| Berbagi Semangat di Akhir Pekan (2) |
|
|
|
| Ditulis oleh Elanto Wijoyono |
| Senin, 05 Mei 2008 07:00 |
International Day Berasa LokalSemangat kembali memuncak sejak pk 07.00 (04/05) pagi beberapa green mapmakers Yogyakarta bersua lagi. Kali ini untuk meramaikan gelaran International Days 2008 yang diadakan oleh teman-teman mahasiswa yang tergabung dalam Komahi Korps Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM). Kebetulan memang, beberapa mahasiswa yang aktif di Komahi adalah juga relawan Peta Hijau Yogyakarta.
Rangkaian acara yang meliputi sepeda gembira, festival makanan tradisional, seni pertunjukan tradisional, dan dolanan bocah ini juga diisi oleh beberapa stand komunitas. Tentu saja komunitas Peta Hijau Yogyakarta adalah salah satunya. Kalau tidak, tentu tidak akan dijadikan artikel kan ^^
Melokalkan semangat global, bertindak untuk sekitarTajuk International Days yang dihadapkan dengan sajian-sajian acara bertema tradisional memberikan warna tersendiri. Hal itu tak berbeda jauh dengan semangat Peta Hijau, untuk melokalkan wacana global ke dalam ranah lokal melalui kegiatan pemetaan partisipatorisnya. Gerak sosial warga yang berjaringan, baik pada level lokal hingga internasional, seperti yang digiatkan oleh Green Map memang bukanlah hal yang baru. Namun, Green Map muncul dengan membawa pendekatan yang agak berbeda dengan metode pemetaannya itu. Sisi pemeberdayaan masyarakat lokal untuk menuju kemandirian dalam bersikap dan bertindak, dituju dengan cara belajar bersama. Bersama-sama mencoba mengamati, mendalami, dan mendiskusi kembali apa saja yang ada di sekitar kita. Mulai dari hal yang berpotensi positif hingga yang negatif, adalah elemen-elemen keseharian yang membentuk budaya. Namun, justru yang menjadi keseharian itulah yang sering terlupakan dan terabaikan walaupun itu penting sekalipun. Salah satu kredo yang didengungkan dalam Peta Hijau Sahabat Sepeda adalah ungkapan Slow down, you move too fast! . Ungkapan ini tak hanya berlaku dalam keseharian berlalu lin tas, bahwa den r gan melambat maka kita akan bisa melihat, memahami, dan menghargai lebih banyak hal di jalan dan kehidupan di sekitarnya. Namun, pada ranah yang lain, melambat berarti pula untuk kembali menengok kekayaan dan masalah apa saja yang kita punya, memetakannya, mendiskusikannya, dan (meminjam istilah Pak Marco) menjadikannya sebagai alat untuk mengenali kesempatan bertindak. Tentu saja, pilihan untuk bertindak yang paling bijak akan bisa ditentukan jika kita mengetahui dasar kenyataannya. Tidak asal tabrak, tidak asal tebak. Itulah inti dari peta hijau. Mari berpetahijau!
|
| LAST_UPDATED2 |