| Hari Bumi 22 April 2008 |
|
|
|
| Catatan Hijau |
| Ditulis oleh Marco Kusumawijaya |
Buku-buku yang Saya BacaHari Bumi 2008, saya berada di LA untuk mencoba memetakan dan menilai apa saja prakarsa yang sedang dijalankan berkaitan dengan perubahan yang diperlukan dalam rangka mengubah kota (habitat) dan kehidupan kota (habitus) menjadi berkelanjutan. Saya terdorong oleh skeptisisme, keraguan, justru ketika lingkungan-isme makin (sudah?) menjadi arus utama, dan kita para aktivis veteran merasa pekerjaan kita seperti sudah setengah selesai, sebab semua orang sudah terseret atau tersohor oleh arus itu. Para bintang film, bintang TV, seniman, arsitek, sudah ikut. Para politisi sudah ikut. Bahkan juga beberapa partai politik. Peran para advokat awal menyurut, dan mungkin tidak lagi diperlukan oleh masyarakat. Mereka hanya perlu mempraktikkan kehidupan-hijau pada tingkat individu masing-masing. Banyak orang kini ikut rombongan vegetarianisme. Memang sayuran dapat dimakan mentah, atau kalaupun dimasak, hanya sedikit menimbulkan CO2. Daging lebih lama dimasak, sehingga lebih menimbulkan CO2. Tetapi bagaimana dengan orang Jepang, yang dapat saja makan daging tanpa dimasak? Lagipula, bagaimana kalau sayuran itu harus diangkut dari tempat jauh, sehingga peristiwa angkutan itu sendiri menimbulkan CO2? Kuncinya barangkali bukan apa yang di makan per se, tapi bagaimana makanan itu dihasilkan, dari mana datangnya. Sebuah buku, The Omnivore s Dilemma, yang membincangkan masalah yang jelas dari judulnya, ditulis oleh Michael Pollan, yang menulis juga artikel utama di Green Issue, The New York Times Magazine, April 20, 2008. Empat bangsa yang orang-orangnya paling menganggap masalah pemanasan buana sebagai masalah sangat serius adalah: Brazil (88%), Bangladesh (85%), Jepang (78 %), dan Perancis (68%). Amerika Serikat ada pada urutan kelima, tapi setelah loncat ke hanya 47%. Jader Diamond menulis buku Collapse: How Societies Choose to Fail or Succeed yang menunjukkan bangsa-bangsa di masa lalu hancur karena tidak merawat alam, atau tumbuh melampai kemampuan alam yang terus digerus dan tidak menerima re-investasi. Pada saat yang bersamaan saya membaca The Great Deluge oleh Douglas Brinkley tentang Badai Katrina. Hari Jumat yang lalu saya menghadiri pembukaan pameran After the Flood berisi ide-ide para arsitek tentang bagaimana membangun kembali New Orleans. Aneh rasanya, seperti saya hadir kembali pada bulan-bulan Januari-April 2005 di Aceh. Semua idealisme muncul, seperti vu: Make It Right (yayasan Brad Pitt), Green Reconstruction, dan lain-lain. Dari pengalaman di Aceh, saya tahu bagian yang menarik: ialah seberapa jauh semua idealisme itu dapat dilaksanakan, akan sangat tergantung kepada politik dan logistik. New Orleans bagi AS analog dengan Aceh bagi Indonesia. Masing-masing adalah bagian unik yang menyumbang sangat besar dan sangat penting kepada keberagaman masing-masing negara dan bangsa itu. Masing-masing juga seperti bangsa tersendiri karena keunikannya yang sangat jauh berbeda dari bagian-bagian lain di masing-masing negara itu. Secara ekonomi dan budaya, keduanya seperti terpinggirkan pula. Bedanya, Aceh menarik perhatian dan memiliki pol itical will yang tinggi karena ada kepentingan nasional . New Orleans (1,800 oran g meninggal, 300,000 jiwa dievakuasi, 80 % kota terendam) mungkin tidak mendapat perhatian sebesar itu. Robert Gottlieb menulis buku The Next Los Angeles tentang gerakan sosial sepanjang sejarah Los Angeles. Ada juga orang yang sama optimisnya dengan saya, bahwa dunia akan selamat karena gerakan sosial, bukan karena politik semata, atau dunia tidak akan hancur karena kita bersama-sama akan dapat menyelamatkannya . Mungkin kami sama-sama naif. Haha. Saya akan tahu besok lusa kalau dia datang memenuhi undangan kami untuk hadir pada suatu salon , ialah istilah disini untuk makan malam (atau makan siang) sambil diskusi, di rumah saya. Tentu saja kami juga mengundang Mike Davis, yang bukunya City of Quartz bernada sangat pesimis, khas seorang marxis. Marco Kusumawijaya |