| Merambah Khasanah Melayu Deli |
|
|
|
| Ditulis oleh Elanto Wijoyono |
| Jumat, 14 Maret 2008 07:00 |
Kisah di Balik Gelaran Peta Hijau di MedanLepas tengah hari untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di tanah Sumatera, yang tak sempat kulakukan di Padang dua jam sebelumnya saat transit karena keluar dan masuk pesawat melalui garbarata. Wew, begitu keluar pintu Bandara Polonia Medan langsung terbentang riuh rendah lalu lintas pusat kota. Sejenak menunggu, Kak Esther, begitu staf pengajar Sastra Jepang di Universitas Sumatera Utara (USU) ini biasa dipanggil oleh para mahasiswanya, datang menjemput dengan mobilnya. Persinggahan pertama tentu saja tempat makan siang. Aha, masakan rumah makan Padang adalah makanan pertama yang kusantap di Medan.
Atas undangan dari Fakultas Sastra USU, aku dan Pak Marco Kusumawijaya diundang ke Medan untuk menjadi pengisi lokakarya peta hijau selama tiga hari. Kamis (28/02) aku tiba untuk memberikan materi pendahuluan, sedangkan Pak Marco akan menyusul esok sorenya. Sudah lebih dari empat bulan yang lalu rencana peta hijau Medan ini dimunculkan oleh Kak Esther (aku menyebutnya Mbak Esther; sangat Jawa rasanya haha). Rencana itu pun terwujud usai Kak Esther mengoordinasikannya dengan pihak Fakultas Sastra (FS) USU yang dengan senang hati bersedia memfasilitasi proyek peta hijau pertama di Sumatera Utara ini. Setelah sempat mampir ke Museum Negeri Sumatera Utara untuk menyampaikan undangan, dan bertemu kepala museum yang kebetulan alumnus Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, aku dan Kak Esther bertemu dengan Dekan FS USU Wan Syaifuddin yang berperan sebagai Koordinator Proyek Peta Hijau Saujana Budaya Melayu Kota Medan ini. Sejumlah mahasiswa sastra juga turut bertemu dekan. Ternyata, hampir semua dari mereka baru pertama kali itu masuk ke ruang dekan.. huehue. Acara sore itu lalu dilanjutkan dengan materi pendahuluan yang diikuti oleh belasan mahasiswa Fakultas Sastra dan Fakultas Teknik USU. Sesi perkenalan tentu saja menjadi pembuka, kemudian dilanjutkan dengan penyepakatan agenda lokakarya bersama-sama usai penjelasan program oleh Kak Esther. Pembagian kelompok untuk sesi esok hari pun langsung dilakukan mengingat begitu terbatasnya waktu lokakarya ini. Menjelajah menuju pemahamanLewat sekian menit dari jadwal keesokan harinya, Jumat (29/02), tidak membuat beberapa mahasiswa yang telah menanti di depan gedung itu beranjak. Sesi lokakarya berikutnya pun segera dibuka dengan mendiskusikan bersama sejarah dan perkembangan kawasan Kesultanan Melayu Deli dan Kota Medan, dulu hingga kini. Peserta lokakarya diajak untuk membaca kota mereka sendiri melalui peta. Sistem ikon peta hijau kemudian dikenalkan sebagai alat untuk membantu pembacaan kawasan yang akan dipetakan. Proses pun berlanjut ke pengenalan metodologi survei peta hijau hingga saatnya berangkat menuju kawasan Istana Maimoon dengan menggunakan angkutan kota. Lepas dari lalu lintas Kota Medan yang sangat hidup dan penuh semangat, tim tiba di Istana Maimoon. Tengku Harris Abdullah, Ketua Umum Yayasan Sultan Ma moen Al Rasyid, yang mengemban peran mengelola kompleks istana menyambut kami. Obrolan singkat bersama pegiat pelestari budaya tersebut mengawali pertemuan sebelum kemudian tim berpisah untuk melakukan survei