Jaringan Pegiat Peta Hijau Indonesia

Perubahan Menuju Habitat dan Habitus Kota yang Berkelanjutan PDF Cetak E-mail
Catatan Hijau
Ditulis oleh Marco Kusumawijaya   

Orasi Kebudayaan Marco Kusumawijaya

Jumat, 11 Juli 2008
Galeri Publik Institute for Global Justice
Jalan Diponegoro 9, Menteng, Jakarta Pusat

Saudara-saudara budiman,

Saya ucapkan banyak terima kasih kepada Galeri Publik yang dengan dermawan memberikan ruang dan waktu yang sangat leluasa bagi kita untuk bertemu dan bergelut tentang hal ikhwal kota yang makin terasa penting dan sungguh makin genting ini. Terima kasih juga untuk kehadiran Anda semua.

Tapi, sebenarnya saya bertanya-tanya: apa lagi yang masih perlu dibicarakan tentang kota Jakarta ini? Kita perlu bertindak, bukan lagi berkata-kata. Sebab, keadaan sudah gawat, dan kita perlu bertindak radikal sekarang sebelum terlambat, sebelum keadaan memburuk menjadi irreversible.

Saya ingin berbicara tentang perubahan yang harus dilakukan oleh semua habitat dan habitus kota, di mana saja, untuk menjadi berkelanjutan, yang belakangan terutama terasa betul menghunjam kesadaran kita setelah antara lain dipastikannya perubahan iklim karena pemanasan buana (global warming).

Bagi saya, hal yang paling sulit dalam mempersiapkan orasi seperti ini adalah mengukur: seberapa abstraksi yang harus saya buat. Atau sebaliknya, seberapa kongrit saya harus memberi contoh? Kalau saya terlalu abstrak, saya khawatir dianggap omong doang , tidak cukup kongrit, tidak dapat dilaksanakan, karena memang saya paham bahwa kita sekarang berada dalam kondisi yang tidak sabar untuk segera mendapatkan hasil, seperti membalikkan telapak tangan. Sebaliknya, kalau terlalu kongrit, saya khawatir, karena sudah sering terjadi, imajinasi saudara-saudara terbatasi, dan prinsip tidak ditangkap, melainkan hanya perca-perca tak terpisah yang nampak, dan tidak cukup intelektual untuk forum seperti ini.

Jadi, saya akan berupaya menjaga keseimbangan antara abstraksi dan kongretisasi dalam batas ruang dan waktu yang tersedia. Tapi saya mohon untuk tidak berprasangka: kalau paparan saya terasa terlalu abstrak, tidak berarti saya tidak tahu solusi kongret; sedang kalau saya terlalu kongret, jangan anggap itu anekdot, tetapi pasti ada prinsip yang mendalam, atau yang menyatukan, dibaliknya. Atas dasar itu, saya mengundang Saudara-saudara untuk aktif dalam dialog yang kostruktif.

Saudara-saudara,
Dalam sepuluh tahun terakhir, kota telah dibahas, dihitung dan dikunyah habis-habisan. Makin banyak pula kalangan yang sedia bergelut dengan kota.

Apalagi yang sisa untuk kita bicarakan?

Tentu saja yang sisa adalah yang terus menjadi keluhan kita: kemacetan, banjir, demam berdarah, demonstrasi, kekerasan, dan sebentar lagi bencana langkanya bahan bakar minyak pula, bersamaan dengan meningkatnya harga pangan. Ada juga yang tidak benar-benar dirasakan sebagai masalah oleh para penghuni sendiri, tapi telah dianggap masalah oleh para ahli, ialah misalnya permukiman yang dianggap kumuh, polusi udara dan air yang hanya bisa dipastikan dengan peralatan laboratorium.
Dengan kata lain: meskipun telah begitu banyak dibicarakan, masalahnya masih sama, dan tetap saja masih melanda pengalaman sehari-hari kita dengan kencang.

Pada saat bersamaan, bagaimanapun ada semacam harapan pada keadaan mutakhir lain, ialah gejala mengarus-utamanya kepedulian lingkungan di hampir semua bidang kehidupan, termasuk yang mungkin hanya ikut-ikutan atau memanfa atkannya untuk tujuan-tujuan komersial ( .) atau sektarian. Dua minggu lalu, pada kesempatan hari bebas mobil di Bundaran Hotel Indonesia, saya menyaksikan suatu aliran spiritual tertentu mempromosikan vegetarianisme sebagai yang paling sehat dan ramah-lingkungan. Kadang-kadang sesuatu yang mengarus-utama kehilangan daya kritis dan menjadi terlalu mudah dan ada juga yang menyesatkan. Makan sayuran menjadi vegetarian misalnya tentu saja secara umum baik, karena sayuran memerlukan energi yang sedikit untuk memasaknya, atau dapat dimakan tanpa dimasak sama sekali. Tetapi bagaimana kalau sayuran itu berasal dari tempat yang jauh, yang proses pengangkutannya memerlukan energi besar untuk sampai di mulut konsumen? Bisakah Anda bayangkan orang Eskimo menjadi vegetarian? Atau orang di padang pasir Afrika Utara? Michael Pollan, dalam buku Omnivore s Dilemma, karena itu, mengatakan lebih penting makan sesuai musim apa yang dihasilkan sendiri atau sedekat mungkin. Soalnya bukan apa yang kita makan, atau konsumsi secara umum, tetapi juga bagaimana apa itu dihasilkan, dan diproses.

Michael Pollan menemukan bahwa untuk setiap kalori energi pada makanan di gerai MacDonald, diperlukan 10 kalori energi fosil untuk menghasilkan makanan tersebut, yang semuanya berdasarkan hampir seluruhnya dari jagung! Ini lah salah satu hasil globalisasi produksi.

Lokalisasi produksi dan konsumsi misalnya pada satuan bio-region sebagai suatu prinsip untuk mengurangi tapak ekologis dan karbon (ecological and carbon footprint) dapat juga di be predicated sebagai dasar melawan penyeragaman. Tapi ini masih menyisakan sejumlah masalah: seberapa jauh kita bisa menghapuskan perdagangan? Apakah evolusi manusia lebih jauh tidak berhak mendapatkan pilihan makanan dan masukan lain terbaik dari seluruh yang ada di bumi?
Jalan tengah yang dapat diteroka mungkin adalah berupaya meningkatkan keanekaragaman di tiap-tiap bio-region dengan meningkatkan pertukaran spesies secara hati-hati dan adil, sehingga keanekaragaman dapat menjadi maksimal tersedia di tiap-tiap bio-region.

Pertukaran, keterbukaan, semai-silang (cross-breeding), telah selalu merupakan basis maki kemanusiaan untuk tumbuh secara material maupun spiritual. Kita bahkan memang harus menjamin agar tidak seorangpun, sendiri ataupun dalam komunitasnya, yang boleh tertinggal dalam isolasi yang bukan sukarela dari proses pertukaran di dunia.

Perdagangan dan hak-hak individu serta kemanusiaan sebagai suatu keseluruhan atas keanekaragaman, dalam waktu mendatang akan menjadi topik yang berhadapan dengan gagasan tentang lokalisasi produksi dan konsumsi.

Terang, dari paparan di atas yang serba terbatas, masih banyak soal dalam proses pengarus-utamaan kehidupan berkelanjutan. Subjek perlu mengembangkan dua kemampuan penting: daya kritis dan kemampuan untuk bertindak otonom. Ini justru untuk menjadi efektif dalam membiakkan perubahan yang berkelanjutan menuju kehidupan (dan kota) yang berkelanjutan.

Pertama subjek harus merdeka, sebagaimana yang dimaksud oleh Chairil Anwar: subyek yang bikin perhitungan habis-habisan dengan begitu banyak hal disekelilingnya; subyek yang merdeka dari Ida, bukan untuk bersama Ida.

