| Memetakan Yang Hijau di Koridor Busway |
|
|
|
| Ditulis oleh Bayu Wardhana |
| Selasa, 28 Oktober 2008 16:57 |
|
Sabtu, 25 Oktober lalu, pegiat Peta Hijau (greenmapper) Jakarta, kembali beraksi mencari yang ‘hijau-hijau’. Kali ini sasarannya di sepanjang koridor busway jalur 1 (Kota-Blok M), 2 (Harmoni – Pulogadung) dan 3 (Pasar Baru- Kalideres). Ada 21 relawan selama setengah hari, dari pagi sampai sore, menyusuri dan memetakan sekitar 30-an titik. Peta hijau sendiri adalah peta yang dibuat oleh partisipasi warga, untuk menandai lokasi-lokasi ‘hijau’ , sehingga memudahkan atau memberi informasi pada warga, tempat-tempat tersebut. Apa yang disebut hijau, tidak selalu berupa taman, hutan kota, tapi juga termasuk fasilitas umum, museum, tempat pengamatan burung, tempat recycle, outlet makanan organik dan sebagainya. Lebih detil lagi dapat dilihat di www.greenmap.org (Internasional) dan http://greenmap.or.id (Indonesia).
Kembali ke aktivitas peta hijau Jakarta, tepat pukul 08.00 WIB para relawan sudah berkumpul di halaman parkir pertokoan Duta Merlin, Jakarta Pusat. Ada yang baru pertama kali ini ikutan peta hijau, ada juga yang sudah ‘hijau tua’ dalam memetakan lokasi ‘hijau’ ini. Tapi ini bukan suatu masalah, karena pada dasarnya memetakan peta hijau ini mudah dan mereka yang sudah pengalaman pun dengan senang hari berbagi pengetahuannya. Sebagian yang hadir sebagai individu, sebagian lagi ada yang mewakili komunitas-komunitas yang ada di ibukota negara ini. Setelah briefing dan pembagian kelompok, tepat pukul 09.00 WIB, relawan bergerak memasuki halte (busway) Harmoni. Masing-masing kelompok menyusuri daerah-daerah tertentu , yang rata-rata terdiri dari 5-6 halte busway ini. Pukul 12.00-13.00 WIB, penggiat peta hijau ini berkumpul kembali di gedung ITDP di Harmoni. Selama 3 jam (13.00 – 16.00), semua kelompok berdiskusi dan mensharingkan pengalaman di lapangan. Ternyata temuan-temuannya luar biasa dan tak terduga. Ada yang menemukan lokasi recycle di daerah Kalideres, kampung hijau di Benhil, usaha kecil tanaman obat di Benhil, bangunan-bangunan sejarah di seputaran Monas, tempat ‘meeting pointnya’ para pemulung, tempat pengamatan burung, dll. Bahkan ada kelompok yang sampai menemukan ‘petilasan’ (makam tokoh) di jalur hijau. Temuan-temuan di atas, beberapa tidak akan kita temukan kalau mencari di internet, entah lewat “mBah Google” maupun “Eyang Yahoo”. Karena ada beberapa hal yang hanya bisa ditemukan dengan kita benar-benar survei langsung di lapangan. Di sinilah kelebihan dari aktivitas peta hijau, semua dilakukan dengan langsung ke lapangan. Data-data yang sudah terkumpul, nantinya akan diwujudkan dalam sebuah peta, seperti umumnya kita membeli di toko buku. Namun isi atau informasinya yang akan berbeda jauh. Di peta hijau ini kita akan menemukan di mana masih ada pohon langka, di mana kita bisa berhenti sejenak melepas lelah, di mana kita belanja bahan-bahan alami, di mana kita bisa menggunakan jalur sepeda dengan aman, dan seterusnya. Apakah pemetaan ini cukup sampai hari Sabtu kemarin? Tentu tidak, masih ada 4 koridor busway lagi (4-7) yang akan disurvei pada tanggal 1 dan 8 Nopember 2008 mendatang. Juga masih perlu survey di jalur kereta dan jalur sepeda, karena peta ini akan dibuat berbasiskan 3 moda transportasi tersebut. Rencananya peta hijau Jakarta ini akan diluncurkan pada awal tahun 2009 mendatang. Siapa saja yang boleh ikut survei? Semua orang yang punya kepedulian pada lingkungan, boleh ikut memetakan. Karena peta hijau pada dasarnya cukup mudah dipraktekkan. Sebagai contoh di Jepang, anak-anak sekolah tingkat elementary (SD) pun diajari bagaimana membuat peta hijau untuk di daerah mereka. Bila teman-teman minat terlibat atau memberikan informasi lokasi-lokasi hijau di dalam kota Jakarta, kirimkan info ke email : Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya .
Tulisan ini telah dimuat di situs Wikimu.com |