| Nge-wine, Ngeju and Nyigar yang Kampungan |
|
|
|
| Catatan Hijau |
| Ditulis oleh Marco Kusumawijaya |
|
Nge-wine itu tindakan dan momen kampungan, kata teman saya seorang Perancis. Maksudnya, nge-wine itu, menurutnya, tidak ada canggihnya sama sekali dalam budaya mereka. Melalui minum wine, sama halnya dengan makan keju dan salada, mereka mengenang kehidupan tani di kampung, yang bagaimana pun asal kita semua. Dan Perancis memang sebuah negeri yang sangat menghargai para petaninya, penghasil keju dan wine yang enak-enak itu. Kalau para petani mogok, seperti sudah sering terjadi, hidup bisa berabé mereka antara lain melempar tomat dan butiran gandum atau buah anggur ke jalan-jalan tapi dipandang dengan simpatik, tidak dipentung seperti demonstran politik lainnya. Ketika nge-wine, benak orang Paris jadi romantis karena mengenang kehidupan tani pedesaan, bukan jadi sensual metropolitan, seperti kalau orang Jakarta nge-wine karena benaknya jadi canggih mengenang masa liburnya di Paris, yang biasanya habis di shopping juga. Itu kata teman saya, yang memang benar-benar lahir dan besar di wilayah penghasil anggur champagne. Heran, katanya. Mungkin Jepang juga punya penghargaan yang setingkat untuk para petaninya. Maka sake, yang tidak lain juga berasal dari hasil tani setempat, mendapat tempat yang baik. Saya kira di Indonesia juga ada kebiasaan yang baik itu. Baru-baru ini saya menginap di sebuah biara pastor-pastor di Sumatera Utara. Sesudah makan malam, merupakan kebiasaan yang biasa saja untuk minum tuak dari pohon siwalan. Saya sih terhenyak menjadi merasa romantis dan minum dengan rasa hormat dan tegun. Nikmat, karena perasaan haru dan romantis yang bercampur rasa alcohol yang manis pahit itu. Terlintas juga di benak, rasa kampungan yang negatif, dibandingkan dengan rasa kampungan yang canggih kalau minum wine. Tapi akhirnya rasa-rasanya saya bisa cukup baik menghargai dan menikmati tuak sama seperti saya menikmakti wine, karena justru adanya kesadaran perspektif kampungan tadi, meski memang tuak, setidaknya yang saya minum itu, tidak dibuat dengan proses yang serawit wine. Bir dan keju di Belgia ada yang dibuat khusus oleh biara-biara pastor-pastor katolik. Masing-masing dengan bahan (segala macam buah dan gandum, tergantung musim), resep dan teknik sendiri, sehingga menghasilkan banyak sekali merek dari bir biara ini. Bir ini, dalam kemasan botol kecil, sering lebih mahal dari wine kelas rendah dan menengah. Juga kejunya sangat beragam, dari yang bau dan rasanya menyengat sampai ke yang hambar asam. Wine, keju, tuak, salada, dan seharusnya semua makanan, adalah momen-momen kita menelanjangi fetishisme, karena makanan-makanan segar itu tidak bisa tidak pasti (seharusnya) mengingatkan kita akan alam, proses, dan mereka yang terlibat di dalamnya. Ingatan inilah yang oleh teman saya, yang besar di kampung Perancis itu, yang membuat kita merasa haru, hormat, dan romantis. Sebab? Sebab makanan tidak dapat berbohong. Apapun kemasannya, ia berasal dari tanah dan tumbuhan, dari alam, dan prosesnya, secanggih apapun, memerlukan kerja khas paman petani yang hanya dapat diselenggarakan di kampungnya sendiri, dekat-dekat tanah tempat ia bercocok tanam. Bagaimana dengan nyigar? Apakah analogi dapat diterapkan? Setelah membaca riwayat Dji Sam Soe, saya yakin dapat. Saya bukan perokok rutin. Tapi saya merasa dapat menikmati banyak merek rokok karena menghargai proses, riwayat, dan bahan-bahan serta teknik prosesnya. Saya merasa ia kini bagian dari pusaka, identitas budaya Indonesia yang berharga. Mungkin saya dapat menikmati cigar pula, sambil mengenang para petani Cuba, atau seluruh bangsa cuba yang mengharukan itu. Inilah satu-satunya negara komunis yang tersisa setelah Cina. Ia membuktikan pelayanan kesehatan yang terbaik di seluruh dunia. Masyarakat sipilnya juga berhasil mengembangkan gerakan Peta Hijau yang paling luas dan berdampak pada perbaikan lingk ungan secara nyata. Kalau saya mengisap cerutu, saya ing in meningkatkan kenikmatan dengan rasa keindahan yang haru itu, yang berdasarkan perspektif dan pengetahuan akan suatu bangsa, suatu kebudayaan, suatu etos kerja yang mengolah pemberian alam dengan penuh hormat dan kepandaian. LA, 12 April 2008 |