berdebu. Warga ingin menjadikan lingkungannya menjadi tidak gersang dan bebas dari asap pencemar udara.

Tujuannya adalah menciptakan lingkungan yang bersih dan hijau, agar hidup lebih sehat dan sejahtera. Guna mewujudkannya dilakukan sosialisasi dengan menanamkan kecintaan warga pada tanaman, dimana warga wajib menanam 5 tanaman dalam 5 pot dari kaleng-kaleng bekas. Setiap beberapa bulan jumlah kewajiban menanam tanaman bertambah, dari 5 menjadi 10 tanaman dan bertambah lagi menjadi 20 tanaman untuk periode bulan selanjutnya. Sosialisasi ini didukung oleh tim kesehatan, tim pertanian dan tokoh masyarakat.

Warga juga diajarkan untuk memilah sampah menjadi sampah organik dan anorganik. Sampah organik dijadikan kompos. Sedangkan sampah anorganik dilakukan daur ulang, seperti membuat tas dari plastik kemasan, pot dari styrofom bekas packaging alat-alat elektronik dan kertas koran dililit menjadi tali hiasan. Dan rencananya styrofom tersebut akan dibuat menjadi bata untuk langkah ke depannya.Upaya Pak Supardi yang peduli pada alam ini (nature) bersama warga membentuk 3 kelompok tani : - Kelompok benih jati yang menangani tanaman hias, kelompok Anggrek menangani bahan olahan pasca panen dan kelompok Kembang Jati yang mengurusi tanaman Toga. Ketiga kelompok tersebut dipimpin oleh ketua PKK, Ibu Hajjah Ninik Nuryanto.

Prestasi yang sudah dicapai sebagai berikut :

1. 2002 : Juara Toga di Jaksel
2. 2004 : Juara Rumah sehat dan Juara PKK DKI Jakarta
3. 2005 : Juara pelestarian lingkungan
          Juara Nasional Pelaksana Penghijauan, Kebersihan dan Lingkungan

Kampung hijau ini juga sudah menjadi kampung Argo wisata, dan telah dikunjungi oleh 24 negara dan tempat penelitian bagi mahasiswa dan umum.

Narasumber ketiga adalah Pak Santo. Bapak ini telah peduli pada kehidupan alam (nature) dan melakukan penghijauan di bantaran kali Ciliwung. Hal yang awalnya mendapat hambatan dari warga sekitar kali ini bermaksud untuk menjadikan lingkungan lebih bersih. Karena manusia mempunyai 3 hubungan yang harus dijaga untuk keseimbangan hidup, yaitu Hablumminallah (hubungan manusia dengan Tuhan), hablumminannas (hubungan manusia dengan manusia) dan hablummninnaum (hubungan manusia dengan alam sekitar). Maka dari itu perlu dilakukan penghijauan agar lingkungan lebih sehat dan bersih dengan keterbatasan. Dengan slogan : Jika ingin bersih jangan takut kotor.

Chrisandini, perempuan cantik ini begitu prihatin dengan minat baca anak-anak yang kini semakin menurun. Dengan banyaknya stasiun televisi swasta, games dan semakin mahalnya harga buku, Chrisandini membuka perpusatakaan untuk anak sejak tahun 2000. Upaya peduli dengan masalah sosial dan budaya (social and culture) anak-anak perkotaan ini menyediakan ruangan untuk dijadikan perpustakaan anak di Jl. Matraman. Ruangan berukuran 5 x 4 meter tersebut, minat baca anak-anak digugah dengan mengadakan kegiatan mendongeng, menulis surat, membuat komik maupun belajar menggambar.

Anak-anak diberikan kebebasan untuk membaca di tempat secara gratis, dan dikenakan biaya sewa yang sangat murah jika ingin meminjam untuk dibawa pulang. Hambatan dalam niat baik ini adalah terkadang orang tua tidak mengijinkan anaknya berkunjung di perpusatakaan ini, karena mereka begitu menikmati membaca sehingga suka lupa waktu untuk pulang ke rumah.

Ada juga yang menarik dari kisah Sanggar Anak Roda. Perkumpulan anak-anak musisi jalanan ini terbentuk sejak tahun  1998. Mulanya mereka hanya mengamen dari satu tempat ke tempat lainnya untuk memenuhi biaya hidup sehari-hari saja. Namun, ketika ada pertunjukan festival anak jalanan di Monas, Ibu Winda jatuh hati pada mereka dan berkeinginan untuk menjadi manager bagi mereka. Sebagai manager, Ibu cantik ini hanya memfasilitasi pendidikan mereka, didorong oleh semangat bahwa sebagai kaum marjinal mereka juga berhak mengenyam pendidikan yang baik dan menggapai mimpi-mimpi mereka.

Untuk tempat tinggal ada yang tinggal masih tinggal dengan orang tua mereka, dimana para orang tua diberikan pembinaan untuk  usaha dan mendapatkan penghasilan sendiri. Ibu Winda mengatur jadwal manggung agar tidak bentrok dengan jadwal sekolah, mempromosikan mereka dan mengatur kontrak untuk tampil. Selain itu, disiplin juga diterapkan seperti tidak boleh terlibat dalam narkoba, merokok, maupun hal-hal buruk lainnya yang dapat menghambat pencapaian cita-cita mereka. Jika kedapatan ada yang terlibat dalam hal-hal tersebut, Ibu Winda tidak segan-segan mengeluarkan mereka dari tim sanggar tersebut. Hasilnya, mereka yang disiplin dan tunduk pada peraturan dapat bersekolah dengan prestasi yang cukup baik, bahkan salah satunya ada yang sudah kuliah di Universitas Negeri Jakarta, Rafi, jurusan sastra Inggris.

Kurang lebih pukul 12.00 WIB, acara pun ditutup dengan makan siang. Dan peserta pun pulang. Namun Pameran Peta Hijau tetap berlangsung sampai tanggal 25 Oktober 2009. Pada hari Sabtu – Minggu/ pk. 12.00 - 20.00 WIB. Senin – Jumat/ pk. 16.00 - 20.00 WIB, di Griya BPPI - Badan Pelestarian Pusaka Indonesia, Jl. Veteran I No. 27 , Jakarta Pusat (dekat Es Krim Ragusa).


Tulisan ini dimuat di situs Wikimu.


blog comments powered by Disqus
LAST_UPDATED2
 

15 Tahun Green Map


Galeri Foto

Open Green Map

Green Map Atlas 2004

Green Map Atlas 2004

Green Map Impacts


GreenMap.Org


Pemeta Hijau

You are here  : Home Peta Hijau di Indonesia Jakarta Cinta Jakarta dengan Peta Hijau