| Bersama Merasakan Warna Malioboro |
|
|
|
| Ditulis oleh Endah Ciptaning Puspitasari |
| Selasa, 02 Desember 2008 17:23 |
|
Catatan Kecil dari Workshop Peta Hijau bersama Mahasiswa UTY Dari sekian banyak kegiatan Peta Hijau Yogyakarta, Sabtu (29/11/08) kemarin merupakan pertama kalinya kami mengadakan workshop bekerja sama dengan Jurusan Arsitektur Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY). Berbeda dengan workshop Green Map Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang mengeksplorasi kampus mereka, kali ini kami memilih obyek amatan di penggal jalan Malioboro. Hal ini karena workshop yang berlangsung sehari ini dimaksudkan untuk meningkatkan rasa kepekaan mahasiswa dalam melihat suatu ruang kota. Maklum, Pak Punto dan Bu Tisna (staf pengajar) – yang mengundang kami – mengharapkan metode Green Map ini dapat membantu mahasiswa dalam merespon keadaan lingkungan sekitar dan melatih mereka untuk berkolaborasi dengan bidang ilmu lain. * * * Tepat pukul 09.00 acara dimulai di Kampus UTY di kawasan Ring Road Barat. Beberapa anak muda sudah berada dalam ruang yang akan digunakan untuk pemberian materi singkat tentang Green Map. Setelah pengantar singkat dari Bu Tisna, workshop pun dimulai dengan penjelasan singkat tentang metode Green Map yang dijelaskan oleh Cipi. Pak Punto kemudian melanjutkan dengan memberi gambaran singkat tentang kawasan Malioboro. Setelah pengantar tersebut, sekitar jam 10.30 seluruh peserta berangkat menuju ke Malioboro. Kami berangkat beriringan sesuai dengan kelompok yang telah dibagi sebelumnya. Fasilitator yang kali ini – Cipi, Thomas, Sita dan Anang – juga turut mendampingi mereka. Seolah melakukan napak tilas para pemeta hijau muda pada proyek Green Map Malioboro di tahun 2003 silam, kami pun langsung menelusuri jalan Malioboro. Jalan ini memang merupakan cikal bakal kawasan perekonomian Yogyakarta. Kini Malioboro telah menjadi daerah perdagangan tertua yang mengalami banyak perubahan. Hal ini menjadikan jalan tersebut menarik untuk diulik lebih dalam. Tak butuh waktu lama untuk menemukan hal – hal yang lebih dari sekedar Pasar Beringharjo dan Benteng Vredeburg yang telah akrab dengan masyarakat. Misalnya saja Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) yang dibangun sejak masa kolonial. Fisik bangunan bergaya Indis tersebut masih terawat. Namun, yang tak banyak orang tahu, ternyata pelataran parkir gereja ini telah menjadi tempat parkir yang dikelola oleh masyarakat sekitar sejak 50 tahun silam. Hanya pada hari Minggu saja pelataran itu digunakan oleh umat Kristiani yang hendak beribadah di gereja tersebut. Selain itu kami menemukan usaha kecil kerajinan yang menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan. Setelah berkeliling sekitar 1 jam, kami mengkompilasi data temuan di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Sembari nge”charge” perut, diskusi kelompok pun terjadi. Setelah itu kami pun melanjutkan dengan presentasi antar kelompok dan plot ikon pada peta. Diluar dugaan, peserta begitu antusias saling mengomentari dan memberi saran. Proses diskusi pun terasa begitu hidup. Walau lelah dan berpeluh, namun acara yang dipimpin oleh Cipi ini bisa dibilang berhasil. Terbukti dari respon positif para peserta yang aktif dalam proses pembuatan Peta Hijau kali ini. Wah, rasanya tidak sabar untuk ber-Peta Hijau lagi dengan teman – teman UTY. Fasilitator Workshop Green Map bekerja sama dengan UTY: Kontak staf pengajar Jurusan Arsitektur Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY): Album foto kegiatan bisa dilihat di sini
|
| LAST_UPDATED2 |