|
Menjejak Sejarah dan Budaya di Kawasan Kedaton Ternate |
|
|
|
|
Ternate
|
|
Ditulis oleh Arlinah Madjid
|
|
Minggu, 07 Desember 2008 20:53 |
|
Peta Hijau di Kepulauan Timur
Dengan berbekal semangat, beberapa anak muda mulai melangkah mantap ke arah utara Kota Ternate. Di pusat Kota Ternate sebelah utara menghadap Pulau “Panjang” Halmahera berdiri kokoh bangunan bersejarah Kedaton Ternate berlatar Gunung Gamalama; sebuah situs sejarah yang telah menjadi saksi atas banyaknya peristiwa penting yang terjadi di sebuah pulau paling diminati dunia sejak permulaan abad ke-15. |
|
Selanjutnya...
|
|
Bersama Merasakan Warna Malioboro |
|
|
|
|
Yogyakarta
|
|
Ditulis oleh Endah Ciptaning Puspitasari
|
|
Selasa, 02 Desember 2008 17:23 |
Catatan Kecil dari Workshop Peta Hijau bersama Mahasiswa UTY
Dari sekian banyak kegiatan Peta Hijau Yogyakarta, Sabtu (29/11/08) kemarin merupakan pertama kalinya kami mengadakan workshop bekerja sama dengan Jurusan Arsitektur Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY). Berbeda dengan workshop Green Map Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang mengeksplorasi kampus mereka, kali ini kami memilih obyek amatan di penggal jalan Malioboro. Hal ini karena workshop yang berlangsung sehari ini dimaksudkan untuk meningkatkan rasa kepekaan mahasiswa dalam melihat suatu ruang kota. Maklum, Pak Punto dan Bu Tisna (staf pengajar) – yang mengundang kami – mengharapkan metode Green Map ini dapat membantu mahasiswa dalam merespon keadaan lingkungan sekitar dan melatih mereka untuk berkolaborasi dengan bidang ilmu lain.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Borobudur
|
|
Ditulis oleh Elanto Wijoyono
|
|
Selasa, 02 Desember 2008 09:00 |
|
Usai segala urusan perizinan selesai dilakukan, sekarang saatnya untuk segera memulai. Ya, mulai akhir pekan ini, rangkaian kegiatan Peta Hijau Mandala Borobudur akan dimulai. Kawasan mandala yang dilingkungi oleh tujuh gunung itu akan dipetahijaukan secara bertahap oleh tim Peta Hijau. Pada tahap ini, kawasan dalam Taman Arkeologi atau Taman Wisata Candi Borobudur, yang juga dikenal dengan Zona 1 dan 2, akan menjadi sasaran pertama tempat yang dipetakan. Peluang terbuka bagi siapa saja yang berminat menjadi relawan survei bersama tim Peta Hijau sesuai jadwal di bawah ini. | Agenda | Tanggal | Tempat | Survei dan review I
| 6 Desember 2008
| Zona 1 (Candi Borobudur)
| Survei dan review II
| 13 - 14 Desember 2008 | Zona 1 - 2 Borobudur (dalam Taman Wisata Candi Borobudur)
| Survei dan review III
| 24 - 25 Januari 2008
| Zona 1 - 2 Borobudur (dalam Taman Wisata Candi Borobudur), Desa Borobudur | Survei dan review IV
| 7 - 8 Februari 2009
| Zona 1 - 2 Borobudur (dalam Taman Wisata Candi Borobudur), Desa Borobudur
| Review akhir
| 14 - 15 Februari 2009
| Desa Borobudur
| Peluncuran / presentasi akhir
| 21 - 22 Februari 2009
| Desa Borobudur
|
|
|
Selanjutnya...
|
|
Membawa Peta Hijau ke Sekolah |
|
|
|
|
Yogyakarta
|
|
Ditulis oleh Elanto Wijoyono
|
|
Senin, 01 Desember 2008 19:06 |
|
Diskusi Peta Hijau - Jumat, 5/12/2008 Pk 18.30 di Restoran Lakibini Jl. D.I. Panjaitan No. 10 Yogyakarta
Dalam wujudnya sebagai selembar kertas yang penuh gambar, foto, dan warna itu tidak akan sulit memahamkan sebuah peta hijau kepada siswa di sekolah. Anak-anak usia sekolah dasar di beberapa negara di Asia, Eropa, dan Amerika Latin pun telah membuktikan bahwa peta hijau bisa cukup mudah dibaca oleh mereka. Namun, masih menjadi pertanyaan, khususnya di Indonesia, bagaimana caranya membawa peta hijau sebagai sebuah proses pendidikan lingkungan ke sekolah. Komunitas di negara-negara di atas telah punya pengalaman, tapi kita di Indonesia belum cukup punya banyak pengalaman bergiat dengan anak.
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
Semua Ciptaan Hidup Berdampingan di Taman Eden |
|
|
|
|
Medan
|
|
Ditulis oleh Esther Risma Purba
|
|
Senin, 10 November 2008 22:16 |
|
Apa yang akan Anda lakukan jika Anda memiliki tanah seluas 35 hektar dengan banyak potensi di dalamnya? Di kawasan itu terdapat potensi kekayaan flora dan fauna, seperti hutan pinus yang lebat, sumber air bersih dari beberapa mata air, air sungai deras berdebit besar yang membentuk beberapa air terjun, gua kelelawar, anggrek hutan sebanyak 100 jenis (menurut hasil penelitian mahasiswa Universitas Negeri Medan), pohon-pohon langka yang bermakna penting dalam budaya dari etnis yang mendiami daerah tersebut, dan juga kontur kawasan yang berbukit-bukit dan jurang berpohon lebat dan tua dimana Harimau Sumatera masih dapat ditemui. Mungkin jika memiliki kawasan 35 ha itu, ada yang berpikir untuk menjual sebagian luasnya. Atau mungkin berpikir tidak mengapa jika menebang pohon besar dan pohon pinus beberapa hektar untuk kemudian menjualnya ke pabrik bubur kertas yang beroperasi dengan tenang membabat pohon di hutan lindung di sekitar kawasan itu dengan izin teranyar SK Menhut no 201 tahun 2006. Toh, luas hutan yang ditebang tidak seluas kawasan HPHTI Sumut 269.060 ha yang menjadi konsesi pabrik bubur kertas itu. Atau mungkin berpikir tidak ada salahnya mengizinkan industri air minum kemasan untuk membangun pipa-pipa penyalur air dari mata air dan sungai jernih di dalam kawasan itu. Apa yang telah dilakukan oleh keluarga Sirait, pemilik tanah adat seluas sekitar 35 hektar tersebut kiranya merupakan wujud upaya nyata dalam memerangi pengrusakan alam dan pelestarian alam. Kawasan itu merupakan tanah adat yang diwariskan dari keluarga marga Sirait. Sebagaimana sistem pewarisan dalam hukum adat Batak, kepemilikan atas tanah diteruskan oleh keturunan dari garis laki-laki. Bapak Leas Sirait, 73 tahun, satu-satunya laki-laki dalam keluarganya, memiliki hak adat untuk mewarisi kawasan tersebut. Terdorong oleh rasa syukur dan cinta terhadap tanah dan kekayaan di dalamnya, adanya kesadaran untuk membenahi kampung halaman, dan mendukung keutuhan ekosistem kawasan Danau Toba, keluarga Sirait mengelola kawasan tersebut agar tetap utuh dan terpelihara.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Mencari Jejak Belanda melalui Peta |
|
|
|
|
Yogyakarta
|
|
Ditulis oleh Elanto Wijoyono
|
|
Selasa, 18 November 2008 11:38 |
|
Lokakarya Pendidikan Pusaka untuk Guru Sekolah Menengah
Perkembangan peradaban di kawasan Yogyakarta sejak masa Mataram Islam hingga masa kini cukup dinamis. Pada beberapa bagian, unsur-unsur yang menjadi penanda dari setiap masa yang telah dilalui masih bisa dicandra oleh kita saat ini. Wujud hasil kebudayaan dengan pengaruh Eropa juga masih kuat tertampakkan di wajah kota dan beberapa wilayah di daerah. Tentu saja, itu adalah hasil dari wujud olah rasa, cipta, dan karsa antara lain oleh para kolonialis Belanda pada masanya. Menjadi menarik untuk coba melihat sejauh mana kawasan Yogyakarta pada khususnya dipengaruhi oleh campur tangan Belanda. Utamanya, apa yang tampak dari sisi tata ruang, arsitektur, dan tentu saja aktivitas yang melingkupinya. Hal itulah yang mendorong Drs. Billy Gunterman, seorang dosen senior dari Fakultas Pendidikan Hogeschool van Arnhem en Nijmegen (HAN) Belanda untuk menyelidikinya kembali. Melalui sebuah pendekatan geografis - historis yang banyak memanfaatkan peta-peta dan survei lapangan sebagai sumber data, sebuah program penelitian dan seri lokakarya pun digelar di Yogyakarta dengan tajuk "Mencari Jejak-Jejak Belanda di Yogyakarta". Program ini dilaksanakan di Yogyakarta dengan dukungan penuh dari Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta yang kemudian dimasukkan dalam kerangka sebuah program pendidikan dan pelatihan untuk guru-guru sekolah menengah alumnus USD.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Memetakan Yang Hijau di Koridor Busway |
|
|
|
|
Jakarta
|
|
Ditulis oleh Bayu Wardhana
|
|
Selasa, 28 Oktober 2008 16:57 |
Sabtu, 25 Oktober lalu, pegiat Peta Hijau (greenmapper)
Jakarta, kembali beraksi mencari yang ‘hijau-hijau’. Kali ini
sasarannya di sepanjang koridor busway jalur 1 (Kota-Blok M), 2
(Harmoni – Pulogadung) dan 3 (Pasar Baru- Kalideres). Ada 21 relawan
selama setengah hari, dari pagi sampai sore, menyusuri dan memetakan
sekitar 30-an titik. Peta hijau sendiri adalah peta yang
dibuat oleh partisipasi warga, untuk menandai lokasi-lokasi ‘hijau’ ,
sehingga memudahkan atau memberi informasi pada warga, tempat-tempat
tersebut. Apa yang disebut hijau, tidak selalu berupa taman, hutan
kota, tapi juga termasuk fasilitas umum, museum, tempat pengamatan
burung, tempat recycle, outlet makanan organik dan sebagainya. Lebih
detil lagi dapat dilihat di www.greenmap.org (Internasional) dan http://greenmap.or.id (Indonesia). |
|
Selanjutnya...
|
|
|
|
|
|
|
Halaman 7 dari 11 |