Jaringan Pegiat Peta Hijau Indonesia

Ragam Rupa Kampung Kota PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Elanto Wijoyono   
Kamis, 16 April 2009 03:44
Pendampingan Studi Ruang Publik Dua Seniman Belanda

Siapa sangka di kampung yang dahulu dipandang sebelah mata oleh penduduk Kota Yogyakarta, saat ini sudah mampu mengelola kelompok usaha tanaman hias "Puring 1000". Adalah Haryono, seorang ketua Rukun Warga (RW) di kampung Ledok Tukangan, Yogyakarta yang mendorong warga kampungnya, yang rata-rata hidup di bawah garis kemiskinan, untuk mengoptimalkan dukungan program dari Pemerintah Kota Yogyakarta dengan berbagai program kegiatan yang ramah lingkungan dan menghasilkan uang. Belum setahun program itu berjalan, kampung di tepi Sungai Code itu beranjak hijau. Ruang sempit di sepanjang jalan setapak pun tak luput dimanfaatkan sebagai taman publik.
 
  the landscape of Ledok Jagalan, Yogyakarta    public toilet at the riverside

Inisiatif memperbaiki kualitas lingkungan hidup perkampungan yang padat juga dilakukan oleh warga Kampung Ledok Jagalan, Yogyakarta, yang juga terletak di bantaran Sungai Code. Pengalaman banjir bandang akibat terjangan lahar dingin Gunungapi Merapi pada tahun 1984 yang melanda pula permukiman di sepanjang bantaran membuat warga sangat menyambut baik datangnya program pembangunan talud pada tahun 1992-1993. Menariknya, program pemerintah kotamadya kala itu dimandori oleh warga kampung itu sendiri, seorang Ketua RW yang asli berasal dari Sulawesi Selatan. Sebuah prasasti kecil saat ini terpampang di tepi sungai, dekat kamar mandi umum, yang menandai peresmian talud oleh Walikota Kotamadya Yogyakarta R. Widagdo pada tahun 1993. Masih baik terawat. Di ujung jembatan, sudah berdiri sebuah rumah susun sederhana sewa (rusunawa) yang baru saja dibangun oleh pemerintah kota saat ini. Balai RW I kampung yang dulu berada di lahan itu akan dibangun di dalam gedung itu nantinya.

Menggali kisah dari wajah

Berjalan melintasi sudut-sudut Kota Yogyakarta, di kampung-kampung yang padat, membawa pikiran pada pertanyaaan mengenai "keaslian" dan "pembaharuan". Pemikiran itu yang membawa Krijn Christiaansen (31), seniman asal Belanda, yang pada tahun 2008 lalu berada di Yogyakarta dalam proyek Residensi Landing Soon #5 yang dikelola oleh Rumah Seni Cemeti. Tahun ini, dia datang lagi dengan ketertarikan yang sama, tetapi dengan pendekatan yang berbeda. Bersama Ingrid Mol (39), seniman patung asal Belanda yang juga pernah mengikuti program Landing Soon #2 di Yogyakarta, mereka berdua akan mencoba melihat elemen-elemen "asli" dan "baru" dari sudut pandang desain yang terupa dari bangunan dan aktivitas yang muncul di kampung-kampung terpilih.

Bagi mereka, kenampakan pahatan, rancang bangun sebuah bangunan, goresan mural, hingga papan peringatan adalah desain yang muncul sebagai wujud aktivitas yang memiliki beragam makna untuk diterjemahkan. Papan peringatan Jam Belajar Masyarakat misalnya, memiliki arti yang jelas dari batasan waktunya; 19.00 - 21.00. Namun, akan menjadi memunculkan pemahaman yang beragam pada, misalnya, mengapa belajar harus dibatasi jam dan diinformasikan dalam papan. Pastinya, ada proses sejarah yang melatarbelakangi kemunculan desain itu di ruang publik sebelumnya. Ada kisah dibalik wajah sudut kampung.

Kriteria "keaslian" dan "kebaruan" pun dinilai dari inisiatif atas gagasan yang muncul dalam proses pembangunan kampung. Program kelompok usaha tanaman hias di Ledok Tukangan dan program talud di Ledok Jagalan adalah program yang dinilai sebagai "kebaruan" karena muncul bukan dari inisiatif warga, tetapi dari program pemerintah. Dari sisi aktivitas, program dari pemerintah seperti itu kemudian antara lain diikuti dengan berbagai elemen kegiatan, mulai dari proses-proses pelatihan hingga monitoring dan evaluasi oleh aparat. Juga, persemian kegiatan dan hasilnya pula.

