Jaringan Pegiat Peta Hijau Indonesia

Mengulik Makna Pelestarian di Kawasan Perkotaan PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Elanto Wijoyono   
Senin, 14 Januari 2008 00:00

Workshop What about Cultural Heritage bersama Krijn Christiaansen

We are not looking for the beauty of the monument itself, but for the the admiring of others that saw this monument before. We first look towards what you should have seen , the so called curiosity (or in Lonely Planet language place to go ). Baudelaire

Kalimat itulah yang menginspirasi Krijn Christiaansen untuk mencoba merekam pemaknaan masyarakat Yogyakarta saat ini terhadap beberapa tinggalan budaya yang ada di sekelilingnya. Seniman, yang tak mau mengaku seniman, asal Belanda peserta program residensi LANDING SOON #5 Rumah Seni Cemeti ini pun mengusulkan sebuah workshop untuk mengaji ulang cara warga Yogyakarta berinteraksi dengan pusaka budaya di sekelilingnya. Bekerja sama dengan Komunitas Green Map Yogyakarta, workshop itu pun terlaksana pada hari Sabtu, 6 Januari 2008 lalu.

Muara Pelestarian Pusaka Budaya

Seri diskusi terbatas mengawali; mencoba mengulik lebih dalam konsep pelestarian. Faktanya, ketika heritage (pusaka budaya) dikonservai dan dipelihara, kerap kali akhirnya hanya menjadi sebuah monumen. Ketika ditinjau lebih jauh, ternyata konsep ini merujuk pada yang biasa terjadi di dunia Barat, tempat kebanyakan bentukan bersejarah dibangun kembali seperti semula dan diawetkan oleh badan tertentu, seperti UNESCO. Atau, terawetkan dalam rak-rak kaca dalam museum.

Heritage pun akhirnya menjadi monumen (yang dalam Bahasa Latin, monumentum, monere yang berarti mengingat ). Kondisi saat ini, monumen-monumen itu menjadi objek kunjungan wisata yang ditujukan untuk menginformasikan sejarah, bentuk, dan cerita di balik tinggalan budaya itu. Namun, ketika seseorang datang sebagai wisatawan dan mendapatkan informasi mengenai objek yang dikunjunginya itu, apakah ia akan mendapatkan intisari, roh dari tinggalan budaya yang sarat nilai? Pun di Piramida Mesir, Borobudur, atau Museum Sonobudoyo Yogyakarta, apakah makna pusaka budaya itu bisa sejati tersampaikan kepada para pengunjungnya dengan kemasan monumen seperti saat ini?

Harus disadari, pada masyarakat Timur, banyak monumen (baca:tinggalan budaya) yang ada dan dipelihara tidak sekedar untuk diingat. Namun, tinggalan itu tetap menjadi bagian dari kehidupan keseharian, seperti yang bisa dilihat di bangunan-bangunan lama yang disucikan, tempat perayaan dan ritual masih terus diselenggarakan. Pada beberapa tempat, pemaknaan baru pun juga mendapatkan ruang. Kawasan kuno pun bisa menjelma menjadi ruang yang hidup dengan aktivitas baru tanpa merusak wajah kawasan itu sendiri.

Tiga kawasan bersejarah di tengah kota

Sejumlah 21 mahasiswa dari beberapa universitas di Yogyakarta (Univ. Gadjah Mada, Univ. Islam Indonesia, Univ. Muhammadiyah Yogyakarta, Institut Seni Indonesia) dan luar Yogya minggu lalu pun mencoba memetaan tiga kawasan bersejarah. Terbagi dalam tiga kelompok, para peserta memetakan kondisi terkini kawasan, mendokumentasikan dengan foto, serta melakukan wawancara pada orang-orang yang ditemui di tempat serta kepada beberapa nara sumber yang telah ditentukan. Hasil survei itu akan didiskusikan dan menjadi bahan penyusunan proposal yang memberi kan solusi pengembangan kawasan pusaka menjadi ruang publik yang mampu mewa dahi kegiatan komunitasny a.

Taman Sari cluster

Pesanggrahan Ambarukmo, Taman Sari, dan Alun-Alun Utara Kraton Yogyakarta dipilih sebagai tempat yang akan dipetakan oleh tiga kelompok yang berbeda. Pessanggrahan Ambarukmo menjadi contoh cluster pusaka budaya yang bersifat privat, hak milik oleh pihak Kraton Yogyakarta dan pengelolaan oleh manajemen Plaza Ambarukmo dan Ambarukmo Kraton Ngayogyakarta (AKN). Taman Sari menjadi contoh cluster pusaka budaya yang punya sisi privat, lahan kraton dan menjadi lokasi proyek monumen UNESCO, sekaligus sisi publik, bahwa kawasan ini telah menjelma menjadi permukiman padat atas izin sultan terdahulu, di sela-sela reruntuhan bangunan cagar budaya. Terakhir, Alun-Alun Utara Kraton Yogyakarta yang secara yuridis adalah milik kraton tetapi memiliki fungsi publik yang luas. Namun, sisi publik ini berpotensi terprivatisasi menjadi terbatas aksesnya dengan adanya rencana proyek parkir bawah tanah.

Langkah awal pelestarian

Acara workshop yang dipusatkan di Lobi Societeit Militer Taman Budaya Yogyakarta ini dimulai dari pagi hingga sore hari. Pada tengah hari selepas survei, arsitek-seniman Eko Prawoto hadir untuk berdiskusi dengan peserta workshop. Materi mengenai pemaknaan ruang dan waktu, terutama ditinjau dari sudut pandang seni menjadi masukan bagi peserta workshop.

Siang hingga sore hari kegiatan diisi dengan kerja per kelompok membuat proposal desain pengembangan tiga kawasan pusaka budaya dengan mengutamakan fungsi publik. Berbagai ide dan tawaran desain pun muncul dalam sesi presentasi hasil kerja kelompok. Berbagai pertimbangan pun didiskusikan untuk melihat lebih jauh desain mana saja yang mungkin untuk diterapkan.

Workshop sehari ini memang belum cukup untuk mendapatkan hasil perekaman dan desain yang lengkap. Namun, satu proses penyegaran mengenai konsep pelestarian pusaka budaya telah berhasil ditanamkan pada para peserta workshop. Komunitas Green Map Yogyakarta akan melanjutkan proses dan potensi yang ada dengan melibatkan lebih banyak partisipan agar tidak hanya berhenti di atas kertas, tetapi bisa benar-benar terwujudkan.

Sebagian materi diacu dari kerangka acuan workshop What about Cultural Heritage
Album Foto Kegiatan bisa dilihat di sini.

Profil Krijn Christiaansen

Kontak Studio Residensi Cemeti:
Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya

Fasilitator Green Map:
Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya
Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya
Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya
Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya
Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya
Omilda Novi H.
Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya


LAST_UPDATED2
 

15 Tahun Green Map


Galeri Foto

Open Green Map

Green Map Atlas 2004

Green Map Atlas 2004

Green Map Impacts


GreenMap.Org


Pemeta Hijau

You are here  : Home Peta Hijau di Indonesia Yogyakarta Mengulik Makna Pelestarian di Kawasan Perkotaan