| Danau Toba dan Pulau Samosir, 2-4 Maret 2008 |
|
|
|
| Catatan Hijau |
| Ditulis oleh Marco Kusumawijaya |
|
Antara 74,000 dan 75,000 tahun yang lalu, sebuah gunung yang sangat besar meletus, dindingnya runtuh, dan membentuk kaldera yang kini di sebut Danau Toba. Dalamnya 500 meter lebih pada titik terdalam di bagian utara. Di tengah-tengahnya sebuah daratan terangkat menjadi sebuah pulau, yang kini disebut Pulau Samosir. Puncak pulau ini berketinggian sekitar 1,500 m dpl, jadi sekitar 600 meter di atas permukaan air Danau Toba. Letusan gunung ini menggelapkan bumi selama bertahun-tahun, sehingga menyebabkan jaman es, yang mengurangi jumlah manusia menjadi hanya sekitar 10,000 jiwa, dengan hanya 1,000 pasangan perempuan-pria dewasa di antaranya. Mereka inilah yang menjadi nenek moyang semua umat manusia sekarang. (Jumlah manusia berkurang drastis lagi setelah terjadi pemanasan global terakhir pada sekitar 11,000 tahun yang lalu, yang menyebabkan pemisahan pulau-pulau di Nusantara karena naiknya permukaan air laut). Danau Toba terkenal. Ia sumber air untuk permukiman di sekitarnya, antara lain kota peristirahatan Parapat. Ia juga sumber air untuk Bendungan Asahan, yang memiliki mesin pembangkit listrik tenaga air yang besar. Listriknya digunakan antara lain untuk pabrik peleburan biji aluminium. Yang tidak terkenal adalah bahwa di Pulau Samosir itu terdapat juga beberapa danau kecil pada ketinggian antara 1,200 hingga 1,500 meter dpl. Sama seperti Danau Toba, permukaan air danau-danau ini menurun terus dari tahun ke tahun. Banyak kesaksian penduduk setempat dikemukakan tentang hal ini.
Penduduk di Pulau Samosir mulai kekurangan air, terutama yang tinggal di dataran tinggi pulau tersebut yang tidak terlayani perusahaan air minum. Mereka mengandalkan air danau-danau kecil tersebut. Karena danau makin dangkal, maka makin keruh pula airnya. Mereka harus menggunakan air itu untuk berbagai keperluan sekaligus: minum, cuci, ternak, bertani. Kerbau juga berkubang di tepian danau-danau ini. Mahatma Gandhi dulu pernah berkata, Di dunia ini ada orang-orang yang begitu laparnya, sehingga Tuhan tidak dapat hadir dalam bentuk lain kecuali makanan. Saya rasa mungkin di Pulau Samosir ini Tuhan cukup hadir sebagai air saja, sebagai alam, yang mencukupi dan seperti sediakala sebelum ada pemalakan hutan dan pencemaran air oleh industri bubur kertas, perikanan, maupun pertanian yang menggunakan bahan-bahan tidak-alamiah.
Tidak banyak informasi tentang sumber air yang memasok danau-danau ini. Setidaknya ada dua teori. Yang pertama bersifat lokal , ialah bahwa air untuk tiap danau berasal dari aliran-aliran kecil yang memuara kepadanya. Tapi belum ada data yang pasti. Teori kedua bersifat menyeluruh mengatakan air berasal dari dalam tanah yang menyembur karena tekanan air dari Danau Toba. Sebab itu ketika air Danau Toba turun, air danau-danau ini ikut turun pula. Masalah dengan teori kedua ini adalah bahwa se
lisih tinggi antara permukaaan da
nau-dan
au itu dan Danau Toba adalah antara 300 hingga 600 meter. Ordo Fransiskan sendiri didirikan oleh Santo Franciscus dari Assisi yang hidup sekitar tahun 1181 1226. Ia Santo pelindung hewan. Oleh gerakan pecinta alam ia dianggap juga sebagai pelindung lingkungan. Ini karena falsafahnya bahwa semua ciptaan adalah berasal dari satu Pencipta, dan karena itu semua bersaudara. Dia dikabarkan dapat bersahabat dengan semua hewan, termasuk srigala, dan bahkan berbicara dengan mereka.
Kami merasakan ada kemendesakan di Samosir ini agar Peta Hijau dapat berguna bukan hanya untuk merekam informasi lingkungan, tetapi menjadi alat atau bagian dari upaya mengembalikan keutuhan lingkungan agar air danau-danau dapat bermanfaat, untuk segera menolong keadaan rakyat yang sudah mulai kritis. Saya meminjam istilah keutuhan lingkungan dari nama organisani yang didirkan oleh pastor-pastor Kapusin itu: Yayasan Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (Justice, Peace, and Integrity of Creation). Konsep Keutuhan Ciptaan tiba-tiba mengesan dalam di benak saya. Saya kira karena setidaknya dua hal. Pertama karena kenangan akan Santo Franciscus dengan falsafahnya bahwa kita semua berasal dari Satu yang Sama. Kedua karena ekologi tidak bisa tidak memang mengharuskan kita berpikir selalu dalam keutuhan , kemenyeluruhan , semuanya saling-terkait, tergantung. Keadaan kesaling-tergantungan alam dan manusia di Samosir sangat jelas menjadi contoh dari hal itu. Santo Franciscus mengajarkan agar semua ciptaan saling mengasihi. Itu selalu mengandaikan tanggung-jawab lebih besar pada manusia, karena ia berbudi. Dengan budi, kata Sutan Takdir Alisjahbana, yang 100 tahun kelahirannya kita peringati tahun ini, manusia kini menentukan evolusi mau kemana . Betapa menakutkan tanggung jawab itu! Marco Kusumawijaya Album foto kegiatan bisa dilihat di sini.
|