| Jelajah Peta Hijau Jakarta bersama Sahabat WWF |
|
|
|
| Ditulis oleh Riyanti Pakpahan |
| Selasa, 07 Juli 2009 19:17 |
|
Menelisik Anasir Hijau di Pusat Metropolis ![]() Komunitas Peta Hijau Jakarta mengadakan kegiatan jelajah “Wisata Hijau Jakarta” pada hari Sabtu, 4 Juli 2009. Jelajah yang bekerja sama dengan WWF (World Wildlife Fund) Indonesia ini diikuti sekitar 60 orang peserta, termasuk para sahabat WWF. Hadir pula suporter kehormatan WWF, Davina Hariadi. Peserta diajak mengunjungi tiga lokasi peta hijau, yaitu Waduk Setiabudi, Taman Tangkuban Perahu, dan Rumah berarsitektur hijau. Wisata Hijau Jakarta ini bertujuan mengajak masyarakat agar lebih mengenal lingkungan dan kehidupan kota Jakarta, khususnya ruang terbuka yang masih hijau, dengan memanfaatkan moda transportasi publik dan berjalan kaki.
Para peserta jelajah berkumpul di kantor WWF di Jl. Denpasar, Kuningan, Jakarta, pada pukul 08.00. Mereka dibagi menjadi 5 kelompok, dipimpin oleh seorang pemandu dari komunitas Peta Hijau Jakarta. Setelah mendapatkan 2 peta hijau Jakarta (edisi kelima dan keenam) dan ringkasan tempat-tempat yang dituju, peserta berangkat menuju Halte Halimun, naik bus TransJakarta menuju Waduk Setiabudi Timur di Jl. Sultan Agung. Menjenguk Isi Waduk Waduk Setiabudi terdiri dari dua bagian, yaitu Timur dan Barat. Kami mengunjungi Waduk Setiabudi Timur, yang didirikan pada tahun 1973 dengan 3 unit pompa, serta mendapatkan tambahan 3 unit pompa pada tahun 2004. Waduk yang dikelola oleh Pemerintah DKI Jakarta ini mempunyai luas 3 ha dan berfungsi sebagai pengendali banjir di wilayah Kuningan, Menteng, dan Menteng Atas. Banjir besar yang meluap hingga ke perumahan warga pernah terjadi pada tahun 1996, 2006, dan terakhir 2007. Waduk juga berfungsi untuk menampung air buangan kota sebelum dialirkan ke sungai (kanal banjir barat) menuju laut dan dikontrol oleh Perusahaan Daerah PAL Jaya. Pada proses itu, air yang masuk ke waduk akan dipisahkan dari sampahnya melalui alat screen; sampah diangkat melalui conveyor dan ditampung ke dalam bak. Setelah sampah tertampung banyak di bak, lalu diangkut ke Bantar Gebang, setidaknya setiap 1 minggu. Namun, pada musim hujan bak lebih cepat penuh karena banyak sampah yang terangkut bersama air ke waduk, akibat warga sering membuang sampah sembarangan. Air yang sudah diuraikan dari ion-ion polutan dengan reaktor listrik bertenaga besar, dan sudah memenuhi syarat ambang batas air aman dialirkan ke sungai. Satu pompa dapat mengelola air limbah 1,7 m3 per detik. Menurut salah seorang operator, Ahmad Syafii, pengujian air di laboratorium kerap dilakukan PAL secara berkala, untuk mengetahui perkembangan struktur air. Ruangan mesin dengan berbagai panel tempat mengoperasikan pompa dan conveyor terletak di lantai dua. Pada saat kunjungan, hanya satu pompa saja yang bisa dioperasikan, sedangkan yang lainnya rusak, sehingga hasilnya tidak optimal. Waduk yang juga menjadi habitat ikan lele ini mempunyai kedalaman lumpur hampir setengah dari kedalaman air (1,5 meter), berbau busuk, dan berwarna gelap. Maklum air di sini adalah buangan limbah rumah tangga maupun perkantoran yang ada di kawasan Rasuna Said, Jakarta. Bercengkerama di Taman Kota Tujuan selanjutnya adalah Taman Tangkuban Perahu, sebuah ruang terbuka dari konsep kota taman Menteng yang dikembangkan oleh FJ Kubatz sejak tahun 1914. Taman lingkungan ini dikelilingi perumahan yang berfungsi sebagai taman interaksi sosial warga. Pada konteks seakarang, keberadaan taman ini mendukung upaya Jakarta untuk memenuhi Undang-Undang No.26/2007 tentang Penataan Ruang pasal 29 dan