lapangan. Satu kelompok melakukan survei di kompleks Istana Maimoon, satu kelompok di kompleks Masjid Al Makmun (Masjid Raya), satu kelompok mensurvei kompleks Taman Sri Deli, dan kelompok terakhir menyambangi kawasan aliran sungai dan permukiman di belakang kompleks istana Maimoon. Kawasan istana dan masjid yang dibangun pada akhir abad XIX dan awal abad XX ini menjadi titik awal pemetahijauan saujana budaya Melayu Kota Medan. Baik tim pemeta yang terdiri dari para mahasiswa maupun pegiat pelesta ri her itase bisa mewakili harapan warga kota Medan yang ingin kawasan ini bisa tetap lestari. Memang heritase ini adalah warisan budaya Melayu, tetapi mereka bersepakat bahwa itu seharusnya bisa menjadi kebanggan seluruh masyarakat kota Medan dan Sumatera Utara yang majemuk. Kawasan budaya Melayu ini sudah seharusnya menjadi perpustakaan tiga dimensi yang akan bersanding dengan heritase budaya lain di Medan, seperti pecinan, bangunan kolonial, perkotaan dan perdesaan, hingga adat dan tradisi setempat. Peta Hijau Saujana Budaya Melayu Kota Medan diharapkan akan menjadi awal pemetahijauan saujana budaya yang lebih luas itu nanti pada tahap berikutnya. Melihat lebih dalam kota kitaSeri diskusi panel dengan diawali presentasi hasil pemetaan per kelompok menjadi agenda jelang sore hingga larut malam di Kampus USU. Banyak pengenalan dan pemahaman baru muncul di diskusi yang melibatkan mahasiswa dari berbagai macam latar belakang ini. Mendasarkan pembahasan pada ikon-ikon peta hijau, tim coba mendialogkan antara fenomena bernilai positif dan negatif yang ditemui di lapangan dan penyikapan mereka atas data tersebut. Berbagai usulan solusi dan rekomendasi pun termunculkan untuk mengatasi permasalahan yang dirasa ada.
Hasil tinjauan tim pemeta itu menjadi langkah awal pemetaan yang mereka presentasikan pada keesokan harinya, Sabtu (01/03), di hadapan seratusan peserta Seminar Peta Hijau Saujana Budaya Melayu Kota Medan. Puluhan siswa sekolah menengah atas dan para mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Medan yang sengaja diundang hadir bersama para guru dan dosennya menjadi sasaran harapan bahwa mereka pun bisa melakukan inisiatif yang sama. Ketika inisiatif pengenalan kawasan serupa muncul di lingkup ruang masing-masing maka akan terjelmakanlah suatu mozaik peta hijau saujana Kota Medan yang utuh. Kalangan pelajar dan mahasiswa sebagai agen terdepan pelestari sudah terterapkan di banyak kota dan kawasan di Indonesia dan dunia. Pegiat peta hijau di seantero Taiwan misalnya, proyek peta hijau siswa sekolah menengah itu mampu mempengaruhi kebijakan publik di Taipaei dan Hsinchu. Siswa sekolah menengah di Aichi, Jepang pun bisa melakukan hal yang sama untuk memberikan inspirasi pengelolaan lingkungan di skala kota dan prefecture yang lebih baik berdasarkan data pemetaan yang mereka hasilkan. Juga di Buton, Sulawesi Tenggara serta Kotagede, Yogyakarta, ketika para pegiatnya yang sebagian besar adalah mahasiswa mampu mengajak keterlibatan lebih banyak pihak untuk menaruh perhatian pada kekayaan heritase budaya dan kemudian bersama-sama menyamakan langkah untuk melestarikannya. Lalu, untuk apa semua itu perlu dilakukan? Pemaknaan teman-teman Medan akan mengawali pemahaman akan manfaat proses ini. Kita tunggu kelanjutannya
|
| LAST_UPDATED2 |