Jaringan Pegiat Peta Hijau Indonesia

Ada apa ini ribut-ribut? PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Hani Raihana   
Kamis, 07 Agustus 2008 11:07

Meneguhkan Peran Remaja untuk Lingkungan

"Ada apa ini ribut-ribut? Ada apa ini?" tukas Pak RT mendatangi kerumunan warga.
"Ini lho, Pak. Ibu ini membuang sampah di selokan," gerutu anak-anak pecinta lingkungan.
"Mbok ya buang sampah itu di tempat sampah, Bu," Pak RT mengusulkan.
"Uh, repot. Lagian nda ada duit. Wong selokan ini selokanku juga kok," seloroh si ibu.

Itu tadi cuplikan role play yang diperankan siswa-siswa SMP sekitar Dusun Banteng, peserta kemah remaja untuk lingkungan hidup DIAN/Interfidei dan Pemuda Dusun Banteng. Pada kemah yang dilaksanakan di Kompleks Puskat, Sinduharjo, Sleman pada 2-3 Agustus 2008 lalu, Komunitas Peta Hijau diminta turut serta menjadi narasumber sekaligus fasilitator.

Sabtu (02/03) malam, diawali dengan pemutaran film bertema lingkungan sebagai sarana pemancing diskusi. Ada beberapa film yang disiapkan. Namun berhubung ada masalah teknis, tidak semua film bisa ditonton. Film pendek Recycling is Fun, How to Save Energy at Home, dan Film Green Map Cuba Drop by Drop pun naik tayang. Sebelumnya, peserta diajak dialog tentang masalah lingkungan di rumah dan sekolah. Di sela itu, ada Komunitas Tikar Pandan yang mendendangkan dua lagu rancak menambah hangat suasana malam.

Keesokan harinya, peserta kemah remaja diajak untuk menjelajah lingkungan sekitar. Lima puluh lima siswa terbagi dalam empat kelompok jelajah, dengan dipandu Pemuda Dusun Banteng dan fasilitator Peta Hijau. Walaupun tanpa peta, masing-masing kelompok mendapat misi memetakan kawasan sekitar Puskat. Bukan hanya itu, selama perjalanan, mereka mesti menemukan masalah lingkungan dan mencari solusi permasalahan tersebut.

Cukup mudah bagi anak-anak usia SMP untuk menemukan masalah lingkungan di tempat yang mereka lalui. Benar saja, saat melihat coret-coret di dinding, Dimas, peserta dari SMP PIRI nyeletuk, Tembok yang dicoret-coret ini juga masalah. Masih banyak masalah lainnya, mulai dari banyaknya lahan kosong dengan sampah teronggok, got mampet dan membawa aroma tak sedap, sungai kering yang dipenuhi sampah, hingga ibu-ibu yang membuang sampah ke got.

"Nggak ada dana. Sekarang warga sedang banyak iuran untuk Tujuhbelasan, barusan juga memperbaiki pos kamling. Jadi belum ada dana untuk menutup got yang bau," tukas Bu RT saat ditanya anak-anak.

Lain lagi dengan pernyataan seorang warga soal kondisi lingkungan tempat tinggalnya. Sampahnya itu dari perumahan Dayu di ujung sana. Yang kena masyarakat sini. Dulu memang kita pernah membersihan sampah di sungai. Tapi sekarang, gimana ya Wong yang membuang (sampah) warga perumahan di utara sana, keluh seorang warga RT 3.

Pemahaman solutif mereka pun mampu spontan muncul. Cukup sederhana, tetapi tepat guna. Tengoklah ketika satu kelompok menemukan lahan kosong yang digunakan warga sekitarnya sebagai tempat pembuangan sampah. Sebuah plakat peringatan terb uat dari styrofoam bekas mereka tulisi dan pasang dengan peringatan Dilarang Buang Sampah!, seketika usai diskusi singkat mereka untuk mencari bagian solusi dari masalah yang ada di depan mata mereka.

Ya, dan kelompok pun berdiskusi tentang penemuannya di lapangan sekaligus mempresentasikannya dalam bentuk bermain peran. Mereka sangat paham dengan sampah, organik-anorganik, polusi, juga budaya yang buruk tentang lingkungan. Ini terlihat dari antusiasme anak-anak yang selalu berhenti dan mencatat temuan mereka di buku catatan. Percaya atau tidak, ternyata, sosok Pak RT selalu jadi tokoh utama dan idola sebagai penengah masalah dalam masyarakat. Semua pemeranan selalu mengangkat Pak RT sebagai pihak yang dipatuhi masyarakat.

Kegiatan dua hari ini memang dikemas secara cair dan bebas. Menjelajah dan wawancara warga memberi mereka pelajaran untuk bisa melihat langsung masalah dan opini masyarakat. Bermain peran pun memberikan pemahaman peran apa saja yang dilakoni oleh setiap pihak di lingkungannya. Dari sini, mereka akan terbantu untuk memposisikan diri pula untuk turut mengelola lingkungan disekitarnya. Lebih dalam, anak-anak SMP ini mendapatkan pemahaman bahwa mereka pun mampu berperan juga dalam pelestarian lingkungan, serta menjadi bagian dari solusi.

"Jadi, ada apa ini? Ada apa ini kok ribut-ribut?" tukas Pak RT menengahi.

Hani Raihana

Fasilitator Peta Hijau Yogyakarta:
Elanto Wijoyono
Hani Raihana
Thomas Widiyanto

Album foto kegiatan bisa dilihat di sini

blog comments powered by Disqus
LAST_UPDATED2
 

15 Tahun Green Map


Galeri Foto

Open Green Map

Green Map Atlas 2004

Green Map Atlas 2004

Green Map Impacts


GreenMap.Org


Pemeta Hijau

You are here  : Home Peta Hijau di Indonesia Yogyakarta Ada apa ini ribut-ribut?