|
Pemetaan Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Berlalu Lintas di Pusat Kota

Beroperasinya moda transportasi publik Bus Trans Jogja di Yogyakarta merupakan pertanda baik dalam pengelolaan lalu lintas perkotaan. Trans Jogja yang beroperasi secara resmi sejak tanggal 25 Februari 2008 itu dapat membuka pilihan baru dalam bermobilitas. Sebanyak 67 halte khusus dibuat di seantero Yogyakarta untuk melayani rute 54 bus yang beroperasi setiap hari antara pukul 06.00 - 22.00. Angka fantastis sebagai hasil studi Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika Daerah Istimewa Yogyakarta (Dishubkominfo DIY) menunjukkan bahwa Trans Jogja mampu menyedot 3,6 juta penumpang di tahun 2008 dan 5,1 penumpang di tahun 2009. Dishubkominfo menyatakan dalam hasil survei di awal tahun ini, dari sebanyak 2099 responden, 37 persen penumpang adalah pengguna sepeda motor, 4 persen pengguna mobil, dan 37 persen pengguna bus umum lainnya.
Dalam tahun yang sama dengan peluncuran Trans Jogja, hari Senin (13/10/2008) pagi menjadi penanda peluncuran program Sego Segawe (Sepeda Kanggo Sekolah lan Nyambut Gawe _ Sepeda untuk Sekolah dan Bekerja) oleh Pemerintah Kota Yogyakarta. Gagasan Walikota Yogyakarta Herry Zudianto untuk menyepedakan lagi masyarakat perkotaan Yogyakarta dilakukan dengan cukup serius. Pegawai negeri sipil yang bertempat tinggal kurang dari 5 kilo meter dari kantor diimbau bersepeda. Ada asuransi bersepeda bagi pelajar di Kota Yogyakarta. Pada bulan April 2009 pun langkah ini disambut dengan pembangunan 34 lajur khusus sepeda di jalan-jalan utama kota Yogyakarta. Titik ruang tunggu khusus sepeda di enam perempatan besar di kota juga telah diujicobakan sejak akhir tahun 2009. Berdasarkan survei Institute for Transportation and Development Policy (ITDP), jumlah pengendara sepeda di Kota Yogyakarta sekitar 41.025 orang di tahun 2006 dengan perkiraan pertumbuhan 15 persen per tahun menjadikan program ini punya peluang berhasil.
Pejalan kaki pun seolah semakin ingin dimanjakan oleh pemerintah Kota Yogyakarta jika mencermati kabar-kabar yang keluar dari balaikota. Mungkin menyadari sebagian besar trotoar di Yogyakarta tidak nyaman, dikuasai pedagang kaki lima dan parkir, maka proses penertiban fungsi trotoar mulai marak dilakukan lepas pertengahan tahun 2009. Trotoar yang biasa difungsikan sebagai tempat parkir ilegal, seperti di samping Mal Galeria, telah dikembalikan ke fungsi semula sebagai tempat pejalan kaki. Pergola-pergola berhias tanaman rambat pun muncul di banyak trotoar di kota. Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Kota Yogyakarta juga melakukan perbaikan trotoar di jalan-jalan utama yang merupakan jalur wisatawan. Bahkan, jika trotoar yang dibangun dirasa tidak memuaskan maka akan diganti oleh Pemerintah Kota Yogyakarta. Kasus seperti itu terjadi di trotoar Jalan Prangtritis yang dibangun kembali pada tahun 2008 dengan bahan keramik yang licin jika basah. Pada tahun 2009, proyek yang menelan dana Rp 400 juta itu diganti dengan bahan yang lebih kasar oleh pihak kontraktor.
Mengukur Perubahan dari Jantung Kota
Mencermati ragam data dan informasi di atas pastinya menjadikan warga di perkotaan Yogyakarta semakin merasa dinyamankan oleh pengelola kota. Kualitas kehidupan di perkotaan kita akan cepat menuju arah yang baik. Namun, ternyata, ketika lebih diperhatikan secara lebih dalam, masih banyak bagian yang menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. Jika tidak, kualitas perkotaan yang di atas kertas seolah membaik itu justru semakin memburuk di lapangan.