Kegiatan bernafas "kebaruan" itu juga bisa muncul dari pengaruh kelompok lain, seperti lembaga swadaya masyarakat. Kampung Badran (RT 48) mendapatkan pelatihan dari Yayasan Lestari untuk mengolah sampah organik menjadi kompos. Dari rupa desain kemudian mewujud dalam ember dan deratan kantung di hampir semua bagian depan rumah; untuk memilah dan menampung sampah. Cairan hasil resapan dari endapan sampah organik itu nanti dicampur dengan air untuk digunakan sebagai pupuk tanaman hias yang juga menghijaukan sudut-sudut Badran.

Sementara, "keaslian" akan muncul dalam kegiatan yang merupakan inisiatif warga untuk bergiat. Warga RT 48 Badran memanfaatkan lahan kosong di tepi sungai untuk membangun Balai RT secara swadaya. Kampung yang di masa lalu dikenal sebagai "kampung hitam" itu sangat padat dan praktis tidak punya ruang terbuka untuk bergiat bersama. Oleh karenanya, bangunan balai RT (rukun tetangga) itu didesain serupa hall, walaupun tidak begitu besar, agar bisa berfungsi jamak. Tanpa perlu ada gambar teknis, bangunan itu dapat dibangun dan difungsikan, karena begitu sederhananya. Menarik, pada bagian bawah balai, terdapat kolam-kolam beton buatan pemerintah kota yang terbengkalai sejak lama. Oleh warga setempat sejak empat bulan terakhir pun dimanfaatkan untuk beternak lele. Pertengahan April 2009 ini adalah panen pertama; hampir 1 kuintal hasilnya. Pembelian bibit lele merupakan dana pinjaman dari kelompok Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) RT 48, atas inisiatif Ibu Parti, Ketua RT 48.
 
  the cat fishes, ready for sale    separate your trash


Kerjasama dan Belajar Bersama

Tim Peta Hijau Yogyakarta turut berjalan menjelajah sudut-sudut kampung kota itu. Pada awal tahun 2008 lalu, Krijn Christiaansen bekerjasama dengan Peta Hijau Yogyakarta menggelar sebuah workshop pemetaan praktik pengelolaan pusaka budaya (cultural heritage) di Alun-Alun Utara Kraton Yogyakarta, Tamansari, dan Pesanggrahan Ambarukmo dalam rangka program Landing Soon #5. Kehadiran dua seniman ini kembali ke Yogyakarta pun menjadi agenda belajar bersama yang kedua. Pendampingan tim peta hijau dilakukan intensif, mulai dari penyiapan perangkat survei dan peta, pemanduan jelajah dan wawancara di lapangan, serta konsultasi dalam tahap analisis data sejak awal April lalu. Hasil dari penelitian ini sendiri akan dipresentasikan sebagai sebuah karya diorama kampung yang akan ditampilkan di The Architecture Center Stroom, The Hague, pada bulan September 2009 mendatang.

Pengalaman meruang dengan beragam pendekatan seperti ini tentu memperkaya referensi pengetahuan dan pengalaman tim Peta Hijau Yogyakarta. Sebuah ruang berupa kampung di tenagh perkotaan pun akan tampak sebagai sebuah wujud karya (seni) yang menarik dan penuh kisah di baliknya. Tak hanya rupa yang tampil sebagai hal yang penting untuk didokumentasikan dan dibahas, tetapi lebih pada bagaimana proses kreatif menuju terwujudnya rupa itu adalah hal lain yang lebih penting untuk dipahami. Sebuah kampung yang mungkin tak pernah kita singgahi ternyata pasti menyimpan beragam kisah untuk digali. Sesuai semangat peta hijau, selalu ada manfaat dari memetakan tempatan.
 
 
Album foto kegiatan bisa dilihat di sini

blog comments powered by Disqus
LAST_UPDATED2
 

15 Tahun Green Map


Galeri Foto

Open Green Map

Green Map Atlas 2004

Green Map Atlas 2004

Green Map Impacts


GreenMap.Org


Pemeta Hijau

You are here  : Home Peta Hijau di Indonesia Yogyakarta Ragam Rupa Kampung Kota