| Peta Hijau di Indonesia |
|
|
|
| Ditulis oleh Elanto Wijoyono |
| Rabu, 11 Februari 2009 00:00 |
|
Diskusi Awal Pekan bersama Indonesian Heritage Society Penghargaan terhadap kekayaan pusaka (heritage) alam dan budaya Indonesia bisa muncul dari siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Bukan pula cerita baru ketika warga negara asing sudah sejak lama menaruh perhatian terhadap kekayaan tersebut. Namun, kini perhatian itu kini mewujud sebagai sebuah upaya untuk mendukung pelestarian pusaka saujana Indonesia, seperti yang dilakukan oleh sekelompok warga negara asing yang tinggal di Jakarta dan membentuk kelompok bernama Indonesian Heritage Society. Paguyuban pemerhati kelestarian yang beranggotakan hampir semuanya perempuan ini memiliki banyak kegiatan, mulai dari jelajah pusaka dalam beragam bahasa, pengelolaan perpustakaan, jelajah museum dalam beragam bahasa, pelatihan bahasa, serta berbagai sesi diskusi. Pada Senin (09/02) lalu, Peta Hijau (Green Map Indonesia) mendapatkan kesempatan untuk mengisi diskusi mengenai peran peta hijau yang telah dilakukan selama ini di Indonesia, termasuk dalam upaya pelestarian pusaka Indonesia. Bertempat di kediaman Nina Taneja, keluarga berkebangsaan India yang telah lama menetap di Jakarta, presentasi Peta Hijau dimulai pada pukul 10.00 pagi. Marco Kusumawijaya, yang telah mengenal baik paguyuban ini dalam beberapa kegiatannya, mengawali presentasi mengenai konsep Peta Hijau, sejarah, dan perkembangannya hingga kini; terutama di Indonesia. Perintis Peta Hijau di Indonesia ini juga menjelaskan bagaimana peta hijau bisa dimanfaatkan sebagai metode pendidikan lingkungan untuk segala usia. Presentasi kedua disampaikan oleh Elanto Wijoyono dari Yogyakarta, mengenai proses pengerjaan Peta Hijau Mandala Borobudur yang sedang berlangsung saat ini. Acara ini kemudian dilanjutkan dengan diskusi. Arah diskusi lebih banyak mengulas peran dan pengalaman Peta Hijau di Jakarta, Yogyakarta, dan Borobudur. Gelaran yang dipandu oleh pegiat utama Indonesian Heritage Society Ro King ini berakhir jelang tengah hari setelah tercapai pemahaman bersama mengenai upaya-upaya pelestarian pusaka Indonesia yang bisa ditempuh dengan metode pemetaan lingkungan berbasis komunitas. Sayang tak banyak pegiat utama Green Map Jakarta yang bisa turut hadir berdiskusi karena acara ini dilakukan di hari kerja pertama di awal pekan. |
| LAST_UPDATED2 |