Jantung kota Yogyakarta menjadi titik yang tepat untuk coba mengambati ragam gejala berlalu lintas yang terjadi. Di sana, hampir semua moda transportasi perkotaan Yogyakarta ada dan melintas, dari pagi hingga keesokan paginya. Pejalan kaki memiliki tempat di sana, juga lajur dan ruang tunggu sepeda. Tak jauh dari titik nol, ada beberapa tempat yang menjadi pangkalan becak dan andong. Beberapa trayek bus umum dan Trans Jogja juga melewati perempatan Kantor Pos Besar yang legendaris itu. Tentu saja, semua jenis kendaraan bermotor bisa dan selalu melintasi jalan-jalan di kawasan tersebut setiap jamnya. Bahkan, tidak hanya melaju, tetapi juga parkir. Kelengkapan, kejamakan, dan terjadi dalam kesatuan ruang dan waktu menjadikan lingkup ini menarik untuk diamati. Jika memang ada beberapa perubahan desain cara hidup berkota dengan penambahan beragam sarana dan prasaran baru, seperti jaringan TransJogja, lajur sepeda, ruang tunggu sepeda, dan taman parkir maka seharusnya ada pengaruh yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, dan perilaku warga kota yang bergiat di antara ruang-ruang tersebut.
Sejauh mana warga kota Yogyakarta dapat menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada dan di mana saja hal-hal itu dapat diamati; itu semua terangkum dalam proses pemetahijauan kawasan titik nol kilometer oleh Komunitas Peta Hijau Yogyakarta. Pengamatan dan perekaman data distribusi frekuensi ragam sarana dan parasaran yang terkait dengan kegiatan berlalu lintas yang difokuskan pada pejalan kaki, pesepeda, dan pengguna transportasi umum adalah langkah pertama yang dilakukan. Hasil tahap ini adalah peta keletakan sarana dan prasarana dengan informasi mengenai situasi dan kondisi terkini yang ditampilkan maknanya dengan sistem ikon peta hijau. 
Langkah kedua, mengukur tingkat perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku yang terjadi pada warga kota yang melintas dan bergiat di jantung kota Yogyakarta. Ruang yang mengitari titik nol kilometer kota Yogyakarta itu melingkupi kawasan Pasar Beringharjo, Benteng Vredeburg, Taman Budaya Yogyakarta, Taman Pintar, hingga Taman Parkir Senopati. Di sisi selatan, batasan fisik ini akan dilanjutkan di sepanjang Jalan Ibu Ruswo hingga Alun-Alun Utara Kraton Yogyakarta dan Kampung Kauman. Dari Kampung Kauman, wilayah penelitian survei ini akan menuju sisi utara hingga Rumah Sakit PKU Muhammadiyah dan Ngupasan, di sekitar Kantor Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Yogyakarta dan Gedung Agung Yogyakarta. Wilayah dengan batasan tersebut akan dijadikan ruang lingkup fisik studi yang akan menghasilkan hasil analisis terhadap dua tujuan di atas yang dapat dijadikan model untuk diterapkan di ruang-ruang kota lain selanjutnya.
Peta Hijau sebagai Alat (untuk) Perubahan
Survei pendahuluan yang dilakukan dalam sebuah kerangka lokalatih pada hari Sabtu - Minggu, 20 - 21 Maret 2010 lalu di kawasan titik nol kilometer Yogyakarta telah menunjukkan beberapa temuan menarik. Halte khusus Trans Jogja di depan Taman Pintar Yogyakarta di Jl. Senopati tentunya sangat dibutuhkan oleh pengguna bus Trans Jogja trayek 1A dan 2A. Sebagian besar di antara mereka biasanya adalah anak-anak usia Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar yang akan berkunjung ke Taman Pintar. Namun, letak halter itu sendiri tepat di tengah trotoar, tanpa menyisakan ruang untuk pejalan kaki. Pejalan kaki di sisi utara Jalan Senopati itu harus rela beringsut sedikit ke badan jalan jika akan melintas. Sementara, di depan gerbang Taman Pintar terdapat sebuah zebra cross yang cukup lebar yang menghubungkan Taman Pintar dengan Tempat Khusus Parkir Senopati. Rombongan anak sekolah kerap melintas di penyeberangan ini, berhadapan dengan lalu lintas kendaraan bermotor yang melaju cukup kencang dari arah Kantor Pos Besar atau pun dari arah Gondomanan.