Permendagri No.1/2007 tentang Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau di Wilayah Perkotaan. Pada pasal 9 tertulis syarat bahwa setiap kota harus memiliki ruang terbuka hijau (RTH) minimal 30% yang terdiri atas RTH publik 20% (dimiliki pemerintah, seperti hutan kota, taman kota, dan lain-lain) dan RTH privat 10% (halaman rumah, kantor, sekolah, pabrik, dan lain-lain). Taman ini dilengkapi fasilitas arena bermain anak serta lapangan olah raga ,seperti fasilitas jalan berbatu untuk refleksi dan terapi. Rumput di sini tampak kering dan masih ada sampah di sana sini. Beberapa tanaman-tanaman baru, seperti srikaya, rambutan, mangga, dan lainnya tampak mengisi beberapa bagian taman. Sebuah permainan sederhana dilakukan di taman ini. Peserta diminta mencari nama pohon-pohon yang tertulis dalam nama latinnya dalam waktu singkat. Selanjutnya, pemenang harus berjalan di atas jalan berbatu kerikil untuk mendapatkan hadiah voucher makan di Sushigroove senilai Rp 100.000,-. Rumah Hijau di Tengah Jakarta Usai permainan, perjalanan dilanjutkan ke rumah hijau, di Jl. Tangkuban Perahu No. 20, Guntur, Menteng. Rumah rancangan arsitek Aro Purnomo ini mempunyai konsep hemat energi dan ramah lingkungan serta mendapatkan penghargaan sebagai rumah hunian terbaik versi IAI 2005. Rumah tinggal milik Bapak Haryo dan Ibu Sandra ini mempunyai pagar rumah dari tanaman/pohon bambu cina, lengkap dengan kolam ikan dan taman koralnya. Pemanfaatan sedikit alat pendingin udara (AC) dikarenakan atap rumah yang cukup tinggi dengan banyak jendela untuk sirkulasi udara. Bangunanan seluas 200 m3 diatas tanah seluas 425 m3 ini mempunyai dinding yang sengaja tidak dicat, sehingga bisa menurunkan suhu sekitar 1-2 derajat celcius serta bebas pengaruh kimiawi dari cat tembok. Para peserta dipandu memasuki semua ruangan, mulai ruang tamu dengan kursi-kursi kayu dan tanaman anggrek di sana-sini, ruang tengah (ruang teater), lalu naik menyusuri tangga yang ditumbuhi rumput-rumput kecil ke lantai 2. Lalu tiba di kamar tidur dengan jendela yang besar dan menghadap ke taman kecil. Dapur yang mempunyai lorong kecil mengarah ke ruang depan, kolam ikan dan ruang teater (ruang tengah), juga dilewati. Jendela yang besar dan banyak memungkinkan sinar matahari masuk ke rumah dan sejuk, sehingga penggunaan listrik dapat dikurangi. Pada bagian atap rumah ini dibuat atap rumput (green roof, green garden). Menurut Ibu Sandra, rumah hijau ini dibangun untuk memenuhi keinginannya memiliki teater terbuka. Arsitek Ari Purnomo pun menerjemahkannya dengan membuat teater terbuka di tengah dengan tangga menuju lantai 2, yang berfungasi pula sebagai tempat duduk para penonton. ![]() Pembangunan rumah yang dilakukan pada tahun 2004 hingga 2005 ini menggunakan banyak bahan-bahan bekas, seperti kayu-kayu penyangga yang merupakan kayu bangkirai bekas dan bisa bertahan selama lebih kurang 30 tahun. Tanaman pun ditanam di dalam pot-pot dari kaleng bekas. Rumah hijau ini juga kerap kali digunakan untuk pertunjukan teater, setting pembuatan iklan ataupun film. Oleh karena arsitekturnya yang unik dan begitu hijau, para pemerhati bangunan dan arsitek pun banyak yang bertandang untuk melihat dan akhirnya terinspirasi untuk membuat rumah hijau lainnya di Jakarta. Usai makan siang bersama dan diskusi, di akhir acara ada penyerahan poster Peta Hijau Situ-situ di Jakarta. Koordinator Peta Hijau Jakarta Nirwono Joga menyerahkan poster kepada Muslim Aid, Institute for Transportation & Developement Policy (ITDP) selaku sponsor peta ini, dan WWF sebagai mitra kegiatan ini. (*) Foto : Arief Darmawan
|
| LAST_UPDATED2 |