Subjek harus mampu bertindak mandiri, sedapatnya tidak memerlukan bujukan, paksaaan atau fatwa dari orang lain, baik dari atas, bawah, kiri maupun kanan.
You must be the change you wish to see in the world , kata Mahatma Gandhi.

Dan itu sulit sekali, sebab ada berbagai kelemahan manusia yang telah menyebabkan banyak bencana lingkungan dalam sejarah peradaban, sebagaimana diteliti oleh Profesor Jared Diamond dalam < em>Collapse, How Societies Choose to Fail or Succeed.
Manusia cenderung tidak mau berubah sendiri. Kalau cuma diri sendiri yang berubah, tapi orang lain tidak, buat apa?
Hal ini terutama nyata dalam, misalnya pemanfaatan sumber alam secara bersama-sama: kalau bukan saya yang memanfaatkan, pasti ada orang lain yang memanfaatkan; bahkan, kalau bukan saya yang manfaatkan maksimum, orang lain yang akan!

Manusia juga cenderung tidak merasakan perubahan perlahan-lahan yang mengancam, yang dianggapnya normal . Inilah misalnya anggapan par a re publiken terhadap perjuangan Al Gore dalam meyakinkan orang tentang gejala global warming, yang oleh para republiken itu dianggap sebagai gejala alamiah fluktuatif jangka pendek yang nanti akan pulih sendiri.

Kalimat di atas dari Mahatma Gandhi terdengar bagai menggunting dalam lipatan! Di satu pihak menganjurkan kepemimpinan tiap subyek secara otonom, di lain pihak mengingatkan bahwa perubahan memang adalah suatu upaya (1) kolektif (mendunia)!

Sulitnya hal tersebut juga dikarenakan kemampuan manusia untuk bertindak otonom yang makin tergerus dan dipersulit oleh sistem. Misalnya: Saya yakin Anda semua setuju bahwa naik sepeda dan jalan kaki itu baik. Tapi berapa banyak dari Anda yang sungguh mempraktekkannya? Saya yakin pula masing-masing akan punya alasan yang masuk akal untuk tidak melakukannya, yang umumnya menyalahkan keadaan dan sistem yang tidak mendukung. Tapi Anda harus percaya, bahwa di Los Angeles saya kenal seseorang yang sejak umur 14 tahun hingga kini (berumur sekitar 38 tahun) terus menerus naik sepeda, di Los Angeles pula! Tentu saja dengan digabungkan dengan naik bus, yang kini wajib menyediakan tempat untuk meletakkan sepeda. Ia bahkan datang ke tempat tinggal saya di kawasan perbukitan Hollywood yang kemiringan jalan menanjaknya sampai 30 % di beberapa kelokan. Di ruangan ini sendiri saya tahu ada beberapa teman yang juga terus menerus naik sepeda di kotanya masing-masing (Joyo dari Yogya).

Kesulitan subjek untuk berubah memang memerlukan peran mediasi dari lembaga-lembaga yang kita bentuk memang untuk mengurus keperluan bersama kita, yang namanya negara dan jajaran kepemerintahannya itu.

Namun, pada titik ini saya ingin menyampaikan kritik saya kepada beredar luasnya sikap bangsa kita yang sedikit-sedikit menuntut pemerintah melakukan sesuatu, menganggap pemerintah sebagai penyedia segala. Bukan karena saya tidak setuju pemerintah harus memihak rakyat, harus melaksanakan amanah dan mandatnya yang telah diberikan rakyat. Tentu saja pemerintah harus melaksanakan tugasnya. Saya berpendapat kita harus pertama-tama melihat apa yang harus dilakukan oleh seluruh bangsa, dan baru di dalamnya melihat dan kemudian menuntut peran-peran setiap pihak dalam rangka itu. Mengapa saya ingin menekankan hal ini? Dalam perspektif di atas, tentang kemerdekaan subjek, saya melihat sikap yang sedikit-sedikit meminta bantuan pemerintah menurut saya adalah sikap pascakolonial yang secara sistematis melemahkan kemampuan otonomi subjek. Makin kita menuntut pemerintah melakukan sesuatu, berarti juga makin kita memberinya mandat. Harap disadari, bahwa setiap permintaan berarti disertai pemberian mandat. Ini berarti makin tergantung kepada pemerintah, dan berarti makin tidak mampu berbuat mandiri. Ketergantungan yang serupa terjadi juga kepada para pemuka agama dan lembaga-lembaganya. Saudara-saudara budiman mungkin juga punya daftar sendiri tentang ketergantungan yang melemahkan otonomi subjek, yang dalam jangka panjang sangat berbahaya, karena mendukung perubahan yang berkelanjutan.

Tentu saja dalam dunia yang tidak sempurna; perlu ada pembagian tugas yang rasional. Tapi secara jangka panjang saya percaya bahwa kita harus makin sedikit mempercayakan u rusan kepada pemerintah, dan makin membesarkan pengurusan oleh tiap-tiap subjek dan masyarakat sendiri. Lihatlah apa yang terjadi ketika kita memberikan mandat kepada negara untuk mengurus agama; ia menentukan mana agama dan mana bukan agama; dan kelompok-kelompok tertentu berusaha memanfaatkan negara untuk menekan yang lain!

Dalam perdebatan tentang neo-liberalisme, saya kira kita juga telah terjebak melupakan peran masyarakat warga dalam wujud subjek perorangan dan subjek komunitas di antara negara dan swasta. Menurut hemat saya, pilihannya bukan pada negara dan korporasi, tetapi pada subyek dan komunitas yang terus menerus meningkatkan kapasitas otonomnya yang rasional. Untuk menunjukkan betapa hal itu bukan angan-angan, sa ya kutip saja dua berita dari harian KOMPAS hari minggu yang lalu, 6 Juli 2008.

Pedagang Patungan Mendirikan Pasar; Harga Kios Jauh Lebih Murah

Jakarta, Kompas  Tak puas dengan pola pendirian pasar yang dinilai tidak adil, Federasi Organisasi Pedagang Pasar Indonesia atau FOPPI membuka pasar sendiri, Sabtu (5/7). Pasar yang diberi nama Plasa FOPPI itu berada di Jalan Sultan Hasanudin 53-54, dekat Blok M, Jakarta Selatan.
(Hal 4)

Bersatu dalam Bus Kota

Meskipun bus kota umumnya sumpek dan gerah, ada sekelompok orang yang justru mencintainya habis-habisan. Penggila bus ini menamakan diri mereka Bismania Community.
(Hal 29)

Saya tahu saya telah keluar dari kerangka yang orang biasa mengerti tentang tata-kota: ialah penataan fisik kota.
Tapi inilah justru pesan saya: tata-kota kita rusak karena ia tidak mengajak perubahan watak. Tata kota kita selama ini formalistik belaka, dari atas, tidak membangun rasa memiliki.
Sebuah kota bukanlah sekedar suatu habitat. Sebuah kota adalah juga sebuah habitus.
Sudah Sophocles (3 abad sebelum masehi) mengatakan Kota itu orangnya ; sedang Shakespear di abad . mengatakan, Apalah kota itu kalau bukan orangnya . Selama dua milenium terakhir saya yakin banyak orang mengulang rumusan yang sama dengan berbagai macam variasi. Yang perlu saya sitir kiranya ialah yang cukup mutakhir. Jaime Lerner, mantan walikota Curitiba yang terkenal dengan buswaynya itu, mengatakan, membangun kota itu penting sekali membangun masyarakatnya.

Tapi saya tidak ingin menimbulkan kesan yang salah, seolah-olah karena itu tata kota fisik tidak lagi penting, dan tata kota harus diserahkan kepada para sosiolog, antropolog, ekonom, atau bahkan politikus. Selain itu, jangan pula menganggap, bahwa karena itu merombak sistem penataan kota kita seperti suatu revolusi yang tidak masuk akal, tidak mungkin, terlalu sulit. Kita perlu punya visi, sehingga tidak buta terhaap masa depan yang panjang. Kita juga perlu punya harapan dan mau tekun bekertja, sehingga tidak lumpuh tak bergerak.

Perencanaan kota fisik itu penting; tetapi proses maupun produknya harus juga menggerakkan, memudahkan, subyek untuk aktif mewujudkannya, dan pada saat yang sama membentuk kebiasaan-kebiasaan baru yang diperlukan suatu kota. Suatu proses perencanaan dan pembangunan habitat harus membantu pembentukan habitus baru pula.

Di mana-mana partisipasi dan suara masyarakat makin dihargai dengan serius di seluruh dunia, dalam menyusun rencana kota. Sesudah Pemilu yang cuma lima tahun sekali itu, perencanaan kota adalah salah satu momentum penting untuk mengetahui aspirasi masyarakat secara kongrit, dan membangun rasa memiliki sejati. Pada Pemilu kita hanya memilih orang untuk membuat keputusan untuk kita. Pada perencanaan kota kita mendebatkan pilihan-pilihan. Pada perencanaan kota, ada ruang dan kesempatan untuk menyelesaikan banyak bibit-bibit konflik sambil membangun tuah sekata (the magic of consensus).

Setiap arsitek ingat akan peristiwa merancang rumah untuk sebuah keluarga. Tidak jarang pada saat itulah perbedaan selera, .antara anggota keluarga, antara suami dan isteri baru ketahuan. Akibatnya arsitek biasanya jadi juru damai, bukan dengan menutup pilihan-pilihan dan berpihak kepada salah satu, melainkan dengan kreativitas dan ilmu yang ada mencarikan pilihan yang dapat optimal memuaskan semua pihak.

Bukankah sebuah kota seharusnya juga dirancang demikian?

Tentu saudara akan berujar, bagaimana bisa, sebuah masyarakat kota yang kompleks dibandingkan dengan sebuah keluarga?

Saya setuju, saya sendiri tidak menyukai analogi keluarga, seperti yang digunakan oleh Orde Baru. Saya bahkan sebenarnya mual menggunakan kata Ibu dan Bapak kalau menyapa hadirin. Sebabnya sederhana: bapak dan ibu s aya masing-mas ing cuma satu, dan mereka semua sudah almarhum dan almarhumah.

Sebuah masyarakat kota bukan sebuah keluarga! Tetapi mereka memang mengandung konflik, perbedaan selera, perbedaan kepentingan, ideologi dan lain-lain.
Karena itu mencari solusi haruslah memanfaatkan ilmu pengetahuan seperti sosiologi, demograf, dan lain-lain cabang ilmu yang relevan, dengan tujuan akhir yang sama: kenyamanan bagi semua, terpenuhinya kepentingan atau setidaknya tersedianya kesempatan secara adil untuk semua, dan terhindarkannya konflik sebelum menjadi perseteruan terbuka.

Ekonomi pada saat yang sama harus dilihat sebagai usaha bersama memperbesar kue, sambil bersaing mendapatkan bagian darinya, tapi bukan berebut terus kue yang sama, tanpa usaha bersama memperbesarnya. Dalam perspektif ini lah kita melihat konyolnya korupsi pada kalangan elit dan premanisme pada kalangan rakyat banyak. Dua-duanya tidak boleh dapat tempat. Premanisme dan korupsi pada ekonomi kita lihat pula telah merambah ke ruang politik, dan kehidupan sosial kita. Akibatnya kekerasan di mana-mana, orang memaksakan kehendak tanpa toleransi. Saya melihat paralelisme antara ruang ideologi dengan dengan ruang ekonomi: ruang eksistensi tidak kita perbesar bersama, tapi terus saja rebutan ruang yang sama. Ruang eksistensi ini tentu saja sebagiannya sebenarnya berada di dalam diri kita sendiri, di dalam benak kita: kalau ia cukup lapang, maka ia lebih bisa menerima eksistensi yang lain, bahkan yang asing.

Jakarta, punya tanggung-jawab dan kesempatan yang besar sebagai ujung tombak Indonesia dalam persaingan global. Salah satu faktor persaingan itu adalah kenyamanan kota sebagai tempat bermukim, yang dalam pemahaman saya mencakup tersedianya pekerjaan serta hunian yang layak, yang secara terukur direncanakan dan dilaksanakan secara bertahap untuk semua lapisan masyarakat. Ini saja udah menuntut perubahan dalam nomenklatur perencanaan kota kita, yang antara lain masih sangat bersifat monofungsionalistik.

Saudara-saudara,

Ketika beberapa bulan yang lalu saya memberitahu beberapa orang bahwa saya akan ke Los Angeles untuk belajar tentang keberlanjutan dan urbanisme, kebanyakan mereka mengernyitkan keningnya. Beberapa dari mereka itu adalah orang Los Angeles sendiri. Wajah mereka seperti mengatakan, Apa yang mau dipelajari dari Los Angeles!

Begitu juga ketika saya pulang. Belum sempat saya menjawab pertanyaan dari banyak orang tentang apa yang telah saya pelajari, mereka umumnya telah mencerocoskan hal yang sama, Apa yang mau dipelajari di Los Angeles! dengan prasangka dan ke-sok-tahuannya masing-masing.

Tetapi, saudara-saudara, banyak kota di negara sedang berkembang, meskipun memiliki pusaka yang sangat tua dan bahkan purba, telah berkembang, meluas, merambah, dengan terburu-buru dalam abad terakhir, atau bahkan setelah Perang Dunia ke-2. Mereka itu sama muda nya dengan Los Angeles. Setidaknya bagian terbesar dari kota-kota itu adalah produk dari 5, atau bahkan 3 dasawarsa terakhir. Mereka itu produk kapitalisme lanjut dan pertukaran global dalam hal ekonomi dan juga budaya pop. Mereka sangat mirip Los Angeles. Mereka lahir dengan mobil sebgai tali pusarnya. Kelas menengahnya yang sedang meningkat ingin meniru segala hal dari pola konsumsi Los Angeles, tetapi tidak produktivitas Amerika. Nyatanya, intensitas energi pada ekonomi kebanyakan negara sedang berkembang sebenarnya lebih besar daripada yang di negeri maju. Intensitas energi Indonesia empat kali yang di Jepang. Miskin telah membuat kita irit, karena terpaksa, tetapi tidak membuat kita efisien!

Selama bertahun-tahun saya sebenarnya tidak bisa mengerti arsitektur kelas menengah di pinggiran kota Jakarta dan kota besar Indonesia lainnya, sampai dua bulan lalu. Dua bulan lalu itu, saya melewati Sunset Boulevard pada lingkungan Beverley Hills dan Bel Air. Saya terhenyak oleh kenyataan bahwa rumah-rumah di sini sungguh merupakan asli y ang lebih besar da ripada tiruannya yang lebih kecil di Indonesia, termasuk di Pondok Indah. Memang kita tahu juga ada beberapa orang Indonesia punya rumah di Beverley Hills (atau di Bel Air? Apa sajalah, tidak ada bedanya)

Rasa LA sebagai kota yang selalu berkembang, berubah, dengan urbanitas yang tidak selesai, dibandingkan dengan urbanitas yang komplit di kota-kota Eropa, menarik orang bukan hanya untuk mengejar Mimpi Amerika, tetapi juga karena di sana ada ruang cair untuk navigasi, dan pada akhirnya turut serta menyumbang pada pembentukannya.

Keadaan yang sama di kota-kota negara sedang berkembang ini menurut saya penting sekali karena ia sekaligus merupakan kesempatan dan tantangan untuk membentuk kota bukan saja sebagai habitat, tetapi juga sebagai habitus kolektif: Inilah suatu urbanisme yang terbuka, suatu struktur/matriks/gado-gado untuk perbedaan, bukan dari perbedaan.

Saya kira kita akan menghadapi tantangan untuk berubah dengan baik apabila pertama-tama kita menerima setiap kota apa adanya dengan keunikannya masing-masing, dan mengembangkan cara-cara berubah dari penerimaan itu. Kita tidak boleh terjebak ilusi bahwa sebuah kota dapat meniru atau bahkan bernafsu menjadi kota lain.

Seperti dikatakan sebelumnya, kota itu lebih pada orangnya. Memang benar bahwa kota selalu bersifat multikultur. Namun, akhir-akhir ini sifat itu makin menjadi-jadi, dengan dunia juga makin menjadi urban, ditandai dengan terlewatkannya ambang 50 % penduduk dunia kini bermukim dalam kondisi kota. Kota juga makin menjadi multikultural di masa pertukaran yang makin meningkat ini, dengan kota-kota menjadi simpul-simpul pertukaran tersebut.

Paham kebhinekaan budaya (multiculturalism) yang aktif seharusnya berarti memberikan kesempatan dan ruang bagi semua kebudayaan untuk aktif menawarkan dan menyumbang kepada urbanisme yang terus menerus sedang terbentuk. Kita tahu ini bukan soal yang mudah, sebab banyak kota telah tidak adil, dan tidak semua orang siap menerima kenyataan bahwa kebudayaan selalu bersifat terbuka, selalu tidak selesai dan terus menerus dalam pembentukan, dan ada unsur-unsur yang akan ditinggalkan sambil membiarkan yang baru bermunculan.

Saya sungguh ingin mengatakan bahwa yang paling menyenangkan saya selama sepuluh tahun terakhir ini berkeliling Indonesia dan negeri-negeri lain, saya telah beruntung bertemu begitu banyak kelompok-kelompok masyarakat yang aktif da n terlibat dalam proses perubahan. Saya bersyukur ternyata ada begitu banyak kelompok orang-orang muda yang bekerja atau melibatkan dirinya dalam masalah-masalah kota dan lingkungan. Dan juga ada banyak sarjana yang menaruh harapan pada lapisan ini, meskipun ada juga yang tidak (yang dalam pengalaman saya tidak pernah mendapat kesempatan untuk sungguh bertemu dengan kelompok-elompok masyarakat warga aktif tersebut).

Perubahan

Sekarang ini, sebenarnya kita tidak lagi perlu bicarakan kemendesakan untuk berubah, kecuali barangkali untuk beberapa orang berkepala batu. Motivasi untuk berubah sudah ada. Sampai batas tertentu, juga sudah ada kemauan politik di kebanyakan bagian dunia, meskipun tingkatannya berbeda-beda.

Saya juga tidak akan membayangkan kota-kota dalam 20 atau 100 tahun mendatang.

Yang saya yakin adalah bahwa kita sesungguhnya cukup berkelengkapan untuk berubah, bahkan untuk kota seperti Jakarta.

Saya katakan ini dalam perspektif waktu geologis. Kita tidak dapat berbuat apa-apa 74,000-75.000 tahun lampau, ketika Jaman Es terakhir terjadi, atau sekitar 11.000 tahun lalu, ketika Pemanasan Buana terakhir terjadi, atau ketika terjadi berbagai bencana lingkungan berskala kecil di seluruh dunia, di dalam peradaban-peradaban kuno yang pernah ada di muka bumi, sebagaimana digambarkan secara rinci oleh Jared Diamonds dalam bukunya Collapse, How Societies Choose to Fail or Succeed.

Kedua p eristiwa itu, 74.000 t ahun lalu dan 11.000 tahun lalu, adalah benar-benar akhir dunia! Tetapi kemanusiaan sebagai suatu keseluruhan, ber-reinkarnasi. Begitu jugalah dunia.

Pelajaran dari Jared Diamond adalah bahwa ada banyak bencana berskala lebih kecil (namun fatal dan melenyapkan peradaban yang sangat maju) yang terjadi benar-benar karena kesalahan manusia dalam mengelola sumber daya alam secara tidak bekelanjutan. Meskipun kita tahu bahwa akan ada bencana yang murni alamiah sekalipun, yang mungkin tidak dapat kita cegah, (kali berikut mungkin berupa komet raksasa yang menabrak bumi) kita tetap harus bekerja melakukan apa yang kita bisa untuk mencegah dampak manusia menyebabkan bencana. Dan selama tahun-tahun belakangan ini seluruh kemanusiaan mulai menemukan, mencipta, dan menggali, mengenali kembali, kemampuan kreatif untuk melakukan itu. Ada banyak reorganisasi juga. Dan itu semua bukan hanya tentang apa yang harus dilakukan, tetapi juga tentang bagaimana melakukannya, pada semua tingkatan, perorangan maupun kolektif. Dan inilah yang saya tangkap selama tahun-tahun terakhir ini sebagai pembelajar kota pada berbagai bidang.

Kemanusiaan dulu mungkin tidak cukup berpelengkapan untuk menghadapi bencana-bencana di masa lampau itu, baik dengan pengetahuan dan know-how, maupun dengan konsensus yang cukup luas, semisal global.

Tetapi sekarang kita berpelengkapan. Secara global.

Tetapi tindakan perlu dijabarkan hingga membumi, dan sebagian besar ini berarti juga mengota, yang telah dan makin menjadi pasti pusat sumber dampak manusia. Dengan kota saya maksudkan ia sebagai habitat dan watak kolektif penghuninya, habitusnya.

Hubungan antara habitat dan habitus tentu saja kompleks. Yang satu menghasilkan yang lain, terus menerus, timbal balik. Tetapi, untuk berubah, saya kira kita tidak perlu berdebat yang mana yang duluan: mulailah dengan dua-duanya, secara silmultan, asal diperhatikan setiap kali yang satu dapat maksimal mendorong ke perbaikan yang lain.

Perubahan memiliki beberapa unsur ironis dan nostalgia, yang kelihatannya memajukan.

Perubahan memnyaratkan kita menghidupkan kembali kebiasaan-kebiasaan lama, dan bahkan membangun kembali apa yang telah diganti sebelumnya. Dua kehilangan terbesar Jakarta, misalnya, adalah sungai dan rel trem. Keduanya sekarang harus dibangun kembali dengan biaya mahal. Trem diganti dengan busway.

Banyak percakapan tentang perubahan menuju keberlanjutan berkaitan dengan pembelajaran kembali praktik-praktik lama atau menghidupkan kembali keberadaan hal-hal lama, misalnya kepadatan dan keanekaragaman tinggi dan kehidupan pusat kota, berkebun sendiri, hidup tanpa sampah, dan sebenarnya juga kompos, yang sudah menjadi arus utama sekarang ini, adalah sebenarnya batang lama dari nenek moyang kita.

Tetapi, kita perlu mengingat bahwa apa yang telah diganti dengan sesuatu yang lain ada tentu ada maksudnya. Sebelum sebagian besar dari permukaan Sungai LA sepanjang 80 km, dilapisi beton, banyak cara mengendalikan banjir telah gagal. Dan sesungguhnya setelah pembetonan itu banjir tidak pernah terjadi lagi. Jika kita hidupkan kembali (revitalisasi) sungai itu, kita masih harus menjamin bahwa pengendalian banjir tidak gagal. Dan memang ada cara-cara yang lebih berkelanjutan, misalnya pengendalian runn-off. Santa Monica, melalui peraturan daerah Santa Monica Excess Water Use Ordinance (SMCC 7.16.020) telah negaskan tidak boleh ada runn-off ke saluran dari tiap lahan pribadi, sedangkan runn-off dari ruang khalayak, termasuk jalan, dikumpulkan oleh fasilitas pemerintah dan didaur-ulang di dekat boardwalk. Prinsip dasarnya adalah kita perlu menyerapkan air ke dalam tanah lagi. Sebab, kalau kita terus-menerus menyalurkan air, tiap tahun akan bertambah terus, lalu diperlukan saluran lebih besar dan lebih banyak lagi tiap 5 atau 10 tahun, menjadi suatu lingkaran setan.

Perub ahan menuju urbanisme yang berkelanjutan juga mencakup banyak upaya menghidupkan dan melembagakan kembali praktik dan habitus lama yang berpotensi kikuk: Bayangkan menanami halaman depan rumah Anda dengan sayur mayur dan buah buahan (Fritz Haeg), memetik buah-buahan dari pohon di ruang khalayak, memelihara ayam di halaman, kompos, menjemus pakaian di tali jemuran di halaman atau di antara jendela apartemen, dll. Dan bahkan naik bus di LA adalah hal besar. Saya kira juga demikian bagi kelas menengah atas Indonesia.

John Maynard Keynes suatu ketika mengatakan bahwa masalahnya bukan pada menangkap ide baru, tetapi pada membebaskan diri dari ide lama. Nah, bagaimana dengan melaksanakan praktik baru atas dasar ide lama?

Beberapa dari perubahan akan nampak seperti belajar-kembali beberapa praktik lama yang telah ditanggalkan. Tetapi sejatinya kita tidak bisa mengulanginya persis seperti dulu karena tidak mungkin, karena konteks telah berubah, dan juga karena kita mungkin saja melakukannya lebih baik sekarang atau di masa mendatang.

Kepadatan, sebagaimana dikatakan oleh kearifan yang seolah baru ditemukan, adalah baik secara umum. Tetapi ada batasnya, sebagaimana telah terungkapkan dalam kasus Hong Kong. Perhatikan juga penggunaan energi di California. Juga kepadatan tinggi di Hong Kong telah menjadikannya kota yang paling efisien dalam hal penggunaan energi. Tetapi kualitas udara makin buruk karena tidak bergerak/mengalir baik, dan telah meningkatkan suhu rata-rata di beberapa titik terpadat. Penyakit pun makin cepat merebak dan menyebar. California, meskipun diketahui menggunakan energi banyak untuk transportasi (tapi sesungguhnya masih lebih rendah daripada Texas), menggunakan sedikit energi untuk mendinginkan atau memanaskan ruangan. Kalau kepadatan ditingkatkan, perlu dikhawatirkan akan meningkatkan penggunaaan energi utnuk rumah, meskipun barangkali memang menurunkan peng gunaan energi untuk angkutan. Ada kepadatan yang optimum untuk setiap kota, tersebab konteks alam maupun konteks sejarah perkembangannya.

Kita tidak boleh hanya menghidup-hidupkan habitat atau habitus lama, tetapi harus me-reinkarnasikannya, menjadi lebih baik pada jaman sekarang atau nanti. Reinkarnasi mengandaikan konsep waktu sebagai spiral, yang lazim dalam filsafat timur. Waktu itu tidak linier seperti dalam monotheisme Abraham. Dalam spiritualisme timur ada pandangan praktis bahwa eksistensi manusia itu abadi, dengan kemampuan tidak terbatas (tetapi tidak linier terus menerus) untuk memperbaiki eksistensinya ke tingkatan lebih tinggi.
Masalah lain dalam berubah adalah bahwa ia memerlukan tindakan bersama. Seseorang tidak akan berubah efektif jika sistem tidak mendukungnya, dan jika ia pikir orang lain tidak akan berubah bersamanya. Sebab itu, kata-kata Gandhi sangat tepat menggambarkan sekaligus memotong situasi mati langkah seperti itu: You must be the change you wish to see in this world

Peran Kebudayaan dan Kesenian dalam Menciptakan Kota Berkelanjutan

Saudara-saudara,

Perubahan perlu terjadi sekaligus pada tingkat individu dan kolektif. Salah satu ketegangan yang terjadi di antara keduanya itu ada pada irama yang berbeda.

Irama alam dan irama budaya mensinkronkan kebebasan perorangan dengan kehidupan kolektif, yaitu dalam kesatuan dengan kosmos melalui irama alam, dan dalam kesatuan dengan masyarakat manusia melalui irama budaya.

Kolektivitas adalah unsur fundamental dari budaya dan peradaban manusia. Kolektivitas dekat dengan alam, karena alam mengalir bersama dalam suatu irama kolektif, namun dengan tiap-tiap spesies berkembang secara unik. Dasar dari irama ini adalah irama sumber energi: Sang Surya. Sampai batas tertentu irama manusia yang tersisa masih berhubungan dengan matahari (kita umumnya bekerja di siang hari dan istirahat di malam hari, meskipun saat ini sudah mulai ada pergeseran di si ni), sementara irama peroranga n kita yang tidak seirama dengan irama kolektif (baik yang alamiah maupun yang budaya) umumnya berhubungan dengan sumber energi tak-terbarukan, misalnya mobil.

Saya ambil satu contoh. Angkutan umum, terutama yang telah tertata matang dengan jadwal dan rute yang jelas, memiliki iramanya sendiri, suatu irama kolektif yang tidak bisa memenuhi keinginan irama individual setiap orang. Irama kolektif menyaratkan individu membuat perencanaan dan penyesuaian dengan irama tersebut. Inilah yang sering dianggap sebagai salah satu pengurangan atas kebebesan irama individual. Saya tidak dapat mengatakan lain kecuali bahwa irama kolektif, baik yang alam maupun yang budaya, memang meminta kita menyukai kehadiran bersama dengan sesama alam dan sesama manusia.

Bus kota terang selalu lebih berwarna dari pada kendaraan pribadi. Ia lebih berwarna dalam segala makna: warna kulit, warna usia, warna profesi, warna ideologi, warna dari berbagai lingkungan berbeda dari sebuah kota. Angkutan umum selalu berusaha melewati sebanyak mungkin lingkungan yang berbeda, sebagai suatu datum yang menyatukan semua lingkungan dan manusia kota. Seruas jalan bersifat pasif, tetapi ia menjadi wahana dari angkutan umum yang bergerak aktif menghubungkan berbagai pusaka dan identitas. Angkutan umum menerima identitas keterbukaan dan kepemilikan bersama dari keanekaragaman para pemakainya, dan pada saat yang sama juga menebarkan pesona keanekaragaman bentang alam, gaya, kemakmuran, kemiskinan, keserbaadan, keserbatiadaan, bentuk dan bukan-bentuk kepada lingkungan-lingkungan berbeda yang dilewatinya.

Saudara-saudara,
Dalam bany ak kebudayaan, ada banyak praktik yang seirama dengan kehidupan berkelanjutan, yang memang sayangnya makin jarang dipraktikkan. Misalnya, kehidupan tradisional kita di ruang terbuka yang melakukan banyak peristiwa sosial dan budaya, selain ekonomi, di jalan tidak mempermudah serbuan mobil menjadi pemenang tunggal.

Contoh lain adalah seni berpakaian Indonesia.

Kain dari enam abad lampau akan hadir sebagai karya seni berpakaian di Los Angeles mulai September 2008 hingga September 2009 dalam pameran berjudul sementara Five Centuries of Indonesian Textile Art = Lima Abad Seni Kain Indonesia; Masterworks from the Mary Hunt Kahlenberg Collection.

Diskusi dengan kurator museum itu membuat saya jadi tahu bahwa seni berpakaian Indonesia bersifat hijau berkelanjutan. Sebab, seperti juga pada India dan Jepang, seni berpakaian tradisi Indonesia tidak mengenal potong dan jahit, tidak menyisakan sampah perca, hemat dan efisien. Kain juga satu ukuran untuk semua ukuran tubuh. Sebab itu mudah diwariskan, bahkan dipusakakan. Kain juga serba guna. Kesederhanaan keutuhannya membuka peluang demikian. Seni berpakaian Indonesia terdiri dari sepotong kain utuh yang dilipat dengan berbagai cara membungkus tubuh. Sejak ditenun kain sudah dibayangkan, dirancang bagaimana ia akhirnya akan terjadi secara utuh dan bagaimana ia akan dipakaikan pada tubuh. Pola yang dibentuk melalui ikat, batik, atau teknik lainnya, dirancang dengan memperhitungkan bagaimana ia akan dipakai. Misalnya, bagian yang ketika dipakai tidak akan terlihat, tidak diberi pola, dibiarkan kosong. Bahkan fungsi dan makna kain ada yang menentukan pilihan bahan untuk dipintal jadi benang. Jadi kain adalah sebuah konsep seni berpakaian yang memadukan pilihan bahan dasar, pemintalan, penenunan, pola, dan pemakaiannya pada tubuh dalam satu tarikan nafas. Kain tidak dapat diterjemahkan dengan kata textile.

Perspektif evolusionisne budaya akan berargumen bahwa itu bisa saja karena kita belum sampai pada mengembangkan potong dan jahit , yang seolah-olah lebih maju. Tetapi kita lihat bahwa India dan Jepang juga berkembang dalam alur yang sama dengan Indonesia, yang menekankan pada melipat daan membungkus, dengan tingkat kerumitan (karawitan) dan kegunaan (kagunan) yang canggih yang menunjukkan hasil sejarah pe ngembangan yang panjang sekali pada jalur yang tidak menuju kepada memotong dan menjahit, jadi bukan belum sampai .

Seni karena itu terang harus berperan. Seni dapat bergabung dalam gerakan sosial, tetapi, sebagaimana dikatakan Rick Lowe, seni tidak perlu khawatir pertama-tama tentang keberlanjutan (yang merupakan masalah para aktivis dan organisator komunitas), karena inti dari seni adalah menyediakan kreativitas dan inovasi untuk melihat bahwa ada cara-cara lain yang mungkin, memutus pola berlaku. Jika tidak ada perubahan/penciptaan, apa yang mau dilanjutkan? , tanya Rick Lowe.

Kreativitas memang harus mendahului produktivitas. Produktivitas tanpa kreativitas hanya akan berarti pengulangan dan penjiplakan. Dan bukan itu yang kita kehendaki sekarang ini. Tentu dapat juga digelutkan, bahwa kreativitas tanpa produktivitas sama saja dengan tidak mencipta sama sekali.

Saya kira masalahnya sungguh bukan produktivitas, meskipun kita tentu saja harus menghargai tuntutan komunitas yang menginginkan pemenuhan kebutuhan segera karena kemiskinan berkepanjangan yang bukan tersebab salah mereka.

Seni selalu tentang kreativitas; dan kreativitas harus mendahului produktivitas. Perubahan berarti mematahkan pola pengulangan dan penjiplakan dari produktivitas tanpa inovasi dan kreativitas. Oleh karena itu, jika kita berpikir mem bantu komunitas dengan produktivitas tanpa kreativitas, maka itu tidak akan berkelanjutan, itu tidak akan mengubah pola yang telah menghasilkan komunitas dengan masalahnya itu.

Dan perubahan menuju lingkungan, kota yang berkelanjutan adalah tentang mematahkan pola produksi dan konsumsi yang berlaku. Di situlah diperlukan kreativitas.

Dari para seniman saya telah belajar bahwa ruang yang lebih terbuka, kreatif dan merangsang temuan baru, tersedia dan/atau dapat diciptakan untuk dialog. Apa maknanya ini? Seni memudahkan lebih banyak orang untuk menyumbang/berperan serta dalam membentuk habitat dan habitus baru yang kita perlukan.

Ringkasnya saya melihat seniman berperan dalam: 1) dekonstruksi estetika (yang terlanjur tertanam dalam praktik lama dan perlu dibongkar) dan 2) demokrasi serta populerisasi proses perubahan.

Pertama, kita sungguh memerlukan estetika dan etika baru sehubungan dengan perubahan yang kita harus mau tak mau mulai selenggarakan; karena, perubahan tersebut memerlukan tidak kurang dari rasa etika dan estetika yang baru. Fritz Haeg, misalnya telah mulai mendekonstruksikan estetika lawan. Tidak lama lagi kita harus punya rasa untuk melihat jemuran pakaian itu indah. Kita perlu kembangkan rasa keindahan yang baru. Bersamanya kita perlu rasa etika baru, baik pada tingkat pribadi maupun pada tingkat sosial.

Arsitek Bill Reed mengusulkan melampaui keberlanjutan, kepada restorasi dan regenerasi, suatu visi dan etika baru sama sekali, dengan konsekuensi yang menantang dalam arsitektur dan bidang kreatif lainnya. Setelah setidaknya 300 tahun meengekploitasi bumi dan merusaknya secara radikal, manusia kini perlu secara aktif menolong species lain untuk pulih, setidaknya habitat mereka dan habitat kita bersama mereka. Tidak lagi cukup menang atau selamat sendiri sebagai yang paling fit (survival of the fittest), tetapi manusia harus memimpin yang lain-lain untuk selamat bersama-sama (leadership of the fittest).

Sudah sejak abad ke-19 beberapa anarkis menentang faham evolusi Darwinis dengan mengatakan manusia justru selamat sebagai species terkuat/paling berkembang bukan karena kemampuan bersaingnya, tetapi karena kemampuan bekerjasamanya, sesuatu yang mungkin ada secara insting, tetapi tidak berkembang paa spesies lain.

Dalam Islam, peran manusia yang diberikan Tuhan adalah sebagai Kalifa, caretaker bumi. Dalam Katolik, Santa Fransiskus dari Asisi, pelindung gerakan lingkungan memiliki teologi bahwa semua ciptaan adalah bersaudara, karena berasal dari Bapa , Pencipta yang satu. Di masa sekitar kehidupan Siddharta Gautama para pengembara spiritual menghentikan kegiatannya pada musim semi, agar jangan secara tidak sengaja menginjak tunas-tunas yang baru muncul, memberi kesempatan kepada semua makhluk memperoleh kesempatan tumbuh.

Kedua. perubahan yang kita perlukan terang harus sistemik dan radikal. Pertama diperlukan dorongan bersama yang besar untuk berubah di semua bidang. Pelajaran dan teknik ada berlimpah, tetapi rupanya memperoleh pelajaran tidak serta merta membawa ke perubahan. Perubahan perlu kita lakukan bersama-sama. Ada banyak prakarsa di seluruh dunia sekarang ini. Kita perlu pertukaran lebih banyak dan cepat. Kita dapat melakukan ini. Satu alasan baik untuk optimistik bahwa sekaranglah waktunya untuk berubah adalah bahwa sekarang sudah sangat berbeda dengan ketika gerakan lingkungan mulai dicanangkan pada tahun 1983 ketika Bruntland Report diterbitkan. Kita punya teknologi demokratis yang jauh lebih banyak. Kita telah melampaui perang dingin juga. Tetapi ini tidak sama dengan mengatakan bahwa tidak akan ada hambatan di jalan. Kita masih harus mencapai konsensus yang besar dan sulit. Misa lnya, bayangkanlah bagaimana mengajak mereka yang masih sibuk mengurus supaya agama menjadi dasar negara itu? Kita juga punya banyak prasarana untuk berubah: universitas, lembaga penelitian, badan-badan di bawah PBB, dan lain-lain, tetapi kita masih harus mengembangkan jejaring yang efektif untuk mempercepat perubahan yang merata dan adil. Banyak kebiasaan yang ingin kita peluk adalah sebenarnya kebiasaan lama yang telah ditinggalkan atau dianggap tidak modern (beberapa bersifat un-Indonesian atau un-American ). Kita perlu melahirkan pengetahuan yang hilang itu kembali dan menanamkannya ke dalam tubuh pribadi dan tubuh masyarakat kita untuk menjadi know-how kembali. Dan semua ini tidak dapat dilakukan oleh sejumlah kecil elit, tetapi oleh semua. Inilah yang saya anggap memerlukan peran seniman dalam mendemokrasikan dan mempopulerkan nilai dan praktik baru, yang seringkali memerlukan kreativitas dan inovasi.

Salah satu hal penting untuk dilakukan adalah menanamkan pendidikan kesenian kembali ke dalam kurikulum sekolah. Kita harus kembalikan kesenian ke dalam aliran darah bangsa kita sehingga sikap kirtis, inovatif dan kreatif mendarah-daging kembali secara demokratis. Kesenian jangan hanya seperti sekarang: ekstra kurikuler yang tidak terjangkau oleh sebagian besar anak-anak yang justru memerlukan jiwa kreatif untuk memulai perubahan pola yang telah melahirkan komunitas miskin yang tidak beruntung.

Selain kreativitas dan inovasi, perubahan yang kita perlukan juga perlu dibesarkan sekaligus dalam waktu yang singkat, sehingga menjadi upaya kolektif yang masif. Inilah tantangan terbesar masyarakat. Bagaimana membentuk aliansi berbagai kelompok? Bagaimana memunculkan perwakilan dan kepemimpinan di dalamnya atau melaluinya? Bagaimana kelompok-kelompok masyarakat yang kini bertaburan untuk hampir setiap isu perkotaan dapat saling memperkuat untuk memperjuangkan perubahan progresif, dan pada saat-saat tertentu dapat membentuk aliansi untuk tujuan bersama atau yang lebih mendasar dari semuanya masing-masing? Bagaimana sulitnya kita mencapai konsensus yang rasional juga dipengaruhi oleh kesalahan-kesalahan di masa lampau yang rupa-rupanya tidak bisa dilampaui begitu saja untuk membuat keputusan baru.

Misalnya ambillah kasus harga minyak.
Harga minyak akan naik terus, sebab puncak produksi (the peak) telah dilampaui. Harga minyak di seluruh dunia naik. Bahkan orang Amerika, takut terdampar di suburbia tanpa minyak, agak panik akhir-akhir ini. Sudah sepuluh tahun ada wacana tentang puncak dalam produksi minyak. Namun, seperti pemanasan buana, wacana tersebut lama dibuat menjadi seolah-olah teori kosong. Kini, seperti juga pemanasan buana, umumnya telah dipercayai bahwa puncak itu ada, dan bahkan sudah terlewati. Pr oduksi minyak tidak mungkin lagi meningkat seiring permintaan. Harga akan terus naik, tidak akan turun. Ada fluktuasi jangka pendek, tapi kecenderungan jangka panjang adalah naik terus.

Maka, meskipun saya setuju kita harus menuntut pemerintah dan Pertamina efisien dan tidak korup, saya kira kita juga harus menuntut diri kita untuk juga efisien dan tidak korup. Nyatanya intensitas energi dalam ekonomi Indonesia 4 kali Jepang dan 2.5 kali rata-rata negara peserta kerjasama ekonomi dengan Jepang. Kita ini mungkin frugal, karena terpaksa, tetapi miskin tidak membuat kita efisien. Tentu saja efisiensi bukan hanya tergantung kepada upaya orang perorang. Sistem menentukan juga. Kota dengan angkutan umum yang tidak efisien akan membuat orang perorang tidak efisien, misalnya. Sedang saya pribadi tidak akan berharap harga minyak akan pernah turun lagi. Saya lebih ingin berupaya mengembangkan pemikiran tentang bagaimana membangun kota, habitat, dan watak, habitus, yang lebih hemat energi dan kalau bisa merdeka dari energi fosil.

Bagaimana habitat dan habitus kota perlu berubah menghadapi kenyataan tersebut?

Tentu saja prinsipnya sederhana dan berlaku untuk semua hal, ialah pertama-tama efisiensi penggunaan energi. Misalnya mengganti mobil besar dengan mobil kecil, atau sepeda motor. Kedua, mengurangi atau meniadakan penggunaan energi sama sekali pada kegiatan-kegiatan tertentu. Misalnya belanja di toko dekat rumah. Ketiga, mengganti energi fosil dengan energi terbarukan. Misalnya naik sepeda sebagai pengganti naik kendaraan bermotor.

Pada kota-kota kita, itu berarti serius mencegah pengembangan suburbia, menata tata-guna lahan agar ada pencampuran fungsi yang sehat sehingga orang tidak perlu ulang-alik pada jarak jauh untuk bekerja dan belanja. Pengangkutan barang pun harus dengan sistem angkutan berdasarkan rel. Pada tingkat pengetahuan sekarang ini, apa yang harus dilakukan sebenarnya tidak lagi menjadi soal. Semua perencana kota setuju tentang kota yang kompak dan berfungsi campuran , tentang sistem angkutan umum sebagai pengganti mobil pribadi , tentang konservasi air, dan seterusnya. Generasi terbaru arsitek dan perencana kota kita telah fasih dan terampil tentang soal ini.

Ini memang memerlukan (re-)investasi. Tetapi perbandingan kota-kota di negera maju menunjukkan uang bukan masalah utama. Bandingkan saja Los Angeles dan New York. Pengguna angkutan umum di New York hampir sebanding banyaknya dengan pengguna mobil pribadi di Los Angeles. Ada soal sejarah perkembangan kota-kota yang berbeda, ialah jalinan kepentingan modal dan ekonomi secara umum dengan keadaan setempat yang berbeda-beda. Meskipun Los Angeles menggunakan energi banyak untuk transportasi, energi total per kapitanya tidaklah melebihi rata-rata Amerika, sebab ia menggunakan sedikit energi untuk pemanasan rumah. Kalau saja ia dapat mengurangi energinya untuk transportasi, tanpa meningkatkan energi untuk rumah, maka ia akan jadi juara. Soalnya ada pada kebijakan pembangunan kota, yang tergantung kepada kapasitas sosial politik masing-masing kota.

Pemborosan energi juga terjadi karena AC, rumah kurang cahaya alami, aliran udara tidak lancar, pohon peneduh kurang, serta makin banyak barang, termasuk makanan, diolah dan dikemas berlebihan. Setiap tahap pengolahan dan pengemasan menggunakan energi. Karena itu menu Sunda sayuran mentah, terutama bila dari kebun terdekat, juga berperan kurangi tekanan pada harga minyak.

Meskipun angin, ombak dan gelombang laut, air sungai, dan sinar matahari disebut energi terbarukan, sebenarnya semua itu rentan. Pemanasan buana oleh ulah manusia dapat mengubah semuanya. Debit air yang menurun pada sungai-sungai dan bendungan, karena penggundulan hutan, dapat kurangi produksi listrik dan sebabkan banjir di kawasan perkotaan, yang pada gilirannya memerlukan banyak energi untuk menanggulanginya. Di depan mata kita: pompa-pompa di sepanjang jalan tol ke bandara Soekarno-Hatta.

Pada dasarnya habitat yang berkelanjutan suda h merupakan suatu visi yang sangat terang. Tidak ada batas pada apa yang perlu dilakukan; hanya ada batas pada kemampuan kita berbuat secara kolektif.

Dan ini mungkin sekali akan menyangkut hal-hal yang kelihatannya konyol , meskipun merupakan praktik baik yang telah dilakukan nenek kita. Misalnya: menanam makanan di halaman sendiri. Di Amerika sekarang ada gerakan Edible Estate, ialah berkebun di halaman depan. Inspirasi datang dari Victory Garden, gerakan menanam makanan di halaman hunian perkotaan semasa Perang Dunia II yang ketika itu mencukupi 40 % kebutuhan makanan. Gerakan ini, yang juga terjadi di Inggeris dan Canada, adalah cikal bakal gerakan urban agriculture sekarang. Michael Pollan yang menulis untuk edisi khusus Hari Bumi, The New York Times Magaz ine, 20 April lalu, menyimpukan satu hal paling penting untuk tiap orang mulai berubah: menanam makanan sendiri.

Juga jemurlah pakaian pada sinar matahari, jangan tergoda dengan mesin pengering. Buatlah kompos di halaman juga. Tetangga saya di perbukitan West Hollywood, seorang mantan aktor, mememelihara ayam di atas tumpukan komposnya, dan memberi saya beberapa telornya sambil berkata, Percaya ya, tidak semua orang Amerika seperti presiden kami itu.

Jalan kaki adalah juga suatu bentuk perlawanan publik. Jadikanlah ini gerakan politik damai. Jadikan jalan kaki dan naik sepeda sebagai modus angkutan sekaligus olahraga, bukan pergi ke gym. Pergi ke gym adalah hal yang sangat konyol: menghabiskan energi fosil untuk sampai di sana, dan sesampainya di sana menghabiskan energi lagi, dan panas yang keluar dari tubuh Anda harus dihisap oleh pendingin ruangan yang memanfaatkan energi listrik yang menggunakan energi fosil dan menyemburkan CO2 pula. Inovasi yang baik adalah kalau energi kinetik dari olah-tubuh dapat diubah menjadi listrik untuk menerangi dan mendinginkan ruangan gym itu sendiri. Treadmill dapat dihubungkan dengan dinamo. Hal ini memenuhi prinsip Waste=Food (William McDonough, Cradle to Cradle) seperti yang ditemukan pada alam: pada alam tidak ada kesia-siaan. Bunga yang rontok bukan tidak berguna setelah memberikan keindahan, melainkan menjadi makanan bagi tanah. Memang ada keperluan lain pada gym, misalnya menemukan kencan; dan untuk itu memang sebuah kota perlu mencari cara memenuhinya tanpa menimbulkan dampak lingkungan. Mungkin perlu program nyata mengembalikan taman kota sebagai tempat olahraga yang nyaman?

Premis saya sederhana saja, ialah bahwa kota-kota perlu di-dematerialisasi atau di-deenergisasi untuk menghadapi tantangan terbesar umat manusia yang disadarinya, ialah melawan kepunahan karena pemanasan buana. Tapi sebenarnya inti dari kesadaran kolektif mutakhir manusia yang mengarus utama ini bukan hanya menyangkut perubahan iklim, melainkan gagasan menyeluruh tentang keberlanjutan sehubungan dengan penggunaan sumber daya, terutama dan pada dasarnya, energi. Persoalannya bukan sekedar berapa banyak energi yang kita gunakan. Tetapi, juga sumber energi itu, dan sifat-sifatnya: apakah ia terbarukan? Apakah ia menghasilkan sampah teknis maupun sampah biologis yang dapat didaur-ulang?

Dalam rancang bangunan, telah terdapat pergeseran pendekatan, dari pendekatan membatasi dampak (pendekatan bangunan berkinerja tinggi ) ke pendekatan netral (yang sekarang umumnya kita maksudkan ketika kita mengatakan hijau atau berkelanjutan ) hingga ke yang paling mutakhir, pendekatan yang lebih aktif restorasi dan regenerasi (antara lain oleh Bill Reed dan William McDonough).

Dalam bidang ekonomi, ada paradigma baru yang sedang berkembang, ialah bergeser dari Growth Economics kepada Ecological Economics (The Steady-State Economy. Herman E. Daly). Ini adalah pekerjaan besar untuk membongkar kembali lembaga-lembaga ekonomi yang telah mengakar dalam yang telah dibangun selama 300 tahun sejarah kapitalisme indust ri.

Penutup

Bagaimanapun juga, ruang terbentuk (antara lain mengalami radikalisasi) oleh budaya dominan, melalui alat-alat seperti perencanaan kota, perancangan kota dan arsitektur. Masalahnya bukan pada imajinasi siapa yang akan menang, tetapi apakah ada cukup dialog? Dialog ini diperlukan bukan hanya untuk melahirkan kreativitas dan inovasi dari banyak subyek, tetapi juga untuk membangun habitus kolektif. Selain prosesnya sendiri, penting juga ruang-ruang yang terbentuk memudahkan dialog sebagai salah satu tujuannya dalam rangk a perubahan menuju habitat dan habitus berkelanjutan itu.

Kalau kita ingin membuat perubahan, kita harus membuatnya jadi mudah bagi masyarakat. Kepemimpinan, pada saat yang sama, harus punya keberanian untuk meminta peran serta warga.

Pembangunan kota-kota kita sejauh ini sangat tergantung kepada investasi dalam proyek-proyek besar: jalan tol, mal, dan lain-lain. Sedangkan aset kota berupa lingkungan-terbangun yang kompleks dan kaya dengan jalinan antara informasi, berbagai keberanekaragaman kelompok masyarakat, modal sosial, terabaikan. Ketika kita mendengar pembangunan kota, hampir selalu itu berarti instrumennya adalah proyek besar dengan model dari luar, yang diletakkan pada suatu ruang, tanpa sama sekali memahami bahwa pada tempat tersebut sudah ada modal yang dapat dikembangkan dengan berbasis pada jalinan lingkungan terbangun dan komunitas setempat.

Yang sering diungkapkan adalah juga fakta bahwa 80 prosen kebutuhan perumahan diupayakan sendiri oleh masyarakat pada sisi demand, tetapi pemerintah tetap saja hanya sibuk memikirkan bagaimana mendorong swasta pada sisi supply, bukannya merancang kebijakan yang meningkatkan kapasitas dan kualitas pada sisi demand tersebut.

Untuk mencari terobosan kreatif, yang justru berdasarkan energi dan sumber daya yang ada di lapangan, diperlukan dialog yang intensif dan saling belajar.

*

(1) Saya anjurkan kita menggunakan kembali kata upaya , yang sudah ada dalam Bahasa Melayu ribuan tahun lalu, sebelum kata usaha datang. Upaya berasal dari khasanah sansekerta yang aselinya mengacu kepada peningkatan spiritual. Sedanh usaha berasal dari bahasa Arab yang tentu saja datang bersama kapitalisme merkantilisme, yang mengacu kepada peningkatan material. Kedua-dua kata itu kita perlukan. Menurut banyak ahli bahasa, Bahasa Indonesia memerlukan lebih banyak kata, jangan dimiskinkan lagi. Yang kita sudah punya, jangan dimatikan. Dengan demikian kita dapat lebih akurat dalam berpikir.


blog comments powered by Disqus
 

15 Tahun Green Map


Galeri Foto

Open Green Map

Green Map Atlas 2004

Green Map Atlas 2004

Green Map Impacts


GreenMap.Org


Pemeta Hijau

You are here  : Home Catatan Hijau Perubahan Menuju Habitat dan Habitus Kota yang Berkelanjutan