Ruang tunggu sepeda di ujung jalan yang bermuara di titik nol kilometer juga menjadi fenomena baru bagi sebagian masyarakat. Pengguna kendaraan bermotor sudah cukup paham dan bersedia berhenti di belakang kotak bercat hijau itu. Namun, justru banyak pengguna sepeda dan becak yang tak berhenti di ruang tunggu. Kebiasaan lama pengguna sepeda yang merasa tak tersentuh tangan hukum lalu lintas menjadikan marka jalan itu terasa sia-sia. Namun, bagi pengendara sepeda yang telah berlaku taat seringkali pula kesulitan untuk berhenti di ruang tunggu tersebut. Sebabnya, ruang tunggu sepeda itu tidak terhubungkan langsung dengan lajur sepeda, sehingga ketika bagian depan telah terisi penuh kendaraan bermotor maka sepeda yang antre di belakang tak dapat menjangkau ruang tunggu sepeda di baris depan. Ironisnya, ketika beragam peraturan coba diterapkan kepada masyarakat pengguna jalan, sebagian aparat penegak hukum tak hirau dengan fungsi sarana jalan dan hak pengguna jalan yang lain. Sabtu (20/03) siang, beberapa sepeda motor yang dinaiki petugas polisi melaju di atas trotoar depan Gedung Agung, dari arah perempatan Kantor Pos Besar menuju Kantor Poltabes Yogyakarta. Mereka melaju di tengah trotoar dan mengharuskan pejalan kaki di sana mengalah.
Kejadian-kejadian di atas telah direkam dan dipetakan dalam peta hijau yang sedang dilanjutkan proses survei dan pelengkapan datanya. Setiap titik, garis, atau area yang tertera di atas peta akan dapat memberikan data dan informasi atas objek dan kejadian apa yang ada di tempat tersebut. Dari peta akan dapat diketahui pula persebaran objek (sarana dan prasarana dimaksud di atas) dan persebaran kejadian di sekitar objek. Otomatis, akan terekam pula data frekuensi keberadaan objek dan kejadian yang melingkupinya yang ada di sekitar kawasan pusat kota Yogyakarta.
Data dan informasi yang terolah ini nanti ketika disampaikan kembali kepada masyarakat dan pemerintah maka akan berperan sebagai jejak rekam tata kehidupan berkota warga Yogyakarta. Kualitas berkota mereka akan terekam sebagai data yang terwakili dari sudut pandang pejalan kaki, pengguna sepeda, dan pengguna transportasi umum. Kualitas berkota yang baik akan menjadikan proses pembangunan perkotaan yang tengah berlangsung akan semakin terdukung. Sementara, kualitas berkota yang buruk akan mensyaratkan perlunya ada perubahan.
Peta hijau dengan sistem ikonnya memiliki kemampuan untuk menilai kualitas sosial berkota warga setempat, ketika bersentuhan baik dengan sesama warga maupun dengan sarana dan prasarana yang melingkupinya. Terbagi dalam tiga kelompok besar (Alam, Budaya dan Kemasyarakatan, serta Kehidupan Berkelanjutan), sebanyak 170 ikon peta hijau dapat digunakan sebagai variabel yang dapat dipetakan dan dianalisis setiap peran dan pengaruhnya satu sama lain. Dengan medium peta, seluruh objek dan kejadian yang terekam akan tertampilkan secara visual, tertampakkan dari atas, sehingga akan memudahkan analisis keterkaitan antar objek dan variabel yang diamati.
Ketika faktor-faktor penentu masalah dan penentu perubahan dapat terumuskan maka informasi itu harus dapat tersampaikan kepada publik. Peta hijau akan mengelola informasi itu dalam bentuk peta cetak dan digital yang dapat disampaikan kembali ke warga dan pemerintah kota dalam beragam bentuk kegiatan. Perubahan ditataran pengetahuan dan sikap diharapkan dapat muncul pada warga ketika dapat mengakses informasi yang terekat dalam peta hijau ini nanti, selain melalui beragam kegiatan kampanye. Sementara, perubahan perilaku sebagai tujuan utama, akan disasar melalui strategi pengelolaan program Peta Hijau Keliling Jogja 2010. Rencana tindak lanjut hasil pemetaan dan studi lapangan ini akan digunakan sebagai wadah penampung aspirasi warga dan sarat data dan layak digunakan sebagai media untuk mendukung advokasi perbaikan kualitas hidup perkotaan. 
Proses ini masih akan berlangsung selama tahun 2010. Tahap pertama studi di kawasan titik nol Kota Yogyakarta akan berlangsung dari bulan Maret - Mei 2010.
Segala masukan, dukungan, dan keterlibatan aktif Anda semua sangat diharapkan dalam proses ini seterusnya ke depan.
Lihat album foto kegiatan di sini.
Kontak dan informasi kegiatan:
- Thomas Widiyanto – Koordinator Peta Hijau Keliling Jogja (0878 3955 6266 - thomas[at]greenmap.or.id)
- Sita Sari Trikusumawardhani – Koordinator Peta Hijau Yogyakarta (0856 2830 313 - sitasarit[at]greenmap.or.id)
- Elanto Wijoyono – Koordinator Peta Hijau Indonesia (0815 7865 8586 - joeyakarta[at]greenmap.or.